Sabtu, 20 Juni 2026
Beranda / Berita / Nasional / Prof Budiman Rusli: Hidup Jangan Hanya untuk Makan

Prof Budiman Rusli: Hidup Jangan Hanya untuk Makan

Jum`at, 19 Juni 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Guru Besar FISIP Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Drs. H. Budiman Rusli, MS, mengingatkan umat Islam agar menjadikan momentum Muharram dan Tahun Baru Islam sebagai ruang muhasabah atas tujuan hidup manusia. [Foto: dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Bandung - Guru Besar FISIP Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Drs. H. Budiman Rusli, MS, mengingatkan umat Islam agar menjadikan momentum Muharram dan Tahun Baru Islam sebagai ruang muhasabah atas tujuan hidup manusia.

Pesan itu disampaikan Prof Budiman saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid FISIP Unpad, Dago, Bandung, Jumat (19/6/2026).

Dalam khutbahnya, Prof Budiman mengajak jamaah untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ia menegaskan, hidup seorang muslim tidak boleh berhenti pada urusan makan, minum, mencari kesenangan, atau memenuhi kebutuhan duniawi semata. Menurutnya, manusia memiliki tujuan hidup yang lebih mulia, yakni beribadah kepada Allah SWT.

“Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, ‘Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku’,” kata Prof Budiman mengutip QS Az-Zariyat ayat 56.

Ia menjelaskan, ayat tersebut menjadi dasar penting bagi setiap muslim untuk memahami bahwa seluruh aktivitas hidup harus diarahkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Bekerja, belajar, memimpin, melayani, hingga berinteraksi sosial, kata dia, akan bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Prof Budiman juga mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada pola hidup yang hanya mengejar kesenangan dunia. Ia mengutip peringatan Al-Qur’an dalam QS Muhammad ayat 12 yang menggambarkan orang-orang kafir menikmati kesenangan dan makan seperti hewan ternak.

Menurutnya, pesan ayat tersebut bukan sekadar larangan menikmati kehidupan dunia, tetapi peringatan agar manusia tidak kehilangan orientasi spiritual dalam hidup.

“Hidup harus berorientasi pada kemanfaatan. Selama hidup, manusia harus memberi manfaat bagi kemakmuran dunia dan menyiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT,” ujarnya.

Prof Budiman menekankan, hidup yang panjang tidak cukup hanya diukur dari usia, tetapi dari keberkahan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain. Semakin bertambah waktu, semakin berkurang pula jatah umur manusia di dunia. Karena itu, setiap muslim diminta menggunakan sisa hidupnya untuk memperbanyak amal kebaikan.

Dalam khutbah tersebut, ia juga menyoroti pentingnya menjaga pola makan dan menjauhi perilaku berlebihan. Menurutnya, Islam telah memberikan panduan yang jelas agar manusia makan dan minum secara wajar, tidak melampaui batas, dan tidak dikuasai oleh hawa nafsu.

Ia mengutip QS Al-A’raf ayat 31 yang memerintahkan manusia untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

“Makan dan minumlah secukupnya. Jangan serakah. Makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan,” kata Prof Budiman.

Ia menilai, makanan yang dikonsumsi manusia juga dapat memengaruhi perilaku, karakter, dan kualitas aktivitas seseorang. Karena itu, umat Islam diminta memastikan makanan yang masuk ke dalam tubuh berasal dari sumber yang halal dan baik.

Menurut Prof Budiman, makanan haram atau pola konsumsi yang tidak terkontrol dapat berdampak pada cara manusia berpikir, bertindak, dan memperlakukan sesama.

“Mendukung keberhasilan hidup seseorang tidak terlepas dari apa yang dimakan. Makanan yang haram akan memengaruhi perilaku kita dalam beraktivitas,” ujarnya.

Ia juga menyinggung fenomena manusia modern yang kerap mengonsumsi sesuatu secara berlebihan dan tidak wajar. Bagi Prof Budiman, pola hidup seperti itu menunjukkan bahwa manusia perlu kembali pada tuntunan agama, termasuk dalam urusan paling dasar seperti makan dan minum.

Prof Budiman menyebut pandemi Covid-19 sebagai salah satu pengingat penting bagi manusia bahwa kehidupan dunia sangat rapuh. Karena itu, manusia tidak boleh sombong dan lalai, melainkan harus memperkuat niat, menjaga kesehatan, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai bagian dari ibadah.

Di akhir khutbahnya, Prof Budiman mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan hidup. Ia mengutip QS Al-Mu’minun ayat 115 yang mengingatkan manusia agar tidak mengira bahwa penciptaan mereka hanyalah main-main dan tidak akan kembali kepada Allah SWT.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi peringatan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas hidup yang dijalaninya.

“Yang dituntut dari manusia adalah beraktivitas dalam rangka beribadah dan berbuat baik. Dengan begitu, hidup kita bernilai ibadah dan menjadi pahala di sisi Allah SWT,” ujar Prof Budiman.

Ia mengajak jamaah menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum memperbaiki orientasi hidup. Bukan sekadar memperingati pergantian waktu, tetapi menata kembali niat, memperkuat amal, dan memperluas manfaat bagi masyarakat. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes