DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, A. Malik Musa, S.H., M.Hum, memberikan ceramah agama di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah pada Kamis malam, dalam rangka memperkuat pemahaman ketaqwaan umat Islam selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan.
Dalam tausiyahnya yang disampaikan penuh khidmat dihadiri Dialeksis, A. Malik Musa menghimbau kepada jamaah untuk mengulang kaji dan memperteguh ketaqwaan kepada Allah SWT sepanjang bulan Ramadan. Menurutnya, Ramadan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki perilaku, moral, dan persaudaraan sesama umat Muslim.
“Ramadan adalah momen ketaqwaan kepada Allah SWT. Kita diuji dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, mari kita kuatkan keimanan bukan hanya di mulut atau ritual, tetapi di hati dan perilaku nyata sehari-hari,” tegasnya.
Dalam ceramahnya, Ketua PWM Aceh juga menyinggung fenomena perbedaan pandangan dalam praktik ibadah terutama perbedaan mazhab fiqh yang sering kali menjadi sumber konflik kecil di tengah masyarakat. Beliau mengingatkan bahwa perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam Islam, dan bukan alasan untuk memecah belah umat.
“Tolong damai dalam perbedaan. Jangan biarkan pandangan yang berbeda dalam menjalankan ibadah, termasuk puasa, menjadi pemecah persatuan umat Islam. Yang terpenting adalah sikap sabar, saling menerima gagasan dan perbedaan yang kadang tidak sesuai dengan hati kita,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perpecahan yang terjadi hanya karena perbedaan pandangan fiqh atau amaliyah, terutama di bulan Ramadan, justru mencederai semangat beribadah serta menodai nilai luhur ketaatan kepada Allah SWT.
A. Malik Musa kemudian mengajak jamaah untuk memahami ibadah puasa sebagai sarana untuk merasakan kehidupan umat yang kurang mampu. Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjadi refleksi jiwa untuk lebih peka terhadap derita sesama.
“Ketika kita berpuasa, kita diajak untuk merasakan bagaimana saudara kita yang lapar dan miskin. Dengan memahami rasa lapar itu, kita diharapkan menjadi pribadi yang lebih peduli, saling membantu, dan berlomba dalam solidaritas sosial,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan alasan kesehatan seperti sakit maag atau kurang darah sebagai pembenaran untuk meninggalkan puasa tanpa pertimbangan yang benar, serta tidak memutarbalikkan keadaan agar terlihat lebih mudah meninggalkan ibadah.
Di akhir ceramahnya, Ketua PWM Aceh mendorong warga Muhammadiyah dan jamaah masjid untuk memperbanyak tadarus Al-Qur’an selama Ramadan sebagai upaya memperdalam pemahaman terhadap Islam.
“Mari kita genapkan ibadah dengan memperbanyak tadarus, supaya kita bukan hanya berpuasa secara jasmani, tetapi juga memahami Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup,” pungkasnya.