DIALEKSIS.COM | Kolom - “Lhokseumawe sebenarnya sekarang sudah memiliki mall. Tetapi pertanyaannya: apakah kota ini sudah memiliki pusat perbelanjaan yang mampu menggantikan posisi Cunda Plaza sebagai ikon, ruang sosial, dan simbol kemajuan kota pada masanya?”
Pernahkah generasi muda Lhokseumawe membayangkan bahwa kota ini dahulu memiliki sebuah pusat perbelanjaan modern yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh?
Cunda Plaza bukan sekadar bangunan tua yang berdiri di pintu masuk Kota Lhokseumawe. Ia adalah jejak perubahan sebuah kota dari kawasan industri gas menjadi kota urban yang pernah merasakan denyut kehidupan metropolitan.
Menelusuri sejarah Cunda Plaza berarti membaca kembali sejarah Lhokseumawe ketika industri gas PT Arun NGL mengubah wajah kota. Penelitian Atthaillah, Shine Risty Eka Indriannisa, Nova Purnama Lisa, dan Bambang Karsono berjudul Revitalisasi Ruang Kota Tidak Termanfaatkan: Studi Kasus Kawasan Cunda Plaza Lhokseumawe mencatat bahwa pertumbuhan PT Arun NGL sejak 1974 mendorong perkembangan Lhokseumawe dan melahirkan julukan “kota petrodollar”. Memasuki dekade 1990-an, Cunda Plaza hadir sebagai pusat perbelanjaan populer yang dilengkapi taman bermain dan fasilitas hiburan. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017, hlm. E133-E140.
Di sinilah Cunda Plaza menjadi menarik dalam sejarah perkotaan Aceh.
Ia bukan hanya tempat membeli barang. Cunda Plaza menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat: pusat perdagangan, tempat hiburan, ruang bertemu anak muda, serta simbol gaya hidup masyarakat kota yang sedang tumbuh.
RRI dalam laporan 25 Mei 2024 juga menggambarkan Cunda Plaza sebagai salah satu pusat perbelanjaan modern terbesar pada masanya. Laporan itu menyebut keberadaan restoran, arena permainan, eskalator, hingga bioskop yang membuat Cunda Plaza menjadi ruang berkumpul masyarakat Lhokseumawe dan sekitarnya.
Namun, kejayaan itu tidak berlangsung selamanya.
Dari pusat keramaian menjadi ruang yang ditinggalkan.
Perubahan Cunda Plaza tidak dapat dipisahkan dari perubahan ekonomi Lhokseumawe.
Penelitian Atthaillah dan kawan-kawan menunjukkan bahwa penurunan produksi PT Arun NGL sejak sekitar 2000 membawa dampak terhadap ekonomi dan aktivitas perkotaan. PT Arun kemudian menghentikan operasionalnya pada Oktober 2014. Dalam konteks yang lebih luas, deindustrialisasi menyebabkan sejumlah ruang kota kehilangan fungsi dan aktivitasnya.
Dengan demikian, kemunduran Cunda Plaza sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita sebuah gedung yang bangkrut atau terbengkalai.
Ia merupakan bagian dari perubahan struktur ekonomi kota.
Ketika pusat ekonomi yang menopang sebuah kota melemah, ruang-ruang yang sebelumnya hidup ikut mengalami perubahan. Cunda Plaza menjadi salah satu contoh paling mudah dilihat.
Bahkan kajian arsitektur tersebut tidak berhenti pada persoalan bangunan. Penelitian itu justru menemukan bahwa kawasan Cunda Plaza memiliki lokasi strategis di pusat kota, berdekatan dengan pasar tradisional dan aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, kawasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi pusat aktivitas perkotaan baru apabila direvitalisasi.
Inilah bagian penting yang menurut saya perlu dibaca kembali hari ini.
Apakah Lhokseumawe membutuhkan mall lagi?
Pertanyaan ini tentu bukan sekadar apakah masyarakat ingin berbelanja di gedung bertingkat.
Yang lebih penting adalah: apakah Lhokseumawe membutuhkan sebuah ruang kota baru yang mampu mempertemukan perdagangan, hiburan, kuliner, komunitas, anak muda, keluarga, dan pelaku UMKM?
Menurut saya, pertanyaan itu jauh lebih relevan.
Sebuah mall masa kini tidak harus meniru Cunda Plaza pada masa lalu. Jika suatu hari Lhokseumawe kembali memiliki pusat perbelanjaan modern, konsepnya harus mengikuti kebutuhan masyarakat sekarang: menyediakan ruang terbuka, kuliner lokal, produk UMKM Aceh, ruang kreatif anak muda, perpustakaan atau ruang literasi, tempat pertunjukan, serta ruang interaksi masyarakat.
Dengan kata lain, yang dibutuhkan bukan sekadar gedung mall, tetapi ekosistem kota.
Kajian IPLBI bahkan telah memberikan dasar akademik bahwa kawasan Cunda Plaza memiliki prospek untuk dihidupkan kembali melalui aktivitas baru sebagai “generator” dan magnet perkotaan. Integrasi dengan pasar tradisional, kegiatan komersial, ruang terbuka, serta karakter lokal menjadi bagian dari rekomendasi revitalisasi kawasan.
Artinya, gagasan menghidupkan kembali pusat ekonomi modern di Lhokseumawe bukan sekadar nostalgia.
Ia pernah menjadi objek kajian akademik.
Namun, revitalisasi tentu tidak berarti harus mempertahankan bangunan lama apa adanya. Faktor kepemilikan, kelayakan struktur, tata ruang, akses jalan, parkir, keselamatan, pembiayaan, dan kebutuhan masyarakat harus dikaji secara serius terlebih dahulu.
Cunda Plaza sebagai pelajaran sejarah kota.
Kadang-kadang sejarah berdiri di pinggir jalan.
Ia berupa bangunan yang sekarang sudah lapuk, tetapi menyimpan ingatan tentang bagaimana masyarakat sebuah kota pernah hidup, bekerja, berbelanja, bersosialisasi dan membayangkan masa depan.
Cunda Plaza mengingatkan kita bahwa kejayaan ekonomi sebuah kota tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas.
Lhokseumawe pernah mengalami ledakan ekonomi akibat industri gas. Ketika fondasi ekonominya berubah, wajah kota ikut berubah. Karena itu, masa depan Lhokseumawe harus dibangun dengan sumber-sumber pertumbuhan yang lebih beragam: perdagangan, pendidikan, jasa, UMKM, ekonomi kreatif, industri, dan pariwisata.
Mungkin karena itu pula pertanyaan tentang Cunda Plaza sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang masa lalu.
Kapan Lhokseumawe akan memiliki pusat kota yang kembali ramai, modern dan menjadi ruang bersama masyarakatnya?
Cunda Plaza boleh menjadi kenangan. Tetapi semangat kota yang pernah hidup di dalamnya tidak harus ikut menjadi kenangan.
Lhokseumawe layak memiliki ruang ekonomi dan ruang publik baru yang sesuai dengan zamannya bukan untuk mengulang kejayaan masa lalu, melainkan untuk menciptakan babak baru.
Sebab kota yang memiliki sejarah seharusnya tidak hanya pandai mengenang kejayaan, tetapi juga berani membangun kembali masa depannya.
Harapan terhadap hadirnya kembali pusat perbelanjaan di Lhokseumawe bukan berarti kita ingin menghidupkan kembali masa lalu secara utuh. Justru sejarah Cunda Plaza memberi pelajaran bahwa sebuah kota membutuhkan ruang yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Jika suatu hari mall seperti Cunda Plaza kembali hadir di Lhokseumawe, hendaknya ia tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi. Ia perlu menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat: tempat keluarga berkumpul, anak muda berkreativitas, UMKM memasarkan produk, seniman menampilkan karya, dan masyarakat menikmati kuliner serta kebudayaan Aceh.
Cunda Plaza telah menjadi bagian dari ingatan kolektif Lhokseumawe. Generasi yang pernah merasakan ramainya tempat itu menyimpan cerita, sementara generasi muda hari ini membutuhkan ruang baru untuk menciptakan cerita mereka sendiri.
Semoga Lhokseumawe tidak berhenti mengenang Cunda Plaza, tetapi mampu mengambil pelajarannya: sebuah kota harus terus bergerak, menyediakan ruang bagi warganya, dan berani membangun masa depan. Barangkali, suatu hari nanti, Lhokseumawe kembali memiliki sebuah mall bukan sebagai simbol nostalgia, melainkan sebagai tanda bahwa denyut kota ini kembali hidup. [**]
Penulis: Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum (Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UNISAI Samalanga)