Senin, 28 September 2026
Beranda / Pertahanan dan Keamanan / KRI Sriwijaya Resmi Perkuat TNI AL, Kapal Induk Pertama Indonesia

KRI Sriwijaya Resmi Perkuat TNI AL, Kapal Induk Pertama Indonesia

Minggu, 27 September 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kapal induk pertama setelah KRI Sriwijaya-100. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Indonesia resmi memiliki kapal induk pertama setelah KRI Sriwijaya-100 dikukuhkan sebagai bagian dari armada TNI Angkatan Laut. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto memimpin peresmiannya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026). 

Kapal buatan Fincantieri tersebut sebelumnya beroperasi di bawah bendera Angkatan Laut Italia dengan nama ITS Giuseppe Garibaldi. Pemerintah Italia menyerahkannya kepada Indonesia melalui skema hibah.

Dalam keterangan resmi Kementerian Pertahanan pada 24 September 2026, kehadiran KRI Sriwijaya disebut sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI. Kapal ini diproyeksikan menjadi pusat komando operasi laut, mendukung diplomasi pertahanan, sekaligus menjalankan bantuan kemanusiaan. 

“Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh,” kata Agus dalam amanat peresmian, sebagaimana diberitakan TVRI.

Menurut Agus, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dan perkembangan lingkungan strategis menuntut peningkatan kesiapan serta kemampuan operasional TNI. 

Perjalanan kapal menuju Indonesia dimulai dari Pelabuhan Taranto, Italia, pada 24 Agustus 2026. Kemhan mencatat pelayaran sejauh sekitar 6.870 mil laut itu melewati Terusan Suez, Laut Merah, dan Samudra Hindia sebelum kapal tiba di Tanjung Priok pada 18 September 2026.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyambut kedatangannya dan meninjau sejumlah bagian kapal, termasuk geladak penerbangan, anjungan, pusat informasi tempur, serta hanggar. 

KRI Sriwijaya membawa riwayat panjang pengabdian di laut. Berdasarkan publikasi resmi Angkatan Laut Italia, Marina Militare, Giuseppe Garibaldi diluncurkan pada 1983 dan mulai berdinas pada 1985. Artinya, kapal tersebut telah melewati sekitar empat dekade sejak awal masa dinasnya sebelum bergabung dengan Indonesia. 

Dari segi ukuran, profil kapal yang diberitakan berbagai media pada 22 September 2026 mencatat panjang 180,2 meter, dengan panjang dek penerbangan sekitar 173,8 meter. Kecepatan maksimum dalam spesifikasinya mencapai 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam.

Kemampuan membawa wahana udara menjadi bagian penting dari rencana pemanfaatannya. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan bahwa penempatan helikopter dan pesawat tanpa awak atau drone menjadi fokus untuk mendukung operasi militer selain perang, termasuk misi kemanusiaan.

Dalam keterangannya kepada wartawan yang diberitakan pada 24 September 2026, Ali menjelaskan helikopter dapat membawa logistik dari kapal menuju lokasi bencana. 

Kemampuan tersebut sejalan dengan rencana Kemhan memanfaatkan kapal untuk mendistribusikan bantuan ke wilayah terpencil. kemhan.go.id

Ali juga menyampaikan harapan agar kapal dilengkapi pesawat tempur yang sesuai dengan kemampuan geladaknya. Namun, rencana tersebut masih bergantung pada kondisi anggaran dan pertimbangan lainnya. 

Setelah peresmian, penyesuaian perangkat kapal masih menjadi pekerjaan TNI AL. Ali menyatakan peralatan komunikasi peninggalan Italia yang menggunakan standar NATO akan diganti dengan sistem yang digunakan Indonesia.

“Butuh waktu mungkin empat bulan atau lima bulan sudah bisa operasional,” ujar Ali kepada awak media, Kamis (24/9/2026).

Estimasi itu disampaikan dalam konteks penggantian teknologi komunikasi. Ali menyebut pengerahan kapal untuk menjalankan berbagai misi sesuai perintah pimpinan dilakukan setelah proses tersebut selesai. 

Adapun nama Sriwijaya dipilih dengan merujuk pada sejarah kekuatan maritim Nusantara. Menurut Ali, penamaan itu membawa harapan agar Indonesia kembali memperkuat perannya sebagai bangsa maritim.

“Harapannya dengan penamaan itu, kita akan mengembalikan keemasan atau kejayaan kemaritiman Nusantara seperti yang lalu ya,” kata Ali menutup komentarnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI