DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banjir yang melanda berbagai wilayah di Aceh pada akhir tahun 2025 lalu dinilai bukan sekadar bencana alam semata, melainkan dampak langsung dari kerusakan ekologis yang terus berlangsung, terutama akibat deforestasi hutan yang masif dan berkepanjangan.
Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) mengatakan bahwa hilangnya tutupan hutan telah merusak keseimbangan alam serta menghilangkan fungsi hutan sebagai pelindung alami dari bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor.
Juru Kampanye Hutan dan Satwa Liar Yayasan HAkA, Raja Mulkan, meminta semua pihak menghentikan deforestasi yang terjadi di Aceh. Hal ini sebagai upaya untuk memutuskan mata rantai bencana di Aceh.
“Banjir yang terjadi berulang kali di Aceh adalah sinyal kuat bahwa alam sudah tidak mampu lagi menahan tekanan akibat perusakan hutan. Jika deforestasi terus dibiarkan, bencana serupa akan terus terulang,” ujar Raja Mulkan kepada media dialeksis.com, Senin 19 Januari 2026.
Dalam hal ini, katanya, menghentikan deforestasi tidak hanya ditujukan kepada pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat.
Perlindungan hutan, kata dia, tidak bisa diserahkan kepada satu pihak saja tanpa adanya kesadaran kolektif dan keberanian bersama untuk menghentikan praktik-praktik perusakan lingkungan.
“Hutan Aceh merupakan benteng terakhir hutan alam di Pulau Sumatra. Ia memiliki peran strategis sebagai penyangga kehidupan, sumber keanekaragaman hayati, serta benteng alami terhadap bencana. Kehilangan hutan berarti kehilangan perlindungan, ruang hidup, dan masa depan,” tegasnya.
Raja Mulkan juga mengingatkan bahwa meskipun Aceh memiliki kawasan hutan terluas di Sumatra, hal tersebut bukan jaminan daerah ini bebas dari bencana.
Fakta menunjukkan sekitar 47 persen daratan Aceh berada di wilayah dengan lereng curam hingga sangat curam, sehingga sangat rentan terhadap banjir bandang dan longsor apabila tutupan hutan rusak.
“Sebagai bahan refleksi bersama, apakah bencana banjir yang kita alami sanggup mencegah manusia untuk tidak merusak hutan lagi?” ujarnya.
Yayasan HAkA menilai momentum banjir yang terjadi saat ini seharusnya menjadi titik balik untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam.
Hutan, menurut HAkA, tidak boleh lagi dipandang semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai penentu keselamatan dan keberlanjutan hidup bersama.
“Stop deforestasi sekarang. Selamatkan hutan Aceh, selamatkan masa depan,” pungkas Raja Mulkan.