Selasa, 01 April 2025
Beranda / Tajuk / Ramadan dan Ironi Pencitraan di Balik Santunan Anak Yatim

Ramadan dan Ironi Pencitraan di Balik Santunan Anak Yatim

Rabu, 26 Maret 2025 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Tradisi Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram. Foto: Islamina


DIALEKSIS.COM | Tajuk - Bulan Ramadan, selain menjadi momen spiritual, kerap diwarnai gelombang kepedulian terhadap anak yatim. Namun, di balik semangat berbagi itu, terselubung paradoks yang menggelisahkan: kegiatan sosial yang mulia justru menjelma panggung pencitraan politik. Fenomena ini bukan sekadar persoalan etika beramal, melainkan cermin dari pertarungan simbolik antara kepentingan agama dan ambisi kekuasaan.

Agama mengajarkan bahwa menyantuni anak yatim adalah ibadah yang luhur. Namun, dalam praktiknya, ritual kebaikan ini kerap direduksi menjadi tontonan publik. Bantuan yang seharusnya tulus berubah menjadi komoditas untuk membangun citra, terutama di kalangan elit politik. Mereka memanfaatkan ruang keagamaan sebagai panggung untuk menampilkan karisma semu, mengemas filantropi sebagai bagian dari strategi komunikasi politik. Anak yatim pun tak lagi menjadi subjek yang diperjuangkan, melainkan objek yang dieksploitasi demi meraih simpati massa.

Yang lebih memprihatinkan, kegiatan seremonial seperti buka puasa bersama atau pemberian bantuan secara terbuka sering kali bersifat simbolis. Baju lebaran atau santunan sesaat mungkin memenuhi kebutuhan fisik sesaat, tetapi gagal menyentuh akar persoalan: masa depan anak yatim yang terabaikan. Mereka membutuhkan jaminan pendidikan, perlindungan dari eksploitasi, dan akses kesehatan bukan sekadar perhatian musiman yang menguap seiring berakhirnya Ramadan.

Di Aceh, misalnya, kesenjangan antara retorika dan realita terasa nyata. Di wilayah terpencil, anak yatim masih hidup dalam kondisi memprihatinkan, jauh dari janji-janji kebijakan. Bantuan yang diberikan kerap tidak menyasar kebutuhan mendasar, seperti beasiswa atau program pemberdayaan berkelanjutan. Padahal, negara memiliki kewajiban konstitusional untuk memastikan hak-hak mereka terpenuhi melalui regulasi inklusif.

Masyarakat pun diajak untuk lebih kritis. Jangan mudah terbuai oleh gebyar kegiatan amal yang diumbar di media sosial. Setiap aksi sosial harus diukur dari komitmen jangka panjang, bukan sekadar euforia Ramadan. Keikhlasan dalam beramal tak bisa dikompromikan: ia harus lahir dari ketulusan, bukan dari hasrat membangun pencitraan.

Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi bagi semua pihak. Bagi politisi, inilah saatnya mengubah paradigma: dari beramal demi suara, menjadi beramal demi keadilan. Bagi masyarakat, inilah waktu untuk menuntut akuntabilitas, memastikan setiap bantuan bermuara pada solusi nyata. Sebab, anak yatim bukanlah proyek pencitraan, melainkan manusia yang berhak atas masa depan cerah tanpa syarat, tanpa panggung politik.

Di ujung hari, kebaikan sejati tak memerlukan pengeras suara. Ia bisu, tetapi bergema dalam langkah-langkah konkret yang mengubah hidup. Ramadan mengajarkan kita bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap ibadah dan hanya dengan itu, amal kita benar-benar bermakna.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI