DIALEKSIS.COM | Opini - Tulisan Fahmi Yunus berjudul Otak, Otot, Lalu Kentut yang dimuat di Dialeksis.com menarik perhatian karena menggunakan tubuh manusia sebagai metafora kekuasaan. Otak digambarkan sebagai simbol kecerdasan dan rasionalitas, sedangkan otot mewakili kekuatan yang mengabaikan ilmu pengetahuan.
Ketika otot mengambil alih kepemimpinan, berbagai organ mengalami gangguan hingga tubuh kehilangan kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan. Melalui satire yang menggelitik, penulis menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan yang lebih mengandalkan kekuasaan daripada pengetahuan dan hati nurani.
Pesan moralnya cukup kuat. Namun, apabila dikaji dari perspektif kedokteran, neurosains, dan filsafat kepemimpinan, muncul pertanyaan: benarkah otak dan otot merupakan dua kekuatan yang harus saling mengalahkan?
Pertanyaan tersebut penting karena metafora yang menarik tidak selalu menggambarkan kenyataan ilmiah. Kritik sosial yang baik perlu dibedakan dari penjelasan biologis agar pesan moralnya tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Ketika Satire Menjadi Kritik Kekuasaan.
Kekuatan utama tulisan Fahmi Yunus terletak pada keberaniannya menggunakan humor untuk menyampaikan kritik sosial. Melalui pertentangan antara otak dan otot, pembaca diajak untuk memahami bahaya kekuasaan yang menyingkirkan rasionalitas, membungkam kritik, dan mengutamakan kepentingan kelompok.
Dalam ilmu pemerintahan, persoalan tersebut mempunyai landasan konseptual. World Development Report 2017: Governance and the Law menjelaskan bahwa ketimpangan kekuasaan dapat melahirkan exclusion, capture, dan clientelism, yaitu pengucilan kelompok tertentu, penguasaan kebijakan yang sempit, dan hubungan patronase yang merugikan publik.
Kritik terhadap dominasi kekuasaan berkaitan dengan persoalan moral dan kualitas tata kelola. Kekuatan tidak selalu identik dengan penindasan, sebagaimana kecerdasan tidak selalu menjamin kebijaksanaan. Seseorang yang berpendidikan tinggi belum tentu bebas dari kesalahan, konflik kepentingan, atau penyalahgunaan wewenang.
Sebaliknya, ketegasan justru diperlukan untuk menjalankan kebijakan dengan benar. Kekuasaan menjadi persoalan ketika digunakan tanpa pengawasan, pertanggungjawaban, dan integritas. Kepemimpinan yang baik bukanlah pertentangan antara kecerdasan dan kekuatan, melainkan perpaduan antara ilmu, ketegasan, keadilan, dan tanggung jawab.
Otak dan Otot dalam Perspektif Kedokteran.
Secara biologis, otak dan otot bukanlah dua organ yang saling bermusuhan. Keduanya merupakan komponen penting yang bekerja melalui komunikasi saraf, metabolisme, dan mekanisme pengaturan tubuh. Penelitian Pedersen dalam Nature Reviews Endocrinology (2019) menjelaskan bahwa aktivitas otot rangka menghasilkan berbagai molekul pensinyalan yang disebut myokines.
Molekul tersebut berperan dalam komunikasi antara otot dan organ lain, termasuk otak. Aktivitas fisik juga berhubungan dengan peningkatan kesehatan kognitif dan penurunan risiko sejumlah gangguan neurologis serta gangguan kesehatan mental. Artinya, otot yang sehat justru mendukung kesehatan otak.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa fungsi otak tidak dapat dipisahkan dari aktivitas organ lain. Dalam tubuh manusia, keberhasilan suatu organ bergantung pada kemampuan seluruh sistem untuk mempertahankan keseimbangan.
Kajian Cryan dan kolega dalam Physiological Reviews (2019) bahkan menunjukkan adanya komunikasi dua arah antara otak, usus, mikrobiota, sistem imun, dan sistem saraf melalui mekanisme yang dikenal sebagai microbiota-gut-brain axis. Penemuan ini memberikan pelajaran yang menarik bagi para pemimpin.
Seorang pemimpin membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan; tidak cukup hanya memberi perintah, pemimpin harus mendengarkan informasi, menerima kritik, dan memahami kebutuhan dalam organisasinya. Karena itu, tubuh manusia justru menawarkan model kepemimpinan kolaboratif, bukan dominasi satu organ atas organ lainnya.
Kentut, Penyakit, dan Batas Metafora.
Bagian paling provokatif dalam tulisan tersebut ialah penggunaan kentut sebagai simbol keresahan yang muncul akibat kekacauan pengelolaan tubuh. Dari sudut pandang komunikasi, metafora ini berhasil menarik perhatian dan menyampaikan kritik melalui humor. Namun, dari perspektif fisiologis, kentut merupakan proses biologis yang normal.
Kentut atau flatus: gas pencernaan terutama berasal dari udara yang tertelan dan fermentasi karbohidrat oleh mikroorganisme usus. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menjelaskan bahwa pengeluaran gas merupakan bagian dari fungsi normal saluran pencernaan.
Kentut tidak selalu menandakan gangguan kesehatan. Bahkan, proses tersebut merupakan salah satu mekanisme alami untuk mengeluarkan gas dari tubuh. Demikian pula, kentut tidak secara langsung menyebabkan diare. Keduanya dapat terjadi bersamaan, tetapi memiliki mekanisme fisiologis yang berbeda.
Penggunaan stroke sebagai gambaran hilangnya kemampuan berpikir juga memerlukan kehati-hatian. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, stroke terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak, baik karena penyumbatan maupun perdarahan. Penyakit ini bukan konsekuensi langsung dari hilangnya rasionalitas atau dari pertentangan kekuasaan.
Tentu saja, satire tidak wajib mengikuti seluruh kaidah fisiologi. Namun, penggunaan penyakit sebagai simbol kegagalan moral berpotensi menimbulkan pemahaman yang keliru, terutama terhadap orang yang hidup dengan penyakit kronis atau disabilitas. Dari sudut pandang bioetika, penyakit harus dipahami sebagai kondisi medis, bukan sebagai ukuran moralitas seseorang.
Menariknya, kentut juga dapat ditafsirkan secara berbeda. Dalam kehidupan organisasi, protes tidak selalu mencerminkan kerusakan. Protes justru dapat menjadi tanda bahwa mekanisme koreksi masih berfungsi. Organisasi yang sehat bukanlah organisasi tanpa kritik, melainkan organisasi yang mampu mendengarkan dan memperbaiki kesalahannya.
Kekuasaan, Hati Nurani, dan Bioetika.
Salah satu kekuatan tulisan Fahmi ialah penempatan hati nurani sebagai pendamping rasionalitas. Gagasan tersebut relevan dengan prinsip bioetika modern. Beauchamp dan Childress merumuskan empat prinsip mendasar dalam etika biomedis, yaitu beneficence, non-maleficence, autonomy, dan justice.
Jika diterapkan secara analogis dalam kepemimpinan, keempat prinsip tersebut mengingatkan bahwa kebijakan harus memberikan manfaat, mencegah kerugian, menghormati martabat manusia, dan menjamin keadilan. Pemimpin yang cerdas tetapi mengabaikan etika dapat menggunakan pengetahuannya untuk membenarkan kepentingan pribadinya.
Sebaliknya, pemimpin yang kuat tanpa kompetensi berisiko membuat keputusan yang merugikan masyarakat. Dalam pelayanan kesehatan, keberhasilan rumah sakit bergantung pada sinergi tenaga medis yang kompeten, manajemen yang transparan, dan pengawasan yang efektif.
Dominasi satu unsur dengan mengabaikan unsur lainnya dapat mengancam keselamatan pasien. Prinsip serupa berlaku dalam pemerintahan, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan. Karena itu, kepemimpinan bukanlah persoalan siapa yang paling kuat, melainkan bagaimana kewenangan dijalankan secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Membangun Kepemimpinan yang Sehat.
Pelajaran terpenting dari tulisan ini seharusnya tidak berhenti pada kekalahan otak atau kemenangan otot. Keduanya merupakan bagian penting dalam kehidupan. Otak melambangkan kemampuan untuk berpikir dan menentukan arah. Otot menggambarkan kekuatan untuk melaksanakan keputusan.
Hati nurani menjadi pengingat agar tindakan tidak menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus bekerja bersama. Kepemimpinan modern membutuhkan kebijakan berbasis bukti, transparansi, keberanian menerima kritik, serta mekanisme evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kekuatan harus dikendalikan oleh hukum dan etika, sedangkan pengetahuan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Dalam perspektif kesalehan, kekuasaan juga merupakan amanah. Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 58 agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan keputusan dijalankan dengan adil.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kecerdasan dan kekuasaan harus berpijak pada keadilan. Akhirnya, tulisan Otak, Otot, Lalu Kentut mempunyai nilai sebagai kritik sosial yang kreatif dan menggugah kesadaran. Namun, kekuatan satirenya perlu dilengkapi dengan ketepatan ilmiah dan kedalaman argumentasi.
Tubuh manusia tidak akan sehat apabila otak dan otot terus-menerus dipertentangkan. Demikian pula, organisasi tidak akan maju apabila intelektualitas dan kekuatan saling meniadakan. Kepemimpinan terbaik bukanlah kemenangan otak atas otot, melainkan keselarasan antara ilmu pengetahuan, kemampuan bertindak, dan hati nurani.
Sebab, kekuasaan tanpa ilmu dapat kehilangan arah; ilmu tanpa tindakan menjadi tidak berdaya, sedangkan keduanya tanpa etika dapat kehilangan kemanusiaan. (email:rajuddin@usk.ac.id)
Penulis Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K)., Subsp.FER., FISOG, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh.