DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pasar kartu Pokémon kembali jadi sorotan setelah kartu langka Pikachu Illustrator milik Logan Paul terjual seharga US$16,5 juta di Goldin Auctions pada Februari 2026. AP melaporkan, penjualan itu memecahkan rekor sebagai kartu trading paling mahal yang pernah dilelang. Kartu yang berasal dari kontes ilustrasi Jepang tahun 1998 itu disebut hanya ada beberapa lusin di dunia, sementara milik Paul menjadi satu-satunya yang diketahui berperingkat PSA 10, atau kondisi sempurna.
Lonjakan harga kartu koleksi seperti ini terutama ditopang tiga faktor utama: kelangkaan, grading, dan nostalgia. Makin sedikit jumlah kartu yang beredar, makin besar pula perburuan kolektor. Lalu, kartu dengan sertifikasi kondisi terbaik dari lembaga grading biasanya dihargai jauh lebih tinggi. Di saat yang sama, kekuatan nostalgia membuat Pokémon tetap punya basis penggemar lintas generasi, sementara minat terhadap kartu vintage terus bertahan di pasar koleksi.
Namun, di balik rekor fantastis itu, pasar kartu Pokémon juga menyimpan risiko besar. The Guardian pada Desember 2025 melaporkan bahwa pasar ini menunjukkan tanda-tanda koreksi, dengan harga beberapa kartu mulai melemah dan aktivitas spekulasi tak lagi seagresif sebelumnya. Laporan itu juga menggambarkan bagaimana perburuan kartu langka telah berubah menjadi semacam “pasar saham” bagi kolektor dewasa, sehingga kartu baru kerap langsung diburu untuk dijual kembali.
Situasi tersebut membuat kartu Pokémon jauh lebih liar dibanding aset tradisional. Harga bisa melonjak tajam ketika hype menguat, tetapi juga bisa turun cepat saat permintaan mereda. Karena itu, banyak pengamat memandang kartu Pokémon lebih dekat sebagai pasar koleksi bernilai tinggi daripada instrumen investasi yang stabil.
Dampak lain dari meningkatnya valuasi kartu langka adalah munculnya persoalan keamanan dan perilaku spekulatif di lapangan. Guardian mencatat adanya laporan ancaman terhadap toko, hingga kasus perampokan dan penimbunan stok oleh pemburu cuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kartu Pokémon kini bukan hanya objek nostalgia, tetapi juga aset yang memicu biaya tersembunyi, mulai dari penyimpanan, asuransi, hingga pengamanan fisik.
Pada akhirnya, kartu Pokémon memang bisa menghasilkan nilai yang luar biasa besar, tetapi pasar ini tetap sangat spekulatif. Rekor penjualan Pikachu Illustrator milik Logan Paul membuktikan bahwa aset koleksi bisa menembus angka yang mengejutkan. Namun, bagi siapa pun yang hendak masuk ke pasar ini, pemahaman soal kelangkaan, kondisi kartu, asal-usul, dan risiko volatilitas tetap menjadi kunci sebelum menganggapnya sebagai investasi.