Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Walau Dibully Haili Yoga Tetap Mengabdi

Walau Dibully Haili Yoga Tetap Mengabdi

Minggu, 28 Desember 2025 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga.

DIALEKSIS.COM| Indept - Nitizen banyak yang membullynya, namun ada juga yang membela. Dia dituding lamban dalam menangani bencana, bupati cengeng dan apa pula yang menyebutnya pencitraan, bupati konten.

Bahkan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, sempat kecewa kepadanya. Mualem, panggilan gubernur sempat menumpahkan kekecewaanya menjawab media, ketika mendengar ada bupati yang “lari”dari tanggung jawab dan ada yang menyatakan ketidakmampuanya menangani darurat bencana.

Dia meminta bupati dan walikota yang "cengeng" atau tidak mampu menangani bencana banjir dan longsor di Aceh agar mundur dari jabatannya.

Bagaimana hingar bingarnya soal Haili Yoga, dibully para netizen, namun ada juga yang membela. Apa sikap dan yang dilakukan Bupati Aceh Tengah, serta Wakilnya Muchsin Hasan? Bagaimana keadaan Aceh Tengah yang sudah diporak porandakan bencana sebulan ini. Dialeksis.com merangkumnya.

Dinilai Lamban

Awal musibah banjir bandang yang melanda seluruh penjuru Aceh Tengah, negeri penghasil kopi ini benar- benar mencekam. Listrik padam, rakyat dibaluti ketakukan dalam derasnya hujan. Jaringan komunikasi terputus. Lebih setengah kampung yang ada di negeri kopi ini terisolir.

Aceh Tengah terkurung dengan dunia luar. Tidak ada akses dari dan keluar Aceh Tengah. Ada kepanikan ketika mendapat informasi berantai dari orang-orang yang ditemui. Suasana tegang. Ketika matahari sudah keluar dari peraduan masyarakat berusaha mencari informasi.

Kota Takengon saja dikepung banjir dan longsor di kawasan pinggiran. Kabar tentang korban dan orang hilang yang dilarikan air deras dan pekat, semakin membuat ketegangan itu menakutkan. Apalagi ketika malam, gelap gulita. Informasi juga tidak ada kejelasan.

Siapa yang tidak panik? Ketika semuanya terputus, komunikasi tidak ada, apa yang harus dilakukan? Bupati Aceh Tengah, sebagai manusia juga sudah pasti cemas dan panik, apalagi di pundaknya dibebankan tanggungjawab untuk mengatasi keadaan.

Haili Yoga menggelar rapat dan tetap mengikuti perkembangan, sampai tengah malam. Pagi harinya kembali digelar pertemuan. Para kepala dinas dan staf yang berkaitan dengan bencana dikumpulkan. Namun tidak semuanya bisa hadir, ada diantara mereka tidak tahu informasi dan ada yang terperangkap, putusnya akses.

Dialeksis.com yang melihat suasana rapat itu, tergambar ketegangan. Haili Yoga mengharapkan semuanya bergerak untuk memberikan bantuan darurat kepada masyarakat yang tertimpa musibah. “Kita harus hadir di tengah masyarakat yang terimpa musibah,”sebut Haili.

Haili dalam rapat sering marah, dia menginginkan semuanya bergerak. Banyak stafnya yang kena “semprot”. Di lain sisi Bupati Aceh Tengah senantiasa berkomunikasi dengan pihak luar, mengambarkan keadaan Aceh Tengah dan meminta bantuan, agar keadaan darurat ini cepat teratasi.

Namun bagaimana melakukanya, banyak akses jalan terputus, banjir dan longsor ada di seluruh penjuru Aceh Tengah. Kawasan mana yang akan didahulukan, semua penjuru porak poranda.

Aceh Tengah terkurung, jalur darat tidak memungkinkan. Untuk ke Bener Meriah saja harus terlebih dahulu membersihkan jalan yang dipenuhi timbunan longsor, bukan di satu titik, tetapi puluhan titik.

Belum lagi persoalan tehnis. Alat berat yang akan dikerahkan tidak memiliki minyak. Lengkap sudah penderitaan itu. Dalam keadaan kritis itu, Bupati memerintahkan kepala RSUD Datu Beru, untuk berjuang dengan segala kekuatan, agar rumah sakit tidak kolaps. Walau dengan susah payah, RSU ini tidak kolaps dalam bencana yang sangat parah ini.

Di lain sisi masyarakat juga panik, banyak saudara dan kerabatnya yang tidak diketahui nasibnya. Ada yang terperangkap di luar daerah, tidak bisa kembali ke Aceh Tengah, ada yang terperangkap dikampung yang terisolasi. Kabar beritanya tidak ada, apakah mereka selamat dari amukan alam ini, atau tinggal nama.

Starlink menjadi tujuan utama untuk mendapatkan informasi. Itu juga terbatas hanya di tempat tertentu. Mulailah masyarakat menilai Bupati Aceh Tengah lamban dalam menagani darurat bencana. Apalagi pemerintah pusat bekerja belum maksimal dan tidak menetapkan sebagai bencana nasional.

Sementara di lain sisi, Haili yang mengerahkan segala kemampuan dan kekuatanya, tidak mampu berbuat banyak. Fasilitas di Aceh Tengah terbatas untuk menangani darurat bencana sesuai dengan standar.

Aceh Tengah tidak mampu menangani bencana dengan cepat dan sesuai standar dengan kondisi parahnya bencana yang melanda. Dalam perjalanan waktu, ahirnya Bupati Aceh Tengah menyatakan ketidakmampuanya menangani bencana sesuai dengan standar kedaruratan.

Tentunya pernyataan ini menaruh harapan besar, agar pihak dari luar (Provinsi Aceh dan Pusat) turun tangan mengatasi bencana yang melanda seluruh penjuru negeri. Di lain sisi, bukan hanya mereka yang terkena musibah terancam kelaparan, namun seluruh rakyat Aceh Tengah yang terkurung dengan dunia luar, semuanya terkena dampak.

Bahan kebutuhan pokok “hilang”dari Aceh Tengah, BBM tidak ada, listrik padam, masyarakat demi bertahan hidup dan mendapat bantuan, harus berjalan kaki puluhan kilometer, bahkan ada yang berhari hari. Bagaikan migrasi di safana Afrika, berjuang untuk hidup dalam tantangan maut.

Bantuan masa panik yang diberikan pemerintah Aceh Tengah masih sangat sulit didistribusikan, terutama di kawasan yang terisolasi. Bantuan itu juga jumlah sedikit, tidak memadai. Jumlah pengungsi pada awal-awal musibah mencapai setengah jumlah penduduk Aceh Tengah.

Perkampungan penduduk rata di sapu banjir bandang, bahkan banyak perkampungan yang hilang. Tenaga relawan lokal sangat terbatas, mengharapkan relawan dari luar, mereka belum bisa masuk ke Aceh Tengah yang terkurung.

Dampak dari pernyataan Bupati Aceh Tengah tentang ketidakmampuanya dalam menangani bencana sesuai standar, menyebabkan dia banyak yang membully dengan sebutan bupati “cemen”. Ada yang memintanya untuk mundur dari jabatan bupati.

Sampai akhirnya Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menegaskan pemimpin harus proaktif dan hadir di tengah krisis, bukan menghindar atau menyerah.

Pernyataan ini muncul setelah beberapa kepala daerah dinilai tidak sigap menghadapi bencana yang melanda Aceh pada Desember 2025, termasuk Bupati Aceh Selatan yang sempat mengajukan izin umrah saat darurat.

Untuk Aceh Tengah, bantuan via udara yang diberikan pemerintah pusat dan sumbangan para relawan, itu juga kesulitan untuk dibawa ke Takengon. Bantuan menumpuk di Bandara Rembele. Persoalan minyak dan pembersihan jalan harus dilakukan.

Walau dalam keadaan darurat dan semuanya serba terbatas, Haili Yoga yang mendapat bully, namun dia tetap berbuat. Dia berupaya hadir di tengah masyarakat yang disapu prahara ini.

Haili bagaikan mendapatkan “darah segar”, ketika Perwakilan BNPB Pusat, Brigjen M. Ismed bermarkas di Pendopo Bupati Aceh Tengah.

Berbagai upaya dilakukan Haili, membangun komunikasi dengan pihak luar meminta bantuan, mengambarkan keadaan ril di Aceh Tengah yang disapu bencana di segala penjuru. Komunikasi yang dibangun Haili membuahkan hasil.

Presiden Prabowo yang sudah hadir ke Aceh, kembali hadir di Aceh Tengah untuk melihat alam Gayo yang porak-poranda. Sehari sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo juga mengunjungi pengungsi di Masjid Al-Abrar, Kebayakan.

Haili juga mengerahkan berbagai kekuatanya untuk membebaskan masyarakat yang terisolasi. Mengirimkan bantuan langsung kepada mereka yang terkena musibah, dia berupaya hadir di tengah masyarakat yang memungkinkan untuk dijangkau, walau berada di daerah terisolasi.

Ketika menaiki sling menerobos isolasi, Haili memberikan semangat, sambil melepaskan tawa. Fotonya ketawa Haili beredar di media sosial. Dia kembali di bully, ada yang menyebutnya, tega seorang bupati masih bisa tertawa saat negeri dilanda bencana.

Demikian ketika memberikan bantuan langsung untuk bersih-bersih rumah terkena bencana. Haili mengenakan pakaian salah satu partai, walau topi di kepalanya mengenakan atribut BPBD dan symbol melati seorang bupati.

Upaya yang dilakukan Haili untuk menerobos berbagai penjuru kawasan yang terisolasi, hadir langsung di tengah masyarakat, banyak di ekspose di media sosial dan maenstrem. Mulai muncul juga tudingan kepadanya, sebagai bupati konten dan pencitraan.

Mendapat kritikan bahkan ada yang membully, Haili Yoga sebagai orang nomor satu di Aceh Tengah, tidak terlalu menghiraukanya. Dia sangat fokus dan lebih mengutamakan rakyatnya yang tertimpa musibah.

“Kita bekerja untuk rakyat, berupaya hadir di tengah rakyat yang dilanda musibah. Meringankan beban mereka, mengerakan segala kekuatan, dengan semangat yang tinggi dan tidak kenal lelah, karena masyarakat sangat mengharapkan kita,”sebut Haili Yoga, menjawab Dialeksis.com, via selular.

Menurutnya dia melakukan pekerjaan sebagai pengabdian kepada masyarakat, bukan kepada mereka yang membully. “Rakyat sangat membutuhkan kita, sudah menjadi kewajiban kita melakukan segala upaya demi masyarakat”.

Haili melakukan apa yang mampu dia berikan kepada masyarakat, dengan segala keterbatasan fasilitas dalam menangangi bencana.

Demikian dengan Muchsin Hasan, Wakil Bupati Aceh Tengah, dia juga mengikuti jejak Haili Yoga, sering turun ke lapangan. Menembus kawasan yang sulit, demi menyapa dan mengantarkan bantuan untuk rakyatnya.

Bahkan Muchsin nyaris terkubur di sungai deras Bergang, Ketol, ketika sling yang menyeberangkanya, tali pengikatnya sebelah terputus. Tuhan masih memberikan kesempatanya untuk hidup, untuk menjalani tugas sebagai hamba.

Namun pakaian dan sepeda motor Muchsin dengan warna kuning loreng, mengambarkan dia bagaikan mewakili partai, juga banyak mendapat sorotan. Dia itu milik publik, bukan lagi membawa bendera partai.

Tidak ketinggalan Fitria Mugi, ketua DPRK Aceh Tengah, wanita berkacamata ini, bukan hanya mengerahkan alat berat untuk membebaskan warga terisolir, seperti di Kampung Tapak Moge. Namun dia juga bersama relawan yang ikhlas menyalurkan bantuan kemanusian kepada mereka yang tertimpa musibah di beberapa kawasan.

Bahkan dia bersama relawan yang mengangkut sembako, ikut berjalan kaki dari Kem, Bener Meriah di alam yang licin berlumpur, dalam guyuran hujan. Aktivitas mereka diunggah ke media sosial dan media maenstrem.

Kembali terjadi pro dan kontra kepada mereka, banyak menaruh simpati, namun ada juga yang tetap membully, menyebutnya pencitraan dan segala komentar yang menyudutkan. Penilaian publik beragam, ada yang membully, ada pula yang memuji.

Sebagai manusia yang diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang punya kelebihan dan kekurangan, para pemimimpin di negeri ini sudah berbuat. Kembali ke publik dalam menilainya. Ada yang mencaci dan ada yang memuji.

Semangat Rakyat

Saat-saat awal musibah, saat kritis, mengharapkan bantuan dari pemerintah berarti menanti hari hari untuk mengakhiri hidup. Kerusakan di seluruh penjuru, akses terputus, tidak mampu pemerintah memberikan bantuan dengan cepat dan tepat.

Mereka terkurung, putus hubungan dengan dunia luar. Muncullah pahlawan yang Ikhlas mati menghadap Ilahi demi menyelamatkan anak dan istri, demi menyelamatkan kaum perempuan dan para orang tua di kem pengungsi.

Daripada mati hari ini lebih baik mati besok, mengharapkan bantuan pemerintah mereka akan mati kelaparan. Para korban musibah banjir bandang, khususnya di Aceh Tengah, walau dalam lelah dan cemas, mereka bangkit. Menyatukan kekuatan untuk berbuat, mereka tidak berdiam diri.

Dalam perasaan takut dan cemas mereka menyiapkan tempat pengungsian, membuat jembatan gantung, jembatan darurat, memperbaiki jalan. Mengumpulkan puing-puing yang tersisa. Mereka keluar dari amukan banjir untuk mendapat bantuan.

Mereka bersatu dan saling menguatkan. Mengirimkan utusan untuk keluar mencari makanan dan mengabarkan ke dunia luar, bahwa mereka masih hidup, walau mereka terisolir dan kelaparan. Mereka harus hidup, menahan dingin dan lapar dengan sehelai baju, basah kering di badan.

Mulailah dilakukan perjalanan panjang yang melelahkan, dengan ancaman maut, melintas sungai yang deras, melewati longsoran. Berjalan berjam-jam, bahkan ada yang berhari- hari. Dalam kondisi lelah kelaparan, mereka harus ekstra hati-hati, karena longsoran susulan menanti. Mereka bagaikan sedang bermigrasi di Safana Afrika yang ganas.

Melihat realita di lapangan, lambanya pemerintah menyalurkan bantuan masa darurat dan membebaskan kawasan mereka dari isolasi, masyarakat di sana ahirnya bersatu, bangkit. Melakukan apa yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup.

Ketika urusan perut sudah sedikit aman, walau ada diantara mereka yang sakit-sakit, mereka bersatu untuk bangkit. Dengan peluh keringat, dalam kubangan lumpur, ada tetesan air mata, mereka bahu membahu “membangun” yang mampu mereka lakukan.

Berdirilah jembatan darurat, jalan darurat, pengungsian darurat. Mereka membuka akses semampu mereka untuk bertahan hidup. Dalam lelah, fisik yang lemah, makan apa yang bisa dimakan, namun mereka bangkit, tidak terlalu berharap pada kecepatan pemerintah. Semangat yang luar biasa. Mereka tidak mau mati tanpa berbuat.

Muncul “pahlawan”dan mereka yang ikhlas. Jerih payah mereka dan bantuan pihak lain yang mau berbagi membuahkan hasil. Kampung mereka yang terisolasi akhirnya ada yang mengunjungi, walau dengan susah payah. Ketika ada manusia yang menjenguk mereka hidup dalam bayang-bayang maut, tangisan histeris menggema.

Siapapun itu akan ada air mata, pelukan persaudaraan, semuanya menyatu dalam satu rasa, musibah telah melahirkan persaudaraan. Secercah harapan untuk hidup terpancar dari raut wajah letih dan kepayahan. Sorot matanya seakan berkata “jangan biarkan kami mati dalam bencana ini”.

Semangat untuk hidup diantara bayang-bayang maut sudah ditunjukan para korban amukan banjir, banjir bandang di seluruh penjuru negeri. Mereka kuat, tidak menyerah dengan keadaan. Mereka berbuat semampunya.

Kini mereka mengharapkan bantuan orang lain, mengandalkan kekuatan mereka sendiri, mereka tidak akan bangkit. Kehadiran negara untuk memapah mereka, sangat diharapkan. Negara harus menggengam tangan-tangan yang terluka, para korban yang selamat.

Semua pihak harus bahu membahu, jangan terpecah belah. Kita sedang musibah. Mari sama sama membangun, saling menutupi. Saling berbagi, ibarat luka di kaki, kepala ikut merasakan.

Dampak Bencana

Bencana yang melanda Sumatera, Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, propinsi dengan julukan Serambi Mekkah merupakan kawasan terparah, bagaikan tsunami kedua.

Untuk Aceh, negeri dingin dengan tanaman kopi, Aceh Tengah masuk dalam daerah terparah musibah. Kawasan terparah itu; Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tengah dan beberapa daerah lainya di 18 kabupaten kota.

Sudah sebulan lebih bencana melanda. Sejak 25 November hingga 27 Desember 2025, Aceh Tengah masih ada 39 kampung yang terisolasi, belum bisa dilalui kenderaan. Awal musibah, setengah perkampungan dari 295 kampung di Aceh Tengah masuk dalam perangkap terisolasi.

Plt PUPR Aceh Tengah Pijas Visara yang mengerahkan kesatuanya, dan bantuan pihak swasta bekerja maksimal untuk membebaskan kawasan terisolir. Pijas jarang diekpose yang bekerja serius.

Medan yang sangat berat, dalam kesulitan BBM, pihaknya terus berupa membebaskan kawasan terisolir. 5 alat berat milik Pemda dan 7 dari pihak swasta, telah berupaya maksimal, namun memasuki sebulan musibah, 39 kampung yang masih terisolir.

Demikian dengan dinas lainya dan pihak yang terlibat dalam menangani bencana, mereka bekerja, meninggalkan keluarga yang terdampak musibah. Mereka mengabdi karena mencintai negeri.

Musibah Aceh Tengah telah merengut 24 nyawa kembali ke ilahi, 4 dinyatakan hilang. Enam luka berat, 52 orang mengalami luka ringan. Ada 4.426 rumah yang hancur.

Menurut kepala BPBD Aceh Tengah Andalika, menjawab Dialeksis.com, Minggu (27/12/2025) data itu akan mengalami perubahan, khususnya tentang jumlah fasiltas yang hancur, baik itu perkebunan masyarakat, rumah, dan sarana lainya. Pihaknya akan memfinalkan data ini.

Andalika yang bekerja full, jarang terekspose ini menjelaskan, ada 4 ruas jalan nasional yang hancur. 7 ruas jalan provinsi dan 93 jalan kabupaten. Jembatan nasional ada 12 unit, 3 jembatan provinsi dan 78 jembatan kabupaten.

Hingga saat ini masih ada 60 titik pengungsian, dengan jumlah pengungsi mencapai 11.791 jiwa. 234 ribu lebih masyarakat terkena dampak musibah.

Kerusakan irigasi mencapai 317.988 (M1), waduk 61.978 (M1) sarana air bersih mencapai 101 unit, lingkungan mengalami kerusakan mencapai 84.605 meter. Persawahan yang hancur mencapai 2.787 hektar, sementara yang gagal produksi mencapai 466 hektar.

Perkebunan 12.637 hektar mengalami kehancuran. Hortikulutra 812 hektar. Peternakan 308 ekor, perdagangan ada 3 unit. Destinasi wisata 60 unit. Café restoran 13, destinasi amenitas mencapai 57.

Toko souvenir yang terkena musibah 15, pariwisata 14, sarana olahraga 65. Koperasi dan UMKM mencapai 2.492 unit. Kesehatan 89 unit. Sekolah umum mulai dari TK hingga SLTA ada 40 unit, sementara sekolah Kemenag ada 31 unit. Masjid, menasah mencapai 105 unit mengalami kerusakan, pesantren 12, lembaga sosial 12, pemerintahan 4 unit. Tiang listrik 135 roboh.

Saat bencana, apalagi dalam catatan sejarah belum pernah terjadi sedahsyat ini, yang memporak-porandakan seluruh penjuru negeri, kepanikan, rasa cemas, tidak mampu dihindari. Masyarakat sangat membutuhkan kehadiran negara, cepat dan maksimal.

Ketika semuanya lumpuh, Aceh Tengah terkurung, pemerintah daerah lamban, pemerintah pusat ragu-ragu dan tidak mampu maksimal. Rakyat benar-benar berjuang dalam bayang-bayang maut. Ada yang memberi penilaian, penangangan bencana kali ini, adalah penangan bencana yang terburuk dalam catatan sejarah.

Tudingan beragam dialamatkan kepada para pemimpin negeri. Sebagai manusia mereka punya kekuatan dan kelemahan. Mereka sudah berbuat dalam segala keterbatasan. Ada yang menilainya lamban, cemen, hanya mengandalkan konten, serta sejumlah komentar lainya.

Namun ada juga yang memuji, berempati, dalam keterbatasan sarana dan prasana mereka sudah berbuat untuk rakyatnya yang mencekam dalam balutan praha. Walau dibully, namun mereka tetap mengabdi.

Kini saat negeri ini dibalut prahara, ayo kita bersatu. Cintailah negeri ini, kumpulkan puing-puing yang terserak. Jangan terpecah belah. Tidak semuanya harus berdiri di garis depan. Mari sama sama membangun, saling menutupi. Para musibah yang dibalut duka, mereka membutuhkan kita semua.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI