Selasa, 07 Juli 2026
Beranda / Pemerintahan / Tanam Perdana Padi di Aceh Tamiang, Sekda Aceh: Ini Simbol Petani Bangkit Pasca Bencana

Tanam Perdana Padi di Aceh Tamiang, Sekda Aceh: Ini Simbol Petani Bangkit Pasca Bencana

Senin, 06 Juli 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Pemerintah Aceh menggelar tanam perdana padi di lahan rehabilitasi sawah Aceh Tamiang, Sabtu (5/7/2026). Foto: for Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Karang Baru - Pemerintah Aceh menggelar Gerakan Tanam Perdana Padi Pasca Bencana Hidrometeorologi di lokasi rehabilitasi lahan sawah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun Anggaran 2026, Sabtu, 5 Juli 2026.

Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya kembali aktivitas pertanian di lahan sawah yang sebelumnya terdampak banjir lumpur dan material bencana hidrometeorologi.

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, S.IP., MPA, mengatakan tanam perdana tersebut bukan sekadar kegiatan menanam padi, melainkan simbol kebangkitan petani Aceh setelah menghadapi bencana besar yang merusak lahan pertanian, perkebunan, dan infrastruktur irigasi.

“Tanam perdana hari ini bukan sekadar rutinitas menaburkan benih padi ke dalam lahan bekas lumpur banjir, melainkan simbol bahwa petani kita tetap kuat, semangat, dan optimis dalam menjaga pasokan pangan Aceh tetap aman, mandiri, dan tidak terganggu oleh dampak bencana,” kata M. Nasir.

Menurut Sekda, sektor pertanian dan perkebunan di Aceh menjadi salah satu sektor yang terdampak paling serius akibat bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu. Secara total, areal persawahan yang terdampak di Aceh mencapai sekitar 57.364 hektare.

Sementara itu, sektor perkebunan yang terkena imbas bencana mencapai sekitar 60.438 hektare, dengan komoditas terdampak antara lain kelapa sawit, kopi, kakao, pinang, karet, kelapa dalam, sere wangi, tembakau, dan komoditas lainnya.

M. Nasir menyebut Aceh Tamiang termasuk salah satu kabupaten yang paling berat mengalami dampak bencana. Banjir lumpur dan material lainnya merusak lahan sawah, infrastruktur irigasi pertanian, serta sektor perkebunan masyarakat.

“Kita tahu betapa beratnya perjuangan masyarakat dan para petani yang harus melihat sawah dan jerih payahnya rusak maupun hilang akibat bencana tersebut. Namun Aceh adalah negeri yang tangguh. Sejarah mencatat masyarakat Aceh, terutama para petaninya, memiliki daya juang yang luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan, melalui gerakan tanam perdana tersebut, Pemerintah Aceh ingin mengirimkan pesan kuat bahwa masyarakat dan petani tidak menyerah pada keadaan.

“Hari ini kita mengirimkan pesan kuat kepada semua orang bahwa kita tidak menyerah pada keadaan dan kita siap bangkit kembali,” katanya.

M. Nasir menambahkan, Pemerintah Aceh bersama seluruh jajaran terkait berkomitmen melakukan pemulihan pascabencana secara cepat dan menyeluruh. Menurutnya, sawah memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Aceh karena menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga.

“Sawah adalah urat nadi kehidupan kita. Mengembalikan hijau di hamparan sawah ini adalah langkah awal mengembalikan kesejahteraan masyarakat Aceh yang sebagian besar penghasilannya berasal dari sektor pertanian,” ujar Sekda Aceh.

Karena itu, kata dia, pemulihan lahan sawah melalui kegiatan rehabilitasi dan optimasi lahan di lokasi bencana menjadi prioritas pemerintah. Langkah tersebut dilakukan agar roda perekonomian masyarakat, khususnya petani, dapat kembali bergerak normal.

Ia menyampaikan, puluhan ribu hektare lahan sawah yang rusak maupun hilang akibat bencana saat ini mulai diperbaiki. Sebagian di antaranya bahkan sudah selesai direhabilitasi dan dapat kembali dimanfaatkan oleh petani.

Dalam kesempatan itu, M. Nasir menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian yang telah membantu memfasilitasi pemulihan sektor pertanian dan perkebunan di Aceh.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Pertanian dan seluruh jajaran Kementan yang sudah membantu memfasilitasi pemulihan, baik di sektor pertanian maupun perkebunan,” ucapnya.

Apresiasi juga disampaikan kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, dinas pertanian kabupaten/kota, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Kodam Iskandar Muda, jajaran Kodim hingga Babinsa, penyuluh, Bhabinkamtibmas, para datuk, serta kelompok tani yang bergerak cepat membersihkan dan mengolah kembali lahan pascabanjir.

“Kepada para petani selaku pahlawan pangan, mari kita optimalkan musim tanam ini dengan tetap memperhatikan kondisi alam, meningkatkan gotong royong, dan mengikuti arahan para pemangku adat setempat,” katanya.

Sekda Aceh juga menegaskan bahwa rehabilitasi lahan sawah merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memulihkan sumber pendapatan masyarakat, terutama petani yang terdampak langsung oleh bencana hidrometeorologi.

“Aceh Tamiang merupakan salah satu kabupaten yang paling terdampak kerusakannya dan menjadi perhatian khusus pemerintah untuk pemulihan pascabencana,” ujar M. Nasir.

Ia berharap bantuan pemulihan tersebut menjadi penyemangat bagi seluruh pihak untuk mempercepat perbaikan lahan sawah yang belum sepenuhnya dapat dioptimalkan.

“Semoga Allah SWT memberkahi setiap butir benih padi yang kita tanam hari ini, menjauhkannya dari hama dan bencana, serta mengubahnya menjadi panen yang melimpah demi kesejahteraan masyarakat Aceh,” kata M. Nasir.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, menjelaskan bahwa total persawahan terdampak bencana di Aceh mencapai sekitar 57.364 hektare.

Dari jumlah tersebut, kategori rusak ringan mencapai 27.437 hektare, rusak sedang 13.405 hektare, dan rusak berat 16.283 hektare.

Azanuddin menyebut, pemulihan telah dilakukan melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota.

Untuk tahap pertama, lahan sawah kategori rusak ringan yang sudah dilakukan pemulihan mencapai sekitar 27.071 hektare. Sementara untuk kategori rusak sedang, pemulihan tahap pertama telah mencakup sekitar 4.393 hektare.

“Untuk lahan rusak berat seluas sekitar 16.283 hektare, saat ini belum tertangani,” kata Azanuddin.

Ia menambahkan, untuk kategori rusak sedang masih terdapat sekitar 9.524 hektare yang akan direhabilitasi pada tahap kedua. Saat ini, proses tersebut sedang dalam tahap revisi DIPA.

“Total yang sudah dan sedang berproses untuk pemulihan sawah mencapai 40.988 hektare pada kategori rusak ringan dan rusak sedang,” ujarnya.

Selain rehabilitasi lahan sawah, Azanuddin menyampaikan bahwa sejumlah kegiatan pendukung pemulihan sektor pertanian di Aceh juga sedang berjalan. Di antaranya irigasi perpompaan sebanyak 641 unit di 16 kabupaten/kota dengan realisasi 41 persen.

Kemudian, irigasi perpipaan sebanyak 149 unit di 13 kabupaten/kota dengan realisasi 50 persen, bangunan konservasi 45 unit di lima kabupaten/kota dengan realisasi 17 persen, jaringan irigasi tersier 300 unit di 13 kabupaten/kota dengan realisasi 24 persen, serta jalan usaha tani 106 unit di 13 kabupaten/kota dengan realisasi 11 persen.

Untuk sektor perkebunan, Azanuddin menjelaskan bahwa luas lahan terdampak bencana di seluruh Aceh mencapai sekitar 60.438 hektare. Dari jumlah tersebut, untuk sementara lahan yang akan difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencapai 26.300 hektare.

“Fasilitasi sementara akan difokuskan pada komoditas kopi, kakao, dan kelapa dalam. Saat ini masih dalam proses CPCL,” katanya.

Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn) Drs. Armia Fahmi, M.H., menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan Kementerian Pertanian serta Pemerintah Aceh dalam mendukung pemulihan lahan pertanian di Aceh Tamiang.

Menurut Armia, dukungan tersebut sangat berarti bagi masyarakat, khususnya petani yang terdampak langsung oleh bencana hidrometeorologi. Ia berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada lahan sawah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang, tetapi juga dapat berlanjut untuk sawah yang masuk kategori rusak berat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, kami menyampaikan terima kasih atas bantuan dan perhatian Kementerian Pertanian beserta Pemerintah Provinsi Aceh. Kami juga sangat berharap dukungan lanjutan untuk penanganan sawah yang rusak berat dan pemulihan sektor perkebunan masyarakat,” kata Armia Fahmi.

Armia juga meminta dukungan Pemerintah Aceh untuk ikut memfasilitasi perbaikan sejumlah infrastruktur pertanian dan pendukung ekonomi masyarakat yang belum tersentuh atau masih membutuhkan penanganan lanjutan.

“Kami juga memohon bantuan Pemerintah Provinsi Aceh untuk memfasilitasi infrastruktur yang belum tersentuh maupun yang masih perlu diperbaiki. Ini penting agar pemulihan ekonomi masyarakat Aceh Tamiang dapat berjalan lebih cepat,” ujarnya.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang akan terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh, Kementerian Pertanian, TNI, Polri, penyuluh, perangkat kampung, dan kelompok tani dalam mempercepat pemulihan lahan pertanian pascabencana.

Armia berharap gerakan tanam perdana tersebut menjadi awal kebangkitan petani Aceh Tamiang untuk kembali produktif dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Semoga gerakan ini menjadi penyemangat bagi petani kita untuk bangkit. Aceh Tamiang harus kembali kuat, lahan pertanian harus kembali produktif, dan kesejahteraan petani harus kembali pulih,” kata Armia Fahmi.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI