Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / Calon Rektor, Standar Moral, dan Komitmen Keberagamaan

Calon Rektor, Standar Moral, dan Komitmen Keberagamaan

Sabtu, 17 Januari 2026 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Jabal Ali Husin Sab

Jabal Ali Husin Sab, Analis kebijakan publik Saman Strategic Institute


DIALEKSIS.COM | Opini - Pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala di depan mata. Sejumlah nama telah tampil untuk mencalonkan diri. Di tengah upaya Provinsi Aceh untuk bangkit dan maju menyaingi provinsi lain, serta upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan menekan angka kemiskinan, kampus memainkan peran sentral dalam mewujudkan cita-cita masyarakat Aceh tersebut. Pertanyaannya, rektor seperti apa yang mampu menjawab tantangan tersebut?

Kampus adalah penghasil utama sumber daya manusia yang berkualitas. Setiap negara maju punya kampus-kampus terbaik. Kampus tidak akan menjadi baik jika didalamnya tidak hadir pimpinan dan pengajar yang baik. Kampus adalah rumah bagi akademisi, ilmuwan, intelektual dan cendikiawan tempat mereka lahir dan mengabdi. Rumah tersebut tidak akan baik jika tidak dipimpin oleh sosok pemimpin yang ideal: bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga punya kejujuran, integritas dan track record yang bersih.

Rektor sebagai pemimpin para ilmuwan, akademisi dan cendekiawan yang ada di kampus bukan hanya harus unggul dalam kecerdasan, atau mumpuni dalam manajerial dan birokrasi, ia seyogyanya adalah sosok cerdik pandai yang bersih, berintegritas dan tidak cacat moral.

Ilmuwan, intelektual dan cendekiawan adalah sosok yang dibentuk dengan standar moral yang tinggi. Jika kampus harus dipimpin oleh sosok yang dikenal punya track record kurang baik, punya tendensi untuk “bermain” dengan anggaran kampus, sosok tersebut sangat tidak pantas dan tak layak untuk memimpin kampus. Jika suatu hari harus berurusan dengan hukum, sosok yang tak bersih itu akan mencoreng nama baik kampus, bahkan nama baik Aceh secara keseluruhan.

Standar moral yang tinggi memang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang rektor. Tanpa standar moral yang baik, lembaga pendidikan tinggi ini tak akan mampu menjadi pendidik yang baik bagi generasi muda Aceh yang sedang ia didik dan ajarkan. Dampaknya, perubahan menuju Aceh yang maju dan sejahtera akan sulit terwujud. Hal ini disebabkan oleh generasi yang dididik tidak mendapat tauladan yang baik dari pimpinan di lembaga pendidikan tinggi tersebut.

Salah satu indikator standar moral yang baik adalah komitmen seseorang terhadap ajaran agama. Terlebih lagi Universitas Syiah Kuala adalah kampus utama di daerah Serambi Mekkah. Aceh adalah provinsi yang menerapkan syariat Islam, yang mana adat budaya Aceh terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman.

Akan menjadi aneh dan janggal apabila rektor di kampus jantong hate rakyat Aceh adalah seorang yang diragukan komitmen keimanan dan keberagamaannya. Di tengah masyarakat yang religius, memiliki pemimpin yang tidak religius, katakanlah sekuler, adalah hal yang sulit diterima akal sehat.

Komitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan keimanan, visi-misi keislaman yang sejalan dengan pencapaian ilmu pengetahuan, sudah seharusnya menjadi prasyarat khusus bagi pendidik di Aceh, terlebih lagi seorang rektor.

Universitas Syiah Kuala layaknya dipimpin oleh sosok yang mampu mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman. Hal ini hanya mampu dilakukan oleh sosok yang punya komitmen kuat terhadap ajaran Islam.

Meski kita tak dapat mengukur keimanan seseorang, namun kita bisa melihat komitmen seseorang terhadap ajaran Islam melalui kebiasaannya, gaya hidup, wacana yang disampaikan, hingga pada visi-misi kepemimpinannya.

Komitmen terhadap ajaran agama menjadi salah satu indikator bagi standar moral yang baik. Dengan memilih pemimpin yang karakternya mencerminkan sosok yang berkomitmen terhadap agama, maka hampir dapat dipastikan sosok tersebut akan memimpin dengan kejujuran, integritas, amanah dan visi yang cemerlang.

Nasib Aceh kedepan sangat ditentukan oleh keadaan kampus hari ini. Untuk itu pemilihan rektor bukan sekedar posisi birokrasi atau jabatan administratif, melainkan sebuah pilihan krusial yang menentukan nasib masyarakat Aceh yang berharap memiliki pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik.

Penulis: Penulis: Jabal Ali Husin Sab, Analis kebijakan publik Saman Strategic Institute


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI