DIALEKSIS.COM | Aceh - Libur telah usai, namun sebagian orang masih enggan kembali ke rutinitas. Apalagi, adanya kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) membuat suasana libur terasa seolah belum benar-benar berakhir.
Dalam tinjauan psikologis, kondisi seseorang yang masih merasa ingin terus berlibur disebut dapat berkaitan dengan holiday blues syndrome, yaitu keadaan emosional yang muncul menjelang, selama, atau setelah masa liburan. Fenomena ini kerap ditandai dengan perasaan sedih, hampa, stres, hingga kesepian.
Menanggapi hal itu, psikolog Aceh Dra. Nur Janah Alsharafi, Psikolog, MM, yang juga Direktur Psikodista Konsultan, menjelaskan bahwa holiday blues syndrome bukan sekadar gangguan suasana hati, melainkan juga dapat muncul akibat ketidakseimbangan antara harapan, makna, dan pengalaman emosi positif saat liburan.
“Liburan sering dibayangkan sebagai momen kebahagiaan maksimal, kebersamaan bersama keluarga, dan suasana yang selalu gembira. Namun dalam kenyataannya, liburan juga dapat menghadirkan kelelahan fisik, psikis, dan sosial, tekanan finansial, bahkan rasa kesepian. Ketika ada jarak antara harapan dan kenyataan, kondisi itu bisa memicu holiday blues syndrome,” ujarnya kepada Dialeksis saat diminta tanggapannya, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan, semakin besar kesenjangan antara ekspektasi dan realitas liburan, semakin besar pula peluang seseorang mengalami kondisi tersebut. Menurutnya, pengalaman liburan juga kerap dianggap kurang lengkap ketika tidak menghadirkan peak experience atau pengalaman puncak yang bermakna.
“Liburan semestinya memberi pengalaman yang membekas secara positif, seperti silaturahmi yang tulus, kehangatan keluarga, dan ketulusan persahabatan. Pengalaman-pengalaman seperti itu akan memberi kepuasan batin dan membantu seseorang lebih siap kembali menghadapi kehidupan nyata. Sebaliknya, jika liburan justru dipenuhi perbandingan sosial atau tuntutan yang melelahkan, maka liburan bisa terasa singkat dan belum memberi makna yang cukup,” jelasnya.
Nur Janah juga mengingatkan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi holiday blues syndrome. Di antaranya adalah dengan menurunkan ekspektasi bahwa liburan harus selalu sempurna, melatih rasa syukur atas momen-momen kecil yang dijalani, serta mengisi liburan dengan aktivitas yang bermakna seperti mengunjungi keluarga, wisata religi, berbagi, wisata sejarah, maupun menikmati alam.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memprioritaskan kualitas pengalaman dibanding sekadar kuantitas pertemuan.
“Bertemu sedikit orang, tetapi memberi dampak positif, tentu lebih membahagiakan daripada banyak pertemuan yang justru menguras energi. Yang tidak kalah penting adalah self-compassion, yaitu menerima bahwa rasa sedih setelah liburan adalah hal yang normal,” katanya.
Dengan demikian, lanjutnya, seseorang dapat menjadikan energi positif dari liburan sebagai bekal untuk kembali menjalani aktivitas harian dengan lebih tenang dan seimbang. [arn]