DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat total kasus Mpox atau cacar monyet di Indonesia mencapai 92 kasus sejak pertama kali ditemukan pada 2022 hingga pertengahan 2026. Meski sebagian besar pasien telah sembuh dan tidak ada kasus baru sepanjang 2025, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya varian Clade Ib yang dinilai lebih berisiko.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, mengatakan Mpox merupakan penyakit infeksi emerging yang disebabkan oleh virus monkeypox. Virus ini terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni Clade I yang umumnya menyebabkan gejala lebih berat dan Clade II yang cenderung lebih ringan.
"Sejak 2022, pola penularan Mpox telah bergeser secara signifikan menjadi dominan antarmanusia dan menyebar cepat ke berbagai negara di luar Afrika," kata Sumarjaya dalam diskusi publik bertajuk Waspada Mpox: Deteksi Cepat, Respon dengan Tepat di Jakarta, yang dilansir pada Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah dua kali menetapkan Mpox sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Penetapan pertama dilakukan pada 2022 akibat penyebaran Clade IIb di berbagai negara non-endemis. Sementara pada 2024, status tersebut kembali diberlakukan menyusul meningkatnya penyebaran Clade Ib di Afrika yang kemudian meluas ke sejumlah negara.
Tren Kasus Mpox di Indonesia
Berdasarkan data Kemenkes, Indonesia mencatat satu kasus Mpox pada 2022. Jumlah itu meningkat menjadi 73 kasus pada 2023, kemudian turun menjadi 14 kasus pada 2024. Sepanjang 2025 tidak ditemukan kasus baru, namun hingga pertengahan 2026 kembali terdeteksi empat kasus sehingga total kumulatif mencapai 92 kasus.
Kasus Mpox di Indonesia tersebar di delapan provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
Hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) menunjukkan mayoritas kasus di Indonesia berasal dari varian Clade IIb. Meski demikian, pemerintah terus memperketat pengawasan untuk mengantisipasi masuknya Clade Ib yang memiliki tingkat keparahan lebih tinggi.
Mayoritas Pasien Sembuh
Kemenkes menyebut tingkat kesembuhan pasien Mpox di Indonesia sangat tinggi. Hingga kini hanya tercatat satu kasus kematian yang berkaitan dengan penyakit penyerta atau komorbid berat.
Menurut analisis epidemiologi, sebagian besar penularan terjadi melalui kontak fisik yang erat, termasuk kontak seksual. Karena itu, pemerintah menekankan pentingnya deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta akses layanan kesehatan yang bebas stigma dan diskriminasi.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui penerapan SATUSEHAT Health Pass (SSHP) bagi pelaku perjalanan internasional.
Selain itu, pemerintah telah menyiagakan 168 rumah sakit rujukan dan 21 rumah sakit sentinel untuk penanganan Mpox. Kesiapan tersebut didukung dengan penyediaan obat, reagen laboratorium, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, hingga pembaruan pedoman tata laksana klinis.
"Kami sangat mengharapkan sinergi seluruh masyarakat untuk melakukan deteksi dini apabila muncul gejala Mpox tanpa disertai stigma ataupun diskriminasi. Akses layanan kesehatan, termasuk layanan HIV dan infeksi menular seksual, harus tetap mudah dijangkau oleh masyarakat," ujar Sumarjaya.
Kemenkes mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah ke Mpox, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit. [*]