DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aceh Tamiang yang tercatat sebagai salah satu kawasan paling parah terdampak banjir dan longsor pasca munculnya Siklon Tropis Senyar dinilai layak dijadikan pusat kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi nasional. Pandangan itu disampaikan Dr. Ir. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng, akademisi Universitas Syiah Kuala sekaligus Kepala ARC-PUIPT Nilam Universitas Syiah Kuala, yang melihat peluang strategis di balik bencana yang menimpa wilayah tersebut.
Menurut Syaifullah, fenomena siklon tropis di kawasan tropis seperti Indonesia tergolong jarang dan menghadirkan kompleksitas kerusakan yang belum banyak menjadi rujukan dalam praktik penanganan bencana nasional. Banjir bandang yang diikuti tanah longsor serta rusaknya tutupan hutan memperlihatkan adanya hubungan erat antara dinamika alam dan pola aktivitas ekonomi di wilayah hulu dan hilir. Kondisi ini, kata dia, semestinya dibaca sebagai peringatan sekaligus peluang pembelajaran.
Dalam pandangannya, menjadikan Tamiang sebagai posko induk rehabilitasi dan rekonstruksi nasional akan memungkinkan konsentrasi sumber daya secara lebih terarah. Tenaga ahli, dukungan teknologi, serta pengelolaan anggaran dapat difokuskan pada satu kawasan yang paling membutuhkan, sehingga intervensi yang dilakukan tidak terpecah dan hasilnya lebih terukur. Lebih dari itu, Tamiang dapat berfungsi sebagai ruang praktik nasional untuk menyusun pedoman dan protokol penanganan pascabencana berbasis pengalaman lapangan.
Syaifullah menekankan bahwa tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca siklon tropis harus diperlakukan sebagai proses pembelajaran yang sistematis. Seluruh pengalaman di lapangan perlu dikompilasi secara cermat, dianalisis, dan disarikan menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan.
“Dari proses ini akan lahir kekayaan pengetahuan baru bagi manajemen kebencanaan nasional,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa rekonstruksi tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata.
Ia juga menyoroti pentingnya pemulihan sosial ekonomi masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda rehab“rekon. Menurutnya, pusat rehabilitasi yang ditempatkan di kawasan terdampak justru dapat mendorong percepatan aktivitas ekonomi dalam skala lebih luas.
"Konsentrasi proyek dan program pemulihan akan membuka ruang kerja, menggerakkan usaha lokal, dan membantu masyarakat kembali pada ritme kehidupan yang lebih normal setelah bencana," jelasnya.
Pengalaman Aceh di masa lalu, ketika wilayah ini menjadi perhatian dunia dalam penanganan pascabencana besar, disebut Syaifullah sebagai rujukan penting. Saat itu, Aceh mampu menunjukkan bagaimana koordinasi yang kuat, perencanaan yang matang, dan keterlibatan masyarakat dapat menghasilkan proses rekonstruksi yang relatif berhasil. Nilai-nilai tersebut, menurut dia, patut dihidupkan kembali dalam konteks penanganan pascabanjir akibat siklon tropis.
Aspek lingkungan mendapat perhatian khusus dalam pandangan akademisi tersebut. Syaifullah menilai kerusakan hutan dan degradasi lingkungan akibat aktivitas ekonomi yang berlebihan telah memperbesar dampak bencana. Karena itu, proses rekonstruksi harus disertai dengan penataan ulang relasi antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Rehabilitasi kawasan hulu, pengelolaan tata ruang yang lebih bijak, serta dorongan terhadap praktik ekonomi berkelanjutan menjadi prasyarat agar bencana serupa tidak terus berulang.
Menurut Syaifullah, dengan pendekatan seperti itu, Tamiang berpeluang menjadi model nasional tentang bagaimana menata kembali kehidupan pascabencana secara menyeluruh. Bukan hanya membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga memperbaiki fondasi pembangunan agar lebih selaras dengan daya dukung lingkungan dan kebutuhan sosial masyarakat.
Di akhir keterangannya, Dr. Ir. Syaifullah Muhammad menegaskan bahwa bencana yang telah terjadi tidak boleh berlalu tanpa makna.
"Pembelajaran harus diambil, kesalahan masa lalu perlu diperbaiki, dan momentum ini harus dimanfaatkan untuk menata kembali harmonisasi hulu dan hilir kehidupan sosial, lingkungan, serta aktivitas ekonomi secara berkelanjutan. Dengan demikian, Tamiang tidak sekadar pulih, tetapi bangkit dengan ketahanan yang lebih kuat," pungkas ahli kimia ini.