Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Ketua NU Aceh: Satu Abad NU Bukan Titik Puncak, Tapi Proses Pengabdian

Ketua NU Aceh: Satu Abad NU Bukan Titik Puncak, Tapi Proses Pengabdian

Minggu, 01 Februari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali akrab disapa Lem Faisal. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Aceh - Nahdlatul Ulama genap berusia satu abad pada 31 Januari 2026. Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu menandai tonggak sejarahnya dengan peringatan nasional di Istora Senayan, Jakarta. Acara tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang NU dari gerakan ulama pesantren hingga kekuatan sosial-keagamaan yang berpengaruh dalam kehidupan berbangsa.

Didirikan pada 31 Januari 1926, NU lahir untuk merawat ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus menjawab perubahan zaman. Tema peringatan satu abad, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, menegaskan posisi NU sebagai penjaga moderasi Islam dan pilar kebangsaan di tengah dinamika politik, sosial, dan globalisasi.

Di Aceh, peringatan seratus tahun NU disambut dengan khidmat. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali akrab disapa Lem Faisal menempatkan usia satu abad NU sebagai penanda konsistensi pengabdian, bukan sekadar capaian historis.

“Seratus tahun menegaskan bahwa NU bukan hanya organisasi, melainkan pewarisan tradisi pesantren yang hidup di akar masyarakat,” kata Lem Faisal menjelaskan kepada Dialeksis melalui sambungan seluler, Minggu (01/02/2026).

Menurut dia, di Aceh NU hadir mendidik, merawat nilai keagamaan, sekaligus menjadi penengah dalam kehidupan sosial. “Pengabdian tidak berhenti pada perayaan. Ia adalah proses panjang yang menuntut konsistensi dan pembaruan,” ujarnya.

Lem Faisal menilai kontribusi NU dalam konteks kebangsaan tidak terpisahkan dari komitmen pada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. NU, kata dia, berperan menjaga tradisi Islam moderat serta membuka ruang dialog antarumat beragama. Di Aceh daerah dengan kekhasan nilai lokal dan penerapan syariat Islam peran itu menjadi semakin strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi keagamaan dan tuntutan modernitas.

Namun tantangan ke depan tidak ringan. Disrupsi informasi, ketimpangan sosial-ekonomi, perubahan iklim, hingga kerentanan bencana menjadi persoalan yang menuntut peran lebih luas dari organisasi keagamaan. Lem Faisal menegaskan NU harus hadir tidak hanya melalui dakwah, tetapi juga lewat pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, dan mitigasi bencana.

“Pesantren harus menjadi pusat transformasi sosial-ekonomi pendidikan agama yang berpadu dengan keterampilan hidup, agar santri siap menghadapi dunia kerja dan berkontribusi bagi pembangunan daerah,” katanya.

PWNU Aceh, lanjut Lem Faisal, mendorong penguatan sinergi antara ulama, pesantren, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan sektor swasta. Kerja sama itu diperlukan untuk melahirkan program konkret, seperti pelatihan kewirausahaan berbasis pesantren, layanan kesehatan terpadu, serta literasi digital bagi santri dan masyarakat pesantren.

Ia juga menekankan pentingnya pembentukan karakter kebangsaan di kalangan generasi muda NU. “spirit toleransi, keadaban, dan tanggung jawab sosial harus terus ditanamkan. NU harus menjadi ruang pembelajaran agar generasi mudanya tumbuh sebagai pemimpin berakhlak dan berpikiran terbuka,” ujarnya.

Bagi PWNU Aceh, pengabdian NU harus tetap inklusif. “NU hadir untuk semua lapisan, berdiri di garis depan saat musibah, dan menjadi penjaga perdamaian ketika muncul gesekan sosial,” kata Lem Faisal.

Peringatan Harlah ke-100 NU tidak hanya berlangsung di ibu kota. Di berbagai daerah, termasuk Aceh, rangkaian kegiatan digelar mulai dari pengajian, bakti sosial, konferensi kebangsaan, hingga peluncuran program pendidikan dan ekonomi pesantren. Kehadiran tokoh nasional dan jejaring pesantren dari seluruh Indonesia menegaskan luasnya pengaruh NU di ranah keagamaan dan kenegaraan.

Satu abad NU juga menjadi panggilan evaluatif, bagaimana organisasi ini membarui diri agar tetap relevan di era digital tanpa kehilangan akar tradisinya. Lem Faisal menegaskan, inovasi harus tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren dan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dari Jakarta hingga Aceh, pesan yang mengemuka serupa yakni NU dituntut tetap menjadi rumah besar moderasi Islam, pengawal kebangsaan, dan wadah pemberdayaan sosial. Di usia satu abad, NU diharapkan terus istiqamah mengabdi untuk umat dan bangsa, sembari menatap masa depan dengan sikap terbuka dan berakar kuat pada tradisi.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI