DIALEKSIS.COM | Soki - Perjalanan akademik Sarlina Sari tidak hanya berbicara tentang capaian gelar tertinggi di dunia pendidikan, tetapi juga tentang keteguhan menghadapi keterbatasan hidup.
Perempuan kelahiran Kabupaten Pidie, Aceh, ini resmi meraih gelar Doktor Ilmu Akuntansi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) pada 6 Januari 2026.
Bagi Sarlina, pencapaian tersebut bukan semata hasil kerja akademik, melainkan akumulasi dari nilai-nilai hidup yang ia pelajari sejak kecil: ketekunan, kejujuran, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Tumbuh dalam keluarga sederhana di Beungga, Kecamatan Tangse, ia dibesarkan dengan pandangan bahwa ilmu pengetahuan harus memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Masa kanak-kanak dan remaja Sarlina berlangsung di tengah situasi konflik Aceh. Kondisi tersebut membentuk karakter tangguh dan kedewasaan lebih awal. Ketidakpastian dan keterbatasan justru memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan adalah harapan untuk keluar dari lingkaran kesulitan.
“Belajar adalah ikhtiar yang selalu disertai doa,” menjadi prinsip yang ia pegang hingga kini.
Perjalanan pendidikannya pun tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat mengenyam pendidikan SMP di Banda Aceh, namun tragedi tsunami 2004 memaksanya kembali ke kampung halaman. Pengalaman itu menjadi momen reflektif yang memperdalam makna ketabahan dan rasa syukur dalam hidupnya. Meski demikian, prestasi akademiknya tetap konsisten. Sejak sekolah dasar hingga SMA Negeri 5 Banda Aceh, Sarlina dikenal sebagai siswa berprestasi dan selalu menempati peringkat pertama.
Langkah akademiknya berlanjut ke Program Studi Ekonomi Akuntansi Universitas Syiah Kuala pada 2009. Di bangku kuliah, ia kembali menorehkan prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi tingkat fakultas dan menyelesaikan studi sarjana pada 2013 dengan predikat cum laude.
Hasrat untuk terus mengembangkan keilmuan membawanya ke Universitas Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan Magister Akuntansi di FEB UI pada 2017, juga dengan predikat cum laude. Setahun kemudian, Sarlina mulai mengabdikan diri sebagai dosen tetap Program Studi Akuntansi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Jakarta. Di sana, ia aktif mengajar, meneliti, serta menulis publikasi ilmiah di bidang akuntansi dan tata kelola.
Pada 2022, di tengah peran sebagai pendidik dan peneliti, Sarlina kembali ke almamater UI untuk menempuh pendidikan doktoral. Dengan disiplin dan konsistensi, ia berhasil menyelesaikan studi doktor dalam waktu 3,5 tahun. Dukungan keluarga serta pembimbing akademik menjadi faktor penting dalam proses tersebut.
Capaian gelar doktor ini, menurut Sarlina, bukanlah garis akhir. Ia memaknainya sebagai tanggung jawab baru untuk berkontribusi lebih luas bagi pengembangan ilmu akuntansi dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Kisahnya menjadi pengingat bahwa latar belakang dan keterbatasan bukan penentu masa depan, melainkan bagian dari proses membangun daya juang dan kontribusi nyata bagi bangsa. [*]