Menjalankan Puasa Ramadhan dengan Optimal, Ini Nasihat Tgk. H. M. Faisal Ali
Font: Ukuran: - +
Reporter : Ratnalia

Tgk. H. M. Faisal Ali, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh. Foto: for Dialeksis.com
DIALEKSIS.COM | Aceh - Bulan Ramadhan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan melalui ibadah puasa, salat, dan amal sosial. Namun, tak jarang praktik puasa hanya sekadar menahan lapar dan dahaga tanpa diiringi pemahaman mendalam tentang makna spiritualnya.
Menyikapi hal ini, Tgk. H. M. Faisal Ali, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh, membagikan sejumlah nasihat agar ibadah Ramadhan lebih bermakna dan berkah.
Tgk. Faisal menekankan, kunci utama puasa Ramadhan terletak pada niat yang ikhlas dan pemahaman akan syariat.
“Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan dari gibah, serta memperbanyak zikir dan tadarus Al-Qur’an,” ujarnya kepada Dialeksis, Jumat (28/02/2025)
Ia mengingatkan umat Islam untuk mempelajari hukum-hukum puasa, seperti syarat sah, hal yang membatalkan, dan sunnah-sunnahnya. “Banyak yang berpuasa tapi tidak tahu bahwa marah tanpa alasan bisa mengurangi pahala puasa. Ilmu harus jadi fondasi sebelum beramal,” tegasnya.
Di sisi kesehatan, Tgk. Faisal mengimbau masyarakat menghindari kebiasaan buruk seperti overeating saat berbuka.
“Rasulullah SAW menganjurkan berbuka dengan kurma dan air putih, bukan makanan berat berlebihan. Sahur juga harus bergizi seimbang agar tubuh tetap bugar,” katanya.
Ia menyarankan untuk memperbanyak konsumsi buah, sayur, dan protein saat sahur. “Hindari gorengan dan makanan tinggi garam yang memicu dehidrasi. Puasa seharusnya membuat tubuh sehat, bukan lemas,” tambahnya.
Ramadhan, menurut Tgk. Faisal, adalah waktu tepat untuk mempererat hubungan sosial. “Perbanyak sedekah, berbagi takjil gratis, dan menyantuni anak yatim. Di Aceh, tradisi peusijuek (kenduri) dan meugang harus dimaknai sebagai sarana memperkuat ukhuwah,” ujarnya.
Ia juga mengkritik fenomena berpuasa tapi masih melakukan praktik korupsi atau menyakiti orang lain. “Puasa harus menjadi tameng dari perbuatan tercela. Jangan sampai kita rajin salat tarawih, tetapi di siang hari menipu atau menzalimi sesama.”
Tgk. Faisal menyoroti budaya konsumtif yang kerap meningkat saat Ramadhan. “Banyak keluarga membeli makanan berlebihan untuk berbuka, lalu akhirnya terbuang. Ini bertentangan dengan semangat Ramadhan yang mengajap kesederhanaan,” ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat mengikuti sunnah Nabi dengan berbagi kelebihan rezeki. “Daripada uang dihabiskan untuk kue-kue mahal, lebih baik dialihkan untuk membantu fakir miskin atau pembangunan masjid.”
Hal lain disampaikan Tgk. Faisal mendorong umat Islam meningkatkan ibadah malam, seperti salat tarawih, tahajud, dan iktikaf. “Malam Ramadhan adalah saat mustajab untuk berdoa. Jangan sampai kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermedsos atau begadang tidak jelas,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar tidak meninggalkan salat berjemaah. “Salat lima waktu adalah pondasi. Jangan karena puasa, kita malah meninggalkan salat Subuh atau Zuhur di masjid.”
Menutup wawancara, Tgk. Faisal berpesan: “Ramadhan adalah bulan latihan. Jika kita bisa disiplin dan istikamah di bulan ini, insya Allah kebiasaan baik itu akan terbawa hingga bulan-bulan berikutnya. Jadikan puasa sebagai jalan meraih takwa, bukan sekadar rutinitas tahunan.”
“Dengan mengikuti nasihat ini, diharapkan umat Islam di Aceh dan seluruh Indonesia dapat menjalankan ibadah Ramadhan secara optimal, baik secara spiritual maupun sosial,” tutupnya.
Berita Populer
.jpg)
