Jum`at, 04 April 2025
Beranda / Gaya Hidup / Otomotif / Mobil Listrik Tanpa Ban Serep: Efisiensi atau Masalah di Jalanan Indonesia?

Mobil Listrik Tanpa Ban Serep: Efisiensi atau Masalah di Jalanan Indonesia?

Rabu, 02 April 2025 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kia EV9 GT Line(Kompas.com/Nanda)


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Ban menjadi komponen vital kendaraan, namun banyak mobil listrik yang tidak menyertakan ban cadangan. Alih-alih ban serep, produsen umumnya mengandalkan tire repair kit (perangkat tambal ban) untuk mengatasi masalah ban bocor atau kempes. 

Fenomena ini menuai sorotan setelah video viral di Instagram @dul_teknik memperlihatkan mobil listrik terpanggul derek akibat pecah ban, tanpa adanya cadangan.

Dalam unggahannya, pemilik akun mempertanyakan kebijakan produsen yang dinilai kurang sesuai dengan kondisi jalan di Indonesia. 

"Jalanan di Indonesia berlubang besar, bahkan di tol sekalipun. Harusnya ban serep ditambahkan, jangan disamakan dengan negara berinfrastruktur mapan," tulisnya. Kejadian itu pun memicu keluhan terkait biaya derek yang membengkak, padahal bisa dihemat dengan mengganti ban serep.

Harry Kurniawan, Head of Marketing MG Motor Indonesia, menjelaskan bahwa penghilangan ban serep pada mobil listrik bertujuan mengoptimalkan ruang dan mengurangi bobot, mengingat baterai sudah memakan area kabin. Sebagai solusi, MG menyediakan layanan Emergency Roadside Assistance (ERA) dan derek gratis yang dapat diakses 24/7 melalui nomor MG Care.

"Selain layanan darurat, Program Ramadan Siaga 2025 kami juga mencakup inspeksi kendaraan gratis di 21 bengkel siaga, diskon suku cadang, hingga souvenir khusus," tambah Harry.

Pendapat serupa disampaikan Widi Mulyadi, Aftersales Manager Hyundai Gowa. Menurutnya, desain mobil listrik memang diprioritaskan untuk efisiensi, dengan baterai menempati area bawah kendaraan. Namun, Hyundai menyematkan Tyre Pressure Monitoring System (TPMS) untuk memantau tekanan ban secara real-time.

Sementara Aji Ibrahim dari Wuling Motors menegaskan, tire repair kit pada mobil listrik mereka dirancang untuk situasi darurat, seperti menambal lubang kecil dan mengisi ulang angin. 

"TPMS juga tersedia sebagai langkah pencegahan," ujarnya.

Meski produsen berargumen soal efisiensi, kebutuhan ban serep di Indonesia tetap menjadi perdebatan. Kondisi jalan yang kerap bermasalah dinilai memerlukan antisipasi ekstra, berbeda dengan negara dengan infrastruktur lebih baik. Tanpa ban cadangan, pengguna mobil listrik bergantung pada layanan darurat atau towing yang berpotensi menambah biaya dan waktu tunggu.

Solusi sementara seperti TPMS dan repair kit mungkin efektif untuk kerusakan minor, tetapi belum menjawab risiko ban pecah total. Akankah produsen mempertimbangkan ban serep sebagai opsi tambahan? Jawabannya mungkin terletak pada inovasi desain yang mampu menyeimbangkan efisiensi baterai dengan kebutuhan pengguna di jalanan Indonesia.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI