Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Mushaf Al-Qur’an dan Manuskrip Aceh Hiasi Aceh Ramadhan Festival 2026

Mushaf Al-Qur’an dan Manuskrip Aceh Hiasi Aceh Ramadhan Festival 2026

Rabu, 04 Maret 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Museum Aceh menghadirkan pameran koleksi naskah kuno dalam rangkaian Aceh Ramadhan Festival 2026 yang berlangsung pada 1-7 Maret 2026 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman. [Foto: Disbudpar Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Museum Aceh menghadirkan pameran koleksi naskah kuno dalam rangkaian Aceh Ramadhan Festival 2026 yang berlangsung pada 1-7 Maret 2026 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Pameran ini menjadi salah satu agenda utama dalam festival bertema “The Truly Spiritual Journey in Serambi Mekkah”.

Kasi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Nurhasanah, menyampaikan bahwa pameran ini dirancang untuk memperkenalkan khazanah manuskrip Aceh kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, dalam suasana Ramadhan yang sarat nilai spiritual.

“Momentum Ramadhan sangat tepat untuk menghadirkan kembali warisan intelektual ulama-ulama Aceh. Melalui pameran ini, kami ingin masyarakat tidak hanya melihat fisik naskah, tetapi juga memahami gagasan besar yang terkandung di dalamnya,” ujar Nurhasanah.

Pameran Mushaf Al-Qur’an dan manuskrip ini menampilkan sejumlah koleksi penting, di antaranya mushaf Al-Qur’an abad ke-19 berukuran 32 x 22 x 4,5 cm yang ditulis di atas kertas Eropa dengan cap bulan sabit bersusun tiga. Mushaf tersebut dihiasi iluminasi indah dan diperkirakan disalin atas permintaan istana.

Selain itu, ditampilkan pula naskah Zinat al-Mawahidin karya Hamzah Fansuri yang membahas tarekat, ma’rifat, hakikat, dan tajalli. Ada juga kumpulan teks karya Syamsuddin al-Sumatrani, Mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Muda, yang memuat 28 teks tasawuf.

Koleksi lainnya adalah Shirath al-Mustaqim karya Nuruddin ar-Raniri, kitab fikih ibadah yang sangat populer di dunia Melayu sejak abad ke-17, serta Tarjumanul Mustafid karya Abdurrauf as-Singkili, yang dikenal sebagai kitab tafsir Al-Qur’an pertama dan terlengkap dalam bahasa Melayu.

Menurut Nurhasanah, keberadaan naskah-naskah ini menunjukkan bahwa Aceh memiliki tradisi literasi dan keilmuan yang kuat sejak berabad-abad lalu. “Ini bukti bahwa Aceh bukan hanya dikenal sebagai Serambi Mekkah secara simbolik, tetapi juga sebagai pusat intelektual Islam di kawasan Melayu,” tambahnya.

Aceh Ramadhan Festival 2026 sendiri digelar selama tujuh hari dengan rangkaian kegiatan Opening Ceremony, Gampong Ramadhan, Ramadhan Berbagi, Talkshow dan Literasi Ekonomi Syariah, Khanduri Ramadhan termasuk peringatan Nuzulul Qur’an, Pameran Mushaf Al-Qur’an dan Manuskrip, hingga Closing Ceremony.

Melalui pameran ini, Museum Aceh berharap masyarakat semakin mengenal dan mencintai warisan manuskrip sebagai bagian penting dari identitas budaya dan spiritual Aceh. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI