Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Banda Aceh Siapkan Early Warning System bagi Tanggap Bencana Banjir

Banda Aceh Siapkan Early Warning System bagi Tanggap Bencana Banjir

Senin, 20 April 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Konferensi pers usai Rapat Kerja Komisariat Wilayah I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Komwil I) di Banda Aceh, Senin (20/4/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat sistem mitigasi bencana dengan menyiapkan early warning system (EWS) khusus untuk banjir.

Langkah ini ditegaskan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, dalam konferensi pers usai Rapat Kerja Komisariat Wilayah I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Komwil I) di Banda Aceh, Senin (20/4/2026).

Menurut Illiza, pengembangan sistem peringatan dini ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah kota dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana, khususnya banjir yang kerap terjadi akibat faktor hidrometeorologi.

“Kita berjuang meminimalisir korban bencana. Upaya ini juga kita masukkan ke dalam kurikulum,” ujar Illiza.

Ia menjelaskan, selama ini sistem mitigasi di Banda Aceh lebih terfokus pada potensi tsunami. Namun ke depan, pemerintah kota akan melengkapi dengan sistem peringatan dini banjir agar respons terhadap bencana bisa lebih cepat dan terukur.

“Banda Aceh akan launching early warning system untuk banjir, bukan hanya untuk tsunami,” katanya.

Selain penguatan teknologi, konsep kota tangguh bencana juga diterapkan secara menyeluruh di berbagai sektor. Mulai dari gampong, pasar, masjid hingga rumah sakit dilibatkan dalam sistem kesiapsiagaan, termasuk pembentukan tim tanggap bencana lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Illiza menegaskan, langkah tersebut penting mengingat Banda Aceh merupakan wilayah yang rawan dan rentan terhadap bencana, serta memiliki pengalaman besar di masa lalu.

“Ini penting agar masyarakat semakin cerdas dan tangguh, sehingga risiko bencana bisa diminimalisir,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pengalaman penanganan banjir yang terjadi beberapa waktu lalu, di mana Banda Aceh dinilai mampu melakukan pemulihan dengan cepat.

“Kita hanya dilanda banjir sekitar 3-4 hari, setelah itu bisa recovery dan bahkan membantu daerah lain,” kata Illiza.

Dalam forum yang diikuti 126 peserta dari 21 kota tersebut, Illiza berharap berbagai gagasan terkait penguatan ketangguhan bencana dapat dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan di tingkat nasional melalui Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI