Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / Hasil TKA dan Arah Pendidikan Aceh

Hasil TKA dan Arah Pendidikan Aceh

Senin, 02 Februari 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Djamaluddin Husita

Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si, Kepala MA Ulumul Quran Kota Banda Aceh dan Ketua Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kota Banda Aceh). [Foto: Dokpri]


DIALEKSIS.COM | Opini - Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tingkat SMA/MA tahun 2025 yang menempatkan Aceh pada kelompok bawah peringkat nasional memunculkan banyak pembicaraan. Di ruang guru, pertemuan sekolah, sampai diskusi informal antarpendidik, topik ini muncul dengan nada yang beragam. 

Ada yang merasa terpukul, ada yang mempertanyakan instrumennya, ada juga yang mencoba menenangkan suasana dengan mengatakan bahwa satu tes tidak bisa menggambarkan semuanya. Semua reaksi itu bisa dimengerti.

Tetapi kalau mau jujur, hasil tersebut tetap perlu dibaca sebagai tanda. Tidak perlu dibesar-besarkan, tetapi juga tidak bijak kalau langsung diabaikan. TKA memang bukan satu-satunya ukuran mutu pendidikan, namun tetap memberi gambaran tentang kemampuan dasar siswa dalam memahami bacaan, menalar, dan menyelesaikan persoalan akademik. Dari situ setidaknya terlihat apakah proses belajar yang berlangsung selama ini sudah cukup kuat atau masih banyak yang perlu dibenahi.

Sering kali ketika hasil seperti ini keluar, perhatian langsung mengarah ke hal-hal di luar kelas: fasilitas, latar belakang keluarga, kondisi wilayah, bahkan kebijakan pusat. Semua itu memang berpengaruh. Namun ada satu hal yang kadang luput dibahas secara jujur, yaitu apa yang benar-benar terjadi di dalam kelas setiap hari. Bagaimana cara materi diajarkan, bagaimana siswa diajak berpikir, dan seberapa jauh pemahaman dibangun.

Banyak pembelajaran masih berjalan dengan pola yang sama seperti dulu: guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu diberi latihan. Cara ini tidak sepenuhnya salah. Untuk bagian tertentu masih relevan. Masalah muncul ketika pola tersebut menjadi satu-satunya cara. Siswa jadi terbiasa menerima, bukan mengolah. Terbiasa meniru contoh, bukan membangun alasan. Saat berhadapan dengan soal yang sedikit berbeda, mereka ragu.

Soal-soal TKA umumnya tidak menanyakan definisi langsung. Banyak yang menuntut pemahaman isi bacaan, membaca tabel atau grafik, lalu menarik kesimpulan. Ada juga yang meminta alasan dari sebuah jawaban. Keterampilan seperti ini tidak tumbuh dari hafalan. Ia tumbuh dari kebiasaan berpikir. Dari diskusi. Dari pertanyaan terbuka. Dari latihan menjelaskan dengan kata sendiri.

Tekanan mengejar target materi juga menjadi persoalan yang nyata. Jadwal padat. Materi banyak. Guru khawatir tidak selesai. Akhirnya pembelajaran bergerak cepat. Kadang terlalu cepat. Bagian yang seharusnya dibahas pelan justru dilewati. Siswa terlihat mengikuti, tetapi belum tentu memahami. Situasi seperti ini sering baru terasa dampaknya ketika hasil tes keluar.

Belakangan ini arah kebijakan pembelajaran mulai banyak menyebut pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Istilahnya terdengar baru dan kadang membuat sebagian guru merasa itu sesuatu yang rumit. Padahal gagasan dasarnya cukup masuk akal: belajar tidak berhenti di tahu, tetapi sampai paham. Tidak hanya bisa menjawab, tetapi bisa menjelaskan mengapa.

Pembelajaran mendalam tidak selalu butuh alat canggih. Bahkan tanpa perangkat digital pun bisa dilakukan. Intinya ada pada cara mengajar. Cara bertanya. Cara memberi tugas. Cara menanggapi jawaban siswa. Sebuah pertanyaan “mengapa kamu memilih jawaban itu?” sering lebih kuat dampaknya daripada sepuluh soal pilihan ganda yang langsung dikoreksi.

Hasil TKA yang belum menggembirakan sebaiknya dibaca sebagai pengingat bahwa penguatan proses belajar di kelas tidak bisa ditunda. Tambahan jam belajar atau try out berulang tidak akan banyak membantu jika cara belajarnya tetap sama. Yang perlu disentuh justru bagian paling dasar: bagaimana siswa diajak berpikir selama pelajaran berlangsung.

Strategi dan Arah Pendidikan Aceh

Arah pendidikan Aceh ke depan rasanya perlu lebih fokus pada mutu proses belajar, bukan sekadar banyaknya program. Program penting, tetapi yang mengubah hasil tetap praktik di kelas. Jika cara belajar menguat, hasil biasanya ikut bergerak. Jika tidak, program hanya ramai di awal.

Penguatan kapasitas guru tetap menjadi titik penting. Bukan hanya pelatihan formal yang materinya padat, tetapi pendampingan yang membumi. Banyak guru sebenarnya ingin mencoba pendekatan baru, hanya saja tidak selalu yakin harus mulai dari mana. Di sinilah dukungan pimpinan sekolah dan sesama guru sangat membantu. Ruang mencoba perlu ada, walau hasil awal belum rapi.

Forum diskusi guru seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) perlu diarahkan lebih praktis. Tidak terlalu banyak paparan teori, lebih banyak contoh nyata dari kelas. Misalnya membawa satu rancangan pembelajaran, lalu dibedah bersama: di bagian mana siswa benar-benar diminta berpikir, di mana hanya mendengar. Dari obrolan seperti itu biasanya muncul ide sederhana yang bisa langsung dicoba minggu berikutnya. Pengalaman menunjukkan perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus sering lebih terasa hasilnya daripada perubahan besar yang hanya sekali jalan.

Kebiasaan saling berbagi praktik baik juga penting. Guru yang menemukan cara efektif menjelaskan satu konsep bisa membagikannya ke rekan lain. Tidak perlu menunggu sempurna. Justru dari versi yang belum sempurna biasanya diskusi jadi hidup.

Dalam pembelajaran mendalam, kualitas pertanyaan sangat menentukan. Pertanyaan tertutup tetap perlu, tetapi jangan mendominasi. Pertanyaan yang meminta alasan, contoh tandingan, atau cara lain menyelesaikan soal akan memancing nalar. Suasana kelas mungkin jadi lebih ramai dan kadang melebar, tetapi di situlah proses berpikir terjadi.

Penguatan literasi bisa dilakukan dengan langkah sederhana. Membaca beberapa menit di awal pelajaran, menulis ringkasan singkat, atau menjelaskan kembali isi bacaan secara lisan sudah cukup membantu. Numerasi juga begitu. Membiasakan siswa menuliskan langkah penyelesaian dan alasan memilih rumus membuat proses berpikir lebih terlihat.

Hasil asesmen sebaiknya tidak berhenti sebagai angka di buku nilai. Dari jawaban siswa biasanya terlihat pola kesalahan. Bagian itu yang perlu dibahas ulang. Cara ini memang menambah kerja guru, tetapi lebih tepat sasaran. Mengajar ulang bagian yang belum paham jauh lebih berguna daripada terus menambah materi baru.

Kebijakan di tingkat daerah juga perlu memberi ruang gerak. Terlalu banyak tuntutan administrasi membuat guru cepat lelah sebelum masuk kelas. Keseimbangan perlu dijaga supaya energi utama tetap tercurah ke pembelajaran, bukan hanya laporan.

Peran keluarga tetap ada, meskipun tidak semua orang tua punya waktu dan kemampuan yang sama. Dukungan sederhana sudah cukup berarti: menanyakan kegiatan belajar, memberi waktu khusus untuk membaca, dan mengurangi gangguan saat anak belajar. Komunikasi sekolah dengan orang tua sebaiknya dibuat ringan dan rutin, tidak hanya saat ada masalah.

Perbaikan mutu pendidikan memang tidak bisa instan. Tidak realistis berharap hasil TKA langsung melonjak dalam satu atau dua tahun. Tetapi perbaikan bisa dimulai dari hal kecil yang konsisten. Memperbaiki cara bertanya. Mengubah satu jenis tugas. Memberi waktu diskusi lebih lama sedikit. Hal-hal sederhana, tetapi nyata.

Hasil TKA pada akhirnya lebih berguna jika dijadikan bahan bercermin, bukan bahan saling menyalahkan. Dari sana terlihat bagian yang masih lemah. Jika fokus diarahkan ke perbaikan proses belajar di kelas dan penguatan pembelajaran yang lebih mendalam, arah pendidikan Aceh masih sangat mungkin bergerak lebih baik. Jalannya mungkin tidak lurus, kadang tersendat, kadang perlu dikoreksi lagi. Tetapi justru di situlah proses perbaikan yang sebenarnya terjadi. [**]

Penulis: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si (Kepala MA Ulumul Quran Kota Banda Aceh dan Ketua Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kota Banda Aceh)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI