Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Parlemen Kita / Rapat di Warung Warga, Ghufran Dorong Percepatan SPAM Regional Brayeun

Rapat di Warung Warga, Ghufran Dorong Percepatan SPAM Regional Brayeun

Sabtu, 09 Mei 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Anggota DPR RI Komisi V, H. Ghufran. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Upaya mempercepat pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Krueng Brayeun terus didorong. Anggota DPR RI Komisi V, H. Ghufran Zainal Abidin, M.A, memilih pendekatan tak biasa dengan menggelar rapat koordinasi langsung di warung milik warga di kawasan wisata Brayeun, Sabtu (9/5/2026).

Langkah ini dilakukan untuk memotong hambatan teknis sekaligus memastikan koordinasi lintas instansi berjalan efektif di lapangan. Rapat tersebut dihadiri Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris, Kepala BPBPK Aceh Tommy Permadhi, perwakilan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, Sekda Kota Banda Aceh Jalaluddin, serta perwakilan Dinas Perkim Aceh Asrizal.

Ghufran menegaskan, pemilihan lokasi rapat di warung warga bukan sekadar simbolis, melainkan strategi untuk mempercepat pengambilan keputusan berbasis kondisi riil di lapangan.

“SPAM Regional Brayeun ini bukan proyek biasa, tetapi menyangkut hajat hidup masyarakat Aceh Besar dan Banda Aceh. Karena itu, koordinasi tidak boleh hanya di ruang rapat formal. Kita harus melihat langsung kondisi sumber air, lahan, dan mendengar suara masyarakat,” ujar Ghufran.

Ia menambahkan, proyek SPAM Regional Brayeun menjadi salah satu kunci ketahanan air bersih di kawasan tersebut. Selama ini, kebutuhan air bersih di Banda Aceh dan Aceh Besar terus meningkat, sementara ketersediaan sumber air belum terkelola optimal.

Menurutnya, tantangan utama proyek ini terletak pada sinkronisasi antara pemerintah daerah dan pusat, khususnya dalam hal pembebasan lahan dan pelaksanaan konstruksi.

“Kita tidak ingin ada lagi proyek strategis yang terhambat hanya karena persoalan administratif. Pemerintah daerah bertanggung jawab pada pembebasan lahan, sementara pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR fokus pada pembangunan fisik. Dua hal ini harus berjalan paralel, bukan saling menunggu,” tegasnya.

Ghufran juga menekankan pentingnya kepastian timeline proyek. Ia meminta seluruh pihak terkait menyusun peta jalan yang jelas agar pembangunan tidak berlarut-larut.

“Kalau perencanaan sudah matang, lahan siap, maka tidak ada alasan lagi untuk menunda. Kita dorong agar proyek ini bisa segera masuk tahap konstruksi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, menyambut baik langkah jemput bola yang dilakukan Ghufran. Ia memastikan pemerintah kabupaten terus mempercepat proses pembebasan lahan, khususnya di area intake Krueng Brayeun.

“Kami di daerah berkomitmen penuh mendukung proyek ini. Proses pembebasan lahan terus kita kebut agar tidak menjadi hambatan bagi pembangunan oleh pemerintah pusat,” ujar Muharram.

Ia juga menilai kehadiran langsung para pemangku kepentingan di lokasi menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi dan mempercepat penyelesaian persoalan teknis.

SPAM Regional Krueng Brayeun sendiri dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Banda Aceh dan Aceh Besar. Dengan kapasitas yang direncanakan, proyek ini diharapkan mampu mengurangi krisis air bersih yang kerap terjadi, terutama saat musim kemarau.

Rapat sederhana di warung warga itu pun menjadi simbol kuat bahwa percepatan pembangunan tidak selalu harus dimulai dari ruang formal, tetapi bisa lahir dari kedekatan dengan realitas di lapangan”tempat di mana kebijakan benar-benar diuji.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI