DIALEKSIS.COM | Aceh - Momentum pemberian santunan kepada anak yatim di bulan Ramadhan kembali menjadi perhatian publik. Namun, di balik semangat berbagi, praktik eksploitasi momen suci ini untuk kepentingan pencitraan mengemuka. Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sekaligus Ketua PWNU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali, menyoroti kecenderungan sejumlah pihak, termasuk elite politik, yang menjadikan kegiatan sosial sebagai alat membangun citra.
“Secara agama, kita diwajibkan peduli dan menyayangi anak yatim. Tapi niatnya harus murni karena Allah, bukan untuk pamer atau pencitraan,” tegas Faisal Ali kepada Dialeksis saat dihubungi, Rabu (26/03/2025).
Menurutnya, nilai keikhlasan dalam beramal kerap tergerus oleh ambisi mengejar simpati publik, terutama di bulan yang seharusnya menjadi ladang pahala berlipat.
Lem Faisal sapaan akrab Tgk Faisal mengaku prihatin melihat anak yatim kerap “dijadikan properti” dalam kegiatan seremonial.
“Mereka seolah dieksploitasi demi menunjukkan seolah si donatur peduli. Padahal, amal seperti ini tak bernilai pahala jika niatnya bukan untuk Allah,” ujarnya.
Ia menegaskan, amal yang disertai riya (pamer) hanya akan menjadi sia-sia, sekalipun secara lahiriah terlihat membantu.
Lem Faisal menekankan, kepedulian terhadap anak yatim tak boleh berhenti saat Ramadhan usai. “Ini harus jadi komitmen berkelanjutan, baik dalam pendidikan, perlindungan, maupun pemenuhan hak mereka. Jangan hanya ramai di bulan puasa, lalu terlupakan setelahnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tak terjebak pada formalitas beramal. “Bulan Ramadhan memang istimewa, tapi keikhlasan harus jadi fondasi. Jangan sampai sedekah kita justru menjadi alat memperkaya citra,” tambahnya.
Soal publikasi kegiatan sosial melalui media, Faisal tak menampik bahwa hal itu bisa menjadi sarana mengajak lebih banyak orang berbuat baik. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga niat.
“Mengundang media untuk menginspirasi boleh, asal tidak disalahgunakan sebagai ajang pamer. Di situlah ujian keikhlasan kita,” paparnya.
Di akhir pesannya, Faisal mengajak seluruh pihak, terutama para dermawan dan politisi, untuk merenungkan esensi beramal.
“Kebaikan yang tulus akan abadi pahalanya. Sedangkan yang dibuat untuk pencitraan, hanya akan jadi tontonan sesaat,” pungkasnya.