Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / Tiap 4 Menit Satu Orang Meninggal, Indonesia Percepat Eliminasi Tuberkulosis

Tiap 4 Menit Satu Orang Meninggal, Indonesia Percepat Eliminasi Tuberkulosis

Selasa, 07 April 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin P. Octavianus, mengungkapkan bahwa laju penyebaran TB di Indonesia masih sangat mengkhawatirkan dan menyoroti urgensi penanganan TB secara lebih masif dan terintegrasi. [Foto: dok. Kemenkes]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah Indonesia mempercepat upaya eliminasi tuberkulosis (TB) sebagai langkah darurat nasional di tengah tingginya angka penularan dan kematian akibat penyakit tersebut. 

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin P. Octavianus, mengungkapkan bahwa laju penyebaran TB di Indonesia masih sangat mengkhawatirkan dan menyoroti urgensi penanganan TB secara lebih masif dan terintegrasi.

“Setiap menit dua orang terinfeksi TB dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia. Ini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga terkait faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan,” ujarnya, dalam pernyataan resmi yang diterima pada Selasa (7/4/2026).

Indonesia mencatat lebih dari 1 juta kasus TB setiap tahun, menjadikannya sebagai salah satu negara dengan beban tertinggi di dunia. Untuk menekan angka tersebut, pemerintah mendorong deteksi dini secara masif melalui Program Cek Kesehatan Gratis dengan target menjangkau 130 juta penduduk pada 2026, disertai penguatan pelacakan kontak erat dan terapi pencegahan.

Sementara itu, Perwakilan World Health Organization (WHO) Indonesia, Setiawan Jati Laksono, menyebut Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB global. Data 2024 menunjukkan sekitar 118.000 kematian terjadi pada pasien TB tanpa HIV dan 8.100 kematian pada pasien dengan HIV.

Menurut WHO, tantangan utama dalam pengendalian TB meliputi masih banyaknya kasus yang belum terdiagnosis, meningkatnya TB resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok. Meski demikian, perkembangan inovasi memberi harapan baru, dengan puluhan alat diagnostik, obat, dan kandidat vaksin yang tengah dikembangkan.

“Komitmen politik dan pendanaan menjadi kunci. Namun yang terpenting, ini saatnya bertindak sekarang. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” kata Setiawan. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI