DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Agusni AH menenun filosofi hidup melalui tiga puisi yang saling berjalin dalam satu napas makna: “Mengira”, “Retak”, dan “Kita Adalah Unsur”.
Dalam rangkaian puisi itu, ia seakan mengajak pembaca berjalan perlahan di lorong sunyi kehidupan menyaksikan harapan yang patah, kesombongan yang perlahan luruh, lalu kesadaran bahwa manusia hanyalah serpihan kecil dari semesta yang luas dan tak pernah benar-benar bisa digenggam.
Dalam “Mengira”, dunia hadir sebagai tempat singgah yang kerap disangka rumah abadi. Manusia sibuk menghitung usia, menakar cinta, dan menanggung kehilangan, sementara waktu terus bekerja dalam diam, mengikis segala sesuatu tanpa suara, tanpa belas.
Lalu dalam “Retak”, kehidupan menjelma cermin yang pecah. Dari sana, hati belajar bahwa tidak semua yang retak harus disesali. Justru dari celah-celah itulah cahaya kebijaksanaan perlahan masuk, mengajarkan bahwa luka kerap lebih jujur daripada kebahagiaan yang dipaksakan.
Sementara itu, “Kita Adalah Unsur” menjadi renungan yang paling dalam dan paling hening. Manusia dihadirkan sebagai angin, api, tanah, dan debu unsur-unsur yang bergerak mengikuti irama takdir semesta. Kadang menjadi badai yang mengamuk, kadang menjelma bara yang menyala, lalu akhirnya kembali tenang sebagai tanah: rendah, sunyi, dan menerima.
Ketiga puisi itu seolah menjadi satu tarikan panjang tentang kefanaan. Bahwa hidup bukan semata soal siapa yang paling kuat bertahan, melainkan siapa yang paling sanggup memahami makna pulang.
Berikut tiga puisi filosofi Agusni AH:
MENGIRA
Kita mengira dunia akan menetap
seolah pagi tak pernah menua,
seakan senja takkan tenggelam,
dan waktu bersedia duduk lebih lama di beranda kehidupan
Kita tahu dunia hanya persinggahan yang pandai menyamar menjadi keabadian,
lalu kita sibuk menghitung-hitung:
menghitung usia yang terus luruh,
menghitung luka yang tak juga sembuh,
menghitung siapa yang memberi untung dan siapa yang hanya memberi buntung, memilih mendekat atau menjauh,
Musim terus berganti tanpa meminta izin kepada siapa, kita, mereka yany tegar atau yang rapuh
Kita menggenggam segala yang dicintai terlalu erat,
hingga lupa bahwa seluruh yang ada di bumi
sedang berjalan menuju kehilangan masing-masing
Dan, pada akhirnya tak ada yang menetap...//(a.ah).
RETAK
Kita hanyalah debu
yang terkadang berterbangan dibawa angin,
tak punya arah selain takdir
yang diam-diam menggiring langkah pulang
Dan kita hanyalah pasir
yang menempel di punggung bumi:
rapuh, kecil, mudah hilang,
namun sering merasa paling abadi
Padahal waktu terus berjalan
seperti angin yang tak lelah menghapus jejak
Hari-hari menyeka nan menggulung usia,
sedang manusia sibuk mendirikan kesombongan
di atas kefanaan yang retak nan patah
Pada akhirnya kita akan mengerti,
bahwa hidup bukan tentang menjadi besar,
melainkan belajar tunduk pada nilai hakiki...//(a.ah).
KITA ADALAH UNSUR
Aku adalah angin
yang mula-mula hanya sulut kecil
lalu berubah menjadi badai,
mengguncang arah,
mencabik tenang yang selama ini diam
Aku adalah api
yang mengobar-ngobar di dada waktu,
membakar amarah, ambisi, dan kesombongan,
hingga abu-babu jatuh
menjadi pelajaran paling sunyi
Dan akhirnya aku adalah tanah,
tempat segala riuh kembali rebah:
dipijak, diinjak, lalu menerima setiap yang tinggi
akan kembali menjadi rendah
Sebab hidup hanyalah perjalanan unsur:
angin yang gelisah,
api yang membakar,
dan tanah yang mengajarkan istiqamah...//(a.ah).