DIALEKSIS.COM | Opini - Dunia hari ini sedang menyaksikan ”pergeseran tektonik” dalam peta keamanan maritim global, yang menempatkan titik cekik Bab al-Mandab sebagai hulu ledak geopolitik paling berbahaya.
Selama ini, perhatian dunia terpaku pada Selat Hormuz di bawah kendali Iran. Ancaman terbaru datang dari Yaman. Seorang petinggi Angkatan Bersenjata Yaman, Abed Al-Thawr, menegaskan pihaknya akan menutup akses Laut Merah sebagai bentuk konfrontasi melawan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Apabila ancaman itu diwujudkan, tentu akan menciptakan skenario horor bagi stabilitas ekonomi modern. Dunia kini berdiri di ambang "kiamat rapuh logistik", yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Deklarasi Yaman untuk terjun langsung membela Iran melawan agresi AS dan Israel, dengan ancaman spesifik menutup total Selat Bab al-Mandab, bukanlah sekadar retorika politik yang bisa dipandang sebelah mata.
Kalau Iran selama ini telah memberi tekanan di Selat Hormuz, maka keterlibatan Yaman secara penuh akan menyempurnakan strategi "penjepitan" energi dunia yang dapat meruntuhkan tatanan ekonomi global dalam hitungan hari.
Kemampuan Yaman untuk mewujudkan ancaman ini berakar pada transformasi militer asimetris luar biasa selama satu dekade terakhir meski digempur Saudi, dengan dukungan AS. Mereka tak butuh kapal induk atau jet tempur siluman untuk melumpuhkan perdagangan dunia. Aliansi utama Iran ini hanya perlu geografi dan teknologi rudal murah namun presisi.
Pesisir barat Yaman yang bergunung-gunung memberikan keuntungan pandangan alami ke Selat Bab al-Mandab, yang lebarnya hanya 30 kilometer. Dari balik gua-gua dan bunker bawah tanah yang tersebar di wilayah pesisir seperti Hodeidah, Yaman telah menyembunyikan arsenal rudal balistik antikapal (ASBM) dan rudal penjelajah seri Quds yang memiliki akurasi tinggi.
Secara teknis, penutupan selat ini tidak memerlukan barikade fisik berupa kapal perang besar. Tapi, hanya penciptaan zona bahaya permanen melalui doktrin penolakan akses yang didukung oleh arsenal drone kamikaze seri Samad dan rudal balistik antikapal yang disembunyikan di balik terowongan pegunungan pesisir Yaman.
Dengan dukungan data intelijen terintegrasi dalam jaringan "Poros Perlawanan", mereka mampu mengidentifikasi dan mengunci target kapal dagang atau kapal perang Amerika Serikat dengan presisi yang mengejutkan.
Sejarah telah membuktikan bahwa ancaman Yaman bukan gertakan kosong. Kita bisa kembali mengingat rangkaian operasi militer yang berhasil mengguncang persepsi keamanan maritim.
Contoh paling mencolok adalah serangan terhadap kapal perang Uni Emirat Arab, HVS-2 Swift, yang hancur diterjang rudal antikapal di lepas pantai Yaman, 10 tahun silam. Ini menjadi sinyal awal bahwa Yaman punya kemampuan menghancurkan kapal dengan teknologi sederhana.
Selain itu, serangan drone dan rudal yang melumpuhkan fasilitas pemrosesan minyak raksasa Saudi Arabia, Aramco di Abqaiq dan Khurais, beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara tercanggih buatan AS, seperti Patriot, memiliki celah yang bisa ditembus oleh serangan drone "kamikaze" Samad yang hancur berkeping-keping namun memberikan dampak kerugian miliaran dolar.
Lebih jauh lagi, kemampuan Houthi yang dikenal sebagai ”Ansar Allah” dalam melancarkan "interdiction" atau penghadangan kapal di laut lepas telah teruji. Beberapa kapal kargo melalui operasi udara yang sangat berani menggunakan helikopter berhasil disita. Aksi ini mengirimkan pesan psikologis sangat kuat ke seluruh dunia: tidak ada kapal aman di Laut Merah jika Yaman memutuskan untuk menutup aksesnya.
Rangkaian operasi tersebut menunjukkan bahwa Yaman memiliki rantai komando yang efektif, keberanian operasional, dan teknologi yang mampu menjenuhkan sistem pertahanan radar kapal-kapal perang pengawal milik Amerika Serikat dan Inggris. Belum lagi, serangan rudal dan drone ke wilayah-wilayah pendudukan Israel secara rutin.
Jika ancaman penutupan total Selat Bab al-Mandab direalisasikan, dampaknya akan sistemik dan destruktif. Secara ekonomi, dunia akan dipaksa menghadapi inflasi energi yang brutal. Sekitar 4,5 juta barel minyak dan produk kilang melewati selat ini tiap hari menuju Eropa dan Amerika.
Ancaman Yaman menjadi ganda karena Bab al-Mandab berfungsi sebagai katup pengaman bagi ekspor minyak dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia menuju Eropa. Jika Iran telah menutup Hormuz dan Yaman menyumbat Bab al-Mandab secara simultan, dunia akan menghadapi kiamat energi dan harga minyak mentah diprediksi melompat liar melampaui ambang batas psikologis 150 dolar per barel.
Tanpa akses ke Bab al-Mandab, kapal-kapal tanker harus memutar melewati Tanjung Harapan di Afrika, sepanjang 6.500 kilometer sehingga menambah masa perjalanan hingga 14 hari dan biaya operasional jutaan dolar per pelayaran. Bagi Mesir, ini adalah bencana nasional karena Terusan Suez akan kehilangan fungsi strategis dan sumber pendapatan utamanya. Dunia manufaktur Asia dan Eropa akan mengalami keterlambatan pasokan komponen yang kronis, memicu kekosongan stok barang dan lonjakan harga di tingkat konsumen.
Secara militer, Yaman telah menciptakan dilema "biaya pertahanan" bagi AS dan zionis Israel. AS dipaksa menghabiskan rudal pencegat seharga 2 juta dolar hanya untuk menjatuhkan sebuah drone murah seharga 20 ribu dolar milik Yaman. Ini adalah perang atrisi sangat melelahkan bagi negara adidaya. Yaman tahu persis bahwa dalam perang jangka panjang, daya tahan di medan pegunungan yang sulit ditembus jauh lebih tinggi daripada kesabaran politik publik Amerika terhadap kenaikan harga bensin dan biaya perang yang membengkak.
Jadi, ancaman Yaman untuk menutup Bab al-Mandab adalah perwujudan dari kekuatan asimetris paling efektif di abad ke-21. Dengan sejarah aksi konsisten dan dukungan teknologi rudal yang terus berkembang, Yaman telah membuktikan bahwa mereka memiliki kapasitas penuh untuk mengubah geografi menjadi senjata mematikan.
Dunia kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa stabilitas ekonomi global tidak lagi hanya ditentukan di Washington atau Brussel, tapi juga oleh keputusan strategis yang diambil dari pusat komando di pegunungan Yaman yang tak tertundukkan.[**]
Penulis: Nurdin Hasan (Jurnalis Freelance)