Minggu, 30 Maret 2025
Beranda / Opini / Ramadhan Bulan Kedermawanan

Ramadhan Bulan Kedermawanan

Minggu, 23 Maret 2025 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Dr. Muhammad Yusran Hadi

Ust. Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA. Foto: dok pribadi


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ramadhan merupakan bulan kedermawanan (syahrun karim). Dinamakan Ramadhan dengan bulan kedermawanan karena di bulan ini sangat dianjurkan untuk memberikan infak dan sedekah. Pada bulan ini pula, sangat dianjurkan memberikan makanan untuk berbuka puasa dan sahur. 

Selain itu, pada bulan ini diwajibkan bagi setiap muslim untuk memberikan zakat fitrah kepada fakir dan miskin. Ramadhan mengajarkan kepekaan sosial, kedermawanan dan solidaritas muslim. Maka pantaslah bulan Ramadhan dinamakan bulan kedermawanan.

Amalan Yang Utama

Di antara amalan yang utama dan dianjurkan di bulan Ramadhan adalah infak dan sedekah. Hal ini sesuai sunnah Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam. Dalilnya, hadits shahih yang diriwayatkan oleh oleh Al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallahu ‘alaihi adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadhan. Dia mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah. Sungguh, Rasulullah ketika dijumpai oleh Jibril adalah sangat dermawan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah di bulan Ramadhan (HR. At-Tirmizi). Meskipun hadits ini dhaif menurut syaikh Al-Albani, namun maknanya shahih sesuai hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Begitu pula kita dianjurkan memberikan bukaan bagi orang yang berpuasa. Ini termasuk sedekah. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang memberikan bukaan orang yang berpuasa maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berbuka berpuasa." (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh At-Tirmizi dan Ibnu Hibban). 

Mengingat anjuran dan keutamaan ini, maka pada bulan Ramadhan umat Islam sangat antusias dan bersemangat dalam memberikan bukaan orang yang berpuasa. Hal ini terlihat di berbagai negara di seluruh penjuru dunia khususnya di negara-negara Arab dan lebih khususnya lagi di Arab Saudi ketika kita berada di masjidil haram Mekkah dan masjid Nabawi.

Di kedua masjid ini, orang-orang Saudi berlomba-lomba menyediakan bukaan puasa untuk ribuan bahkan puluhan ribu orang dalam sehari selama bulan Ramadhan. Tidak hanya di bulan Ramadhan, mereka juga menyediakan bukaan puasa Senin dan Kamis pada setiap hari Senin dan Kamis di bulan-bulan lainnya.

Ramadhan mengajarkan kita kedermanawan dan kepekaan sosial melalui kewajiban zakat fitrah dan anjuran berinfak pada bulan Ramadhan. Kita dilatih dan dididik untuk menjadi orang yang dermawan dan pemurah hati yaitu membantu saudara-saudara seiman yang membutuhkan bantuan dan mengalami kesulitan dan penderitan dalam hidupnya baik karena kemiskinan, kefakiran, bencana alam maupun perang.

Ramadhan mengajarkan kita untuk membantu sesama saudara kita yang lemah ekonominya lewat infak dan zakat, karena infak sangat digalakkan pada bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa saplam dan zakat fitrah yang diwajibkan pengeluarannya pada bulan ini. Maka setelah setelah Ramadhan, kita diharapkan menjadi orang dermawan. Inilah salah satu ciri orang yang bertakwa.

Keutamaan Berinfak

Banyak keutamaan berinfak, di antaranya yaitu: Pertama; Mendapat pahala yang berlipat ganda. Allah ta’ala berfirman, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

Allah ta’ala berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261).

Kedua; infak itu untuk kebaikan diri sendiri. Infak sebagai tabungan atau investasi akhirat yang diambil dam dinikmati oleh orang yang berinfak. Allah berfirman, “Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (Al-Baqarah: 272).

Ketiga; Digantikan oleh Allah ta’ala. Orang yang berinfak tidak pernah rugi dan bangkrut atau menjadi miskin dan fakir gara-gara berinfak. Allah ta’ala menggantikan harta yang diinfak dengan yang lebih banyak, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah ta’ala berfirman, “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (Saba’: 39).

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hari, dua malaikat turun kepada seorang hamba. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak. Dan yang lain berdoa, “Ya Allah, hilangkan harta orang yang menolak infak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keempat: infak merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa. Allah ta’ala berfirman,, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,” (Ali Imran: 133-134).

Kelima: Dimudahkan rezki. Orang yang berinfak bertambah rezkinya dan mendapatkan keberkahan.

Allah ta’ala berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Keenam; Ditolong oleh Allah ta’ala jika kita dalam kesusahan dan kesempitan. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa memberikan pertolongan pada kebutuahan saudaranya, maka Allah selalu memberikan pertolongan pada kebutuhan orang itu. Dan barangsiapa melapangkan kepada seorang Muslim akan satu kesusahannya, maka Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan dari sekian banyak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya”. (HR. Muslim) .

Ketujuh; Terhindar dari api neraka. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah neraka walaupun hanya dengan sebutir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik.” (HR. Al-Bukhari). Makna “takutlah neraka” yaitu takutlah neraka dengan membuat penghalang antara kalian dengannya.

Inilah di antara keutamaan infak atau sedekah. Keutamaan ini berlaku untuk setiap waktu atau setiap bulan. Jika pada bulan-bulan selain bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan pahalanya, maka terlebih lagi pada bulan Ramadhan ini. Karena bulan Ramadhan merupakan bulan keberkahan. Pada bulan ini dilipatgandakan pahala amal shalih.

Maka, mari kita perbanyak infak dan sedekah kepada saudara-saudara kita yang lemah ekonominya dan membutuhkan bantuan kita. Mereka mengalami penderitaan dalam hidup mereka karena kemiskinan, kefakiran, bencana alam dan perang yang melanda mereka. Khususnya berinfak untuk saudara-saudara kita di Gaza Palestina yang mengalami penderitaan yang luar biasa pada saat ini.

Membantu Palestina

Saat ini, saudara-saudara kita di Gaza Palestina sangat menderita. Selain dibantai oleh Israel, mereka juga diblokade oleh Israel. Mereka mengalami kelaparan dan kehausan yang mematikan. Mereka kekurangan makanan, air, listrik, pakaian, obat-obatan, bahan bakar dan internet akibat pemboman dan blokade Israel. Mereka mengalami krisis makanan, air dan obat-obatan. Bencana kelaparan dan kematian setiap harinya menimpa mereka. Mereka sangat memerlukan bantuan dari dunia internasional khususnya umat Islam sebagai saudara mereka.

Penderitaan mereka ini sudah berlangsung 1 tahun lebih sejak Israel membombardil kota Gaza mulai tgl 7 Oktober 2023 sampai hari ini. Sebelum kita berpuasa Ramadhan, mereka telah lebih dahulu berpuasa. Mereka telah berpuasa dalam arti tidak makan dan minum sejak terjadi perang sampai hari ini karena krisis makanan dan air.

Mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Mereka segalanya akibat pemboman oleh Israel. Mereka kehilangan orang-orang mereka cintai. Lebih dari 50 ribu orang mati syahid dibantai oleh Israel dan lebih dari 110 ribu menderita luka-luka. Mereka juga kehilangan harta, tempat tinggal, masjid, rumah sekolah, rumah sakit, pasar, toko, swalayan, dan bangunan pemerintahan. Semua dihancurkan oleh Israel.

Penderitaan mereka sangat luar biasa. Mereka sudah menjadi fakir, miskin, yatim dan janda dalam waktu seketika. Penderitaan mereka melebihi penderitaan orang fakir, miskin, yatim dan janda di negara manapun termasuk negara kita.

Sebagai muslim, kita wajib merasakan penderitaan mereka dan membantu meringankan penderitaan mereka. Karena, penderitaan mereka adalah penderitaan kita,. Tangisan mereka adalah tangisan kita. Dan kesedihan mereka adalah kesedihan kita. Inilah bukti iman yang sempurna dan ukhuwah islamiyah yang perintahkan oleh Allah ta’ala dan Rasulnya. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (AL-Hujurat: 10). Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim lainnya.” (HR. Muslim).

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk menolong saudara kita yang memerlukan pertolongan. Allah ta’ala berfirman, “(Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan. (Al-Anfal: 72).

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan orang-orang beriman bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh ikut merasakannya. Rasulullah shallahu ‘alaiihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling cinta, kasih sayang dan empati di antara mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa iman seseorang belum sempurna jika belum mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Rasulullah shallahu ‘alaiihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang di antara kalian sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Mencintai saudaranya berarti merasa empati kepada saudaranya yang menderita, merasakan penderitaannya, membelanya dan membantunya.

Di antara hikmah puasa yaitu menimbulkan rasa empati, kasih sayang dan kepekaan sosial. Allah swt mewajibkan puasa agar kita menjadi orang yang bertakwa, dan di antara ciri orang yang bertakwa adalah orang yang suka berinfak dan membantu saudaranya muslim. Selain itu, agar kita bisa merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan dan kehausan. Dengan puasa, kita merasa kelaparan dan kehausan selama seharian. Sehingga kita timbul rasa empati, kasih sayang, dan kepekaan sosial serta solidaritas kepada saudara-saudara kita muslim yang menderita dengan berinfak kepada mereka dan membantu mereka.

Oleh karena itu, pada bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk berinfak atau bersedekah untuk saudara-saudara kita yang mengalami kesempitan dan kesusahan hidup. Mari kita memperbanyak infak di bulan Ramadhan ini khususnya untuk saudara-saudara kita di Gaza Palestina yang mengalami penderitaan yang luar biasa pada saat ini. Karena, infak yang terbaik adalah di bulan Ramadhan. Semoga Allah swt menerima ibadah puasa dan infak kita di bulan Ramadhan ini. Amin.

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Penulis adalah Wakil Ketua Majelis Ifta' PP. Bina Muslim Global, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh, Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Doktor Fiqh dan Ushul Fiqh International Islamic University Malaysia (IIUM), Dosen Fiqh dan Ushul Fiqh UIN Ar-Raniry.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI