DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kalimat itu meluncur sederhana, tapi mengguncang ruang rapat DPR Aceh: “Saket ban saboh geureupoh awak kah.” Seorang mahasiswa, berambut ikal, duduk di kursi perwakilan Aliansi Rakyat Aceh, melontarkannya dengan nada getir.
Sejak saat itu, publik bertanya-tanya: siapa dia?
Pergub Nomor 2 Tahun 2026 terkait Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) menjadi panggung polemik. Skema desil yang dijadikan dasar pembatasan dianggap mengiris hak rakyat.
Pemerintah berjanji memperbaiki data dalam hitungan hari, namun mahasiswa itu menohok, “Apakah pemerintah merasa diri Tuhan?”
Kritiknya tajam, bukan sekadar emosi, melainkan analisis seorang yang paham alur JKA.
Misteri identitasnya justru menambah daya tarik.
Media hanya menulis “mahasiswa ekonomi berambut ikal,” tanpa nama. Publik Aceh, lima juta jiwa, penasaran: siapa sosok yang berani bicara lantang, mewakili keresahan mereka?
Di warung kopi, di media sosial, pertanyaan itu bergema.
Nama belum terungkap, tapi kalimatnya sudah jadi simbol.
Dan dari simbol itu lahirlah gelar disematkan padanya "Jubir Rakyat".
Sebuah gelar yang tidak diberikan oleh lembaga resmi, melainkan oleh rasa penasaran dan penghormatan jutaan jiwa.
Ia dianggap corong yang menyalurkan keresahan rakyat, suara yang menyingkap ketidakpercayaan terhadap janji instan, penegasan bahwa sakit bukan sekadar angka desil, melainkan nasib manusia.
Gelar ini bukan sekadar sebutan. Ia adalah pengakuan bahwa satu suara bisa menjadi gema kolektif.
Bahwa seorang mahasiswa, tanpa jabatan, tanpa pangkat, bisa menjelma menjadi juru bicara rakyat.
Publik melihatnya sebagai simbol keberanian generasi muda, yang berani menantang klaim kekuasaan dengan bahasa sederhana namun penuh makna.
Di Aceh, sejarah selalu mencatat suara-suara kecil yang kemudian menjadi besar.
Dari warung kopi hingga mimbar politik, dari hikayat hingga rapat resmi, selalu ada tokoh yang muncul tanpa nama, tapi meninggalkan jejak.
Mahasiswa misterius ini kini berada di jalur itu.
Ia belum dikenal, tapi sudah dikenang. Ia belum disebut, tapi sudah disebut-sebut.
Mungkin rakyat Aceh tidak hanya ingin tahu siapa dia.
Mereka ingin memastikan suara lantang itu tidak padam.
Sebab di tengah gaduh politik dan regulasi, satu kalimat sederhana bisa menjadi api kecil yang menyulut kesadaran besar: keadilan dalam JKA.
Dan mahasiswa misterius itu, dengan gelar rakyat yang melekat, telah menjelma menjadi Jubir Rakyat suara yang lahir dari keresahan, tumbuh dari misteri, dan kini menjadi milik jutaan jiwa.
Kini, perlahan kabut mulai tersibak. Mahasiswa yang melontarkan kalimat “Saket ban saboh geureupoh awak kah” itu adalah Khalilullah, mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Aceh, program studi Manajemen, angkatan 2021.
Ia tercatat resmi di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, dengan status akademik aktif hingga semester ganjil 2025/2026.
Profil sederhana ini menambah lapisan cerita: seorang anak muda, lahir dari bangku kuliah, tanpa pangkat, tanpa jabatan, namun suaranya mengguncang ruang DPR Aceh dan menggema ke seluruh provinsi.
Dari kampus ke ruang publik, ia menjelma menjadi figur yang diberi gelar rakyat: Jubir Rakyat.
Nama Khalilullah asal Barat - Selatan, Aceh itu mungkin baru, belum populer di panggung politik. Namun kalimatnya sudah menjadi simbol.
Ia adalah wajah generasi muda Aceh yang berani, yang paham alur kebijakan, dan yang tidak gentar menyuarakan keresahan jutaan jiwa.
Maka, misteri itu kini menemukan jawabannya. Sosok mahasiswa berambut ikal itu bukan lagi anonim. Ia adalah Khalilullah mahasiswa manajemen Universitas Muhammadiyah Aceh yang dengan satu kalimat sederhana telah menyalakan api kesadaran besar bahwa keadilan dalam JKA adalah hak, bukan hadiah.