Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Sosok Kita / Khamenei Tetesan Darahmu Harum di Bumi

Khamenei Tetesan Darahmu Harum di Bumi

Minggu, 01 Maret 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Khamenei [Foto: AFP]

DIALEKSIS.COM | SOKI - Asap tebal membubung tinggi, warnanya hitam pekat disertai dentuman keras. Negeri Persia, sebuah imperium yang pernah jaya dimuka bumi ini menyisakan tusukan duka. Tetesan darah pejuang berorama harum menyerap bumi.

Kabar duka berpulangnya pemimpin Iran Ayatullah Ali Khamenei bersama keluarganya telah menyentakan dunia. Tidak ketinggalan rakyat Aceh, yang ikatan bathinya sangat dekat dengan pemimpin revolusioner ini, karena gigihnya membela bangsa yang tertindas, negeri Palestina.

Ucapan innalilahi dan selamat jalan pahlawan bermunculan dari belahan dunia, khususnya mereka yang melawan tirani kezaliman. Tidak ketinggalan bait-bait doa dilantunkan rakyat Indonesia, khususnya Aceh. Namamu akan dikenang, tetesan darahmu beraroma harum menyerap dalam pelukan bumi.

Selama 37 tahun memimpin, Khamenei telah membuktikan bahwa dia merupakan salah satu ulama yang teguh, mampu membuat membuat negara adidaya kelimpungan. Semengat perjuangan itu telah diwariskan kepada generasinya khususnya ummat muslim.

Dari catatan yang berhasil Dialeksis.com rangkum, dalam pidato resmi seperti Hari Quds yang diadakan setiap Jumat terakhir bulan Ramadhan, Khamenei menyatakan bahwa perang terhadap Israel adalah “perang melawan penindasan dan terorisme” yang menjadi kewajiban moral bagi dunia Muslim.

Khamenei tidak pernah menyuarakan dukungan terhadap ‘solusi damai’ dalam bentuk normalisasi hubungan. Sebaliknya, ia menegaskan penolakan terhadap negosiasi dengan Israel dan menolak solusi yang menurutnya hanya memberi keuntungan kepada penjajah.

Pada Juni 2025, Khamenei menegaskan bahwa respons terhadap serangan Israel akan terus dilakukan dan Iran sama sekali tidak akan berunding dengan rezim Zionis.

Siapa pahlawan ini, Sekilas Dialeksis.com merangkumnya.

Seperti dilansir Aljazeera dan laman Khamenei.ir, Ali Khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939. Ia adalah putra kedua Sayyed Javad Khamenei, ulama sederhana dan miskin yang mengajarkan keluarganya hidup sederhana dan rendah hati.

Ali Khamenei kecil menempuh pendidikan di maktab, sekolah dasar tradisional pada masa itu, untuk belajar alfabet dan Al-Qur'an. Setelah itu, dia pindah ke sekolah Islam untuk melanjutkan pendidikannya. Setelah lulus, ia melanjutkan studinya di seminari teologi di Mashhad.

Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, Ali Khamenei belajar logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam. Ia belajar di bawah pengawasan ayahnya dan bimbingan sejumlah ulama besar.

Saat remaja Khamenei sudah mendengarkan pidato berapi-api dari ulama pemberani, Nawwab Safavi, menentang kebijakan Shah yang anti-Islam dan licik, sebelum akhirnya ia menjadi martir rezim Shah.

Pada 1962, Ayatollah Ali Khamenei bergabung dalam barisan pengikut revolusioner Imam Khomenei--pemimpin politik Revolusi Islam Iran, menentang kebijakan rezim Shah yang dinilai pro-Amerika dan anti-Islam. Tanpa kenal takut, ia mendedikasikan dirinya di jalan ini selama 16 tahun hingga akhirnya rezim Shah jatuh.

Atas keberaniannya itu, Khamenei mendapat kehormatan dari Imam Khomeini untuk misi membawa pesan rahasia Ayatollah Milani dan ulama lainnya terkait cara dan taktik mengungkap sifat rezim Shah.

Dalam perjalanan hidupnya untuk revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei menjalani penangkapan dan pengasingan. Dia ditahan di "Penjara Gabungan Polisi-SAVAK" di Teheran selama berbulan-bulan. Setelah bebas, dia dilarang memberikan ceramah atau mengadakan kelas-kelas.

Ayatollah Khamenei juga diasingkan selama tiga tahun karena aktivitas rahasianya terendus oleh SAVAK. Setelah bebas, ia terus konsisten melanjutkan kegiatan politik-keagamaan, terlibat dalam demonstrasi massal di seluruh Iran.

Kemudian Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam pada tahun 1989 setelah meninggalnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang telah memimpin revolusi Islam satu dekade sebelumnya.

Khamenei yang membentuk aparat militer dan paramiliter Iran. Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia telah memimpin Iran sebagai presiden melalui perang berdarah dengan Irak pada tahun 1980-an.

Konflik yang berkepanjangan, ditambah dengan rasa isolasi di antara banyak warga Iran karena negara-negara Barat mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat secara umum dan Amerika Serikat secara khusus.

Selama empat dekade di pucuk pimpinan, Ayatullah Ali Khamenei menempatkan dukungan terhadap perjuangan bangsa Palestina dan perlawanan terhadap Israel sebagai salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Teheran.

Sejak resmi menggantikan Ayatullah Ruhollah Khomeini pada 1989, Khamenei konsisten menyuarakan penolakan terhadap eksistensi negara Israel dan memperkuat narasi perlawanan terhadap penjajahan yang dialami bangsa Palestina.

Ini bukan sekadar slogan retoris, tetapi juga terwujud dalam kebijakan politik, dukungan strategis kepada kelompok perlawanan, serta tajamnya kritik terhadap negara-negara Barat yang mendukung Tel Aviv.

Dalam pidato yang dikutip kantor berita resmi IRNA, Khamenei menegaskan, “Perlawanan adalah satu-satunya jalan. Negosiasi dengan rezim Zionis tidak akan membawa kebebasan bagi Palestina.” Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel beberapa tahun terakhir.

Dukungan Teheran terhadap Palestina juga diaktualisasikan melalui diplomasi publik. Khamenei dan pemerintahan Iran secara rutin menyelenggarakan konferensi internasional untuk mendukung perjuangan bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaan.

Misalnya, pada Februari 2017, Iran menjadi tuan rumah Konferensi Internasional ke-6 Mendukung Perjuangan Bangsa Palestina, di mana Khamenei mengimbau negara-negara dan pencari kemerdekaan di seluruh dunia untuk membantu rakyat Palestina.

Ketika beberapa negara Arab menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel melalui Abraham Accords, Khamenei mengkritiknya secara terbuka. Dalam pidato 2020 yang dimuat kantor berita Tasnim, ia menyebut langkah tersebut sebagai “pengkhianatan terhadap dunia Islam dan Palestina”.

Baginya, legitimasi Israel berarti mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Siapa pun yang berjabat tangan dengan rezim Zionis, pada hakikatnya menikam bangsa Palestina dari belakang.

Bagi Khamenei, dukungan terhadap Palestina tidak hanya soal konflik bilateral dengan Israel, tetapi juga bagian dari agenda geopolitik yang lebih luas menghadapi dominasi Barat di Timur Tengah.

Tehran menolak apapun bentuk dominasi yang menurutnya berasal dari kepentingan kekuatan adidaya seperti Amerika Serikat, yang selama ini menjadi sekutu utama Israel. Jalan yang ditempuh Khamenei adalah memperkuat jaringan negara dan kelompok yang menentang dominasi Barat dan Israel di Kawasan, sebagai bentuk perlawanan kolektif.

Sikap keras Khamenei terhadap Israel tidak lepas dari kritik internasional. Bahkan beberapa pihak di dunia Arab sendiri sempat menyampaikan kritik terhadap komentar Khamenei soal dukungan terhadap serangan tertentu oleh Hamas.

Namun bagi Teheran, posisi ini adalah konsistensi dalam menolak apa yang dianggap sebagai penjajahan modern dan penindasan terhadap bangsa Palestina. Dalam pandangan Khamenei, solidaritas terhadap rakyat Palestina merupakan kewajiban moral dan historis yang tidak bisa dikompromikan.

Kini dunia digemparkan dengan pemberitaan, Minggu (1/3/2026) bahwa pahlawan tak kenal menyerah ini, Khamenei telah menghembuskan nafas terahir, bersama cucu dan keluarganya.

Gugurnya pahlawan tak kenal lelah ini membuat dunia berduka. Tetesan darahnya harum dalam pelukan bumi. Manusia yang berpinsip teguh, tidak pernah tunduk dalam segala ancaman, walau digempur rudal dalam kabut asap mesiu. Bumi menerimamu dengan damai wahai pahlawan.[bg]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI