Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Cerpen Agusni AH: Paket Putih di Ujung Senja

Cerpen Agusni AH: Paket Putih di Ujung Senja

Minggu, 10 Mei 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Agusni AH

Ilustrasi cerpen Agusni AH berjudul Paket Putih di Ujung Senja. [Foto: Desain ChatGPT]


DIALEKSIS.COM | Cerpen - Agusni AH, kembali menulis cerpen "Paket Putih di Ujung Senja", sebuah kisah tentang kebaikan, kesunyian, dan harapan.

PAKET PUTIH DI UJUNG SENJA

------------------------

Cerpen: Agusni AH

LELAKI senja itu terkesiap penuh heran. Sontak. Lalu pikirannya mencari-cari tahu siapa orang sebaik itu mengiriminya sekantung paket berharga dan menggantungkan di handle pintu rumahnya yang mulai lapuk dimakan usia.

Kantung paket putih itu pelan-pelan diraihnya. Sebelum rumahnya dibuka, lelaki itu perlahan meraihnya tak terburu-buru membukakan paket yang tanpa ada nama pengirimnya. Tanpa ragu pikirannya memastikan apa pun isi di dalamnya itu pastinya datang dari orang yang mungkin merasa prihatin atau iba padanya. Pada kehidupannya yang akhir-akhir ini kian sempit hidup sebatangkara setelah sebelumnya ditinggal pergi oleh perempuan yang sangat dicintai.

Tiga puluh tahun lalu istrinya pergi meninggalkannya setelah pertengkaran hebat karena Karim dianggap berkhianat.

Mereka pun benar-benar berpisah dengan lafaz cerai via selular pada suatu sore, menyusul setelahnya Rahimah memelas agar Karim melepaskannya. Dengan berbagai pertimbangan atas alasan cinta dan keduanya agar tidak terus menangguk dosa akibat pertengkaran yang tak kunjung selesai. Tanpa banyak kata Karim pun ikhlas menalak Rahimah.

Lima tahun kemudian, Rahimah melangsungkan pernikahan baru dengan seorang lelaki yang lebih mapan. Hanya satu alasan Rahimah harus melanjutkan hidup, selain kondisi kedua orangtuanya, perempuan muda itu juga perlu masa depan yang lebih cerah.

Dan sejak saat itu, hidup Karim seperti rumah tua yang kehilangan lampu di tengah malam.

Ia hidup sendiri. Tanpa suara perempuan yang dulu selalu memenuhi rumah kecil mereka dengan tawa sederhana.

Karim membawa paket putih itu masuk ke dalam rumah. Di meja kayu yang mulai rapuh, ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada sekotak obat-obatan dan beberapa jenis kue kering serta setoples asinan buah-buahan.

Napas Karim tertahan.

Ia mengenali semua benda itu adalah kebiasaan Rahimah menyajinya. Tangannya gemetar memegang seisi paket itu. Bola matanya berkaca-kaca. Hatinya terenyuh. Pikirannya melambung pada sebuah masa, saat-saat Karimah memanjakannya dengan sajian-sajian itu. Tak hanya ketika Karim sakit, dalam kondisi fit Karim kerap disuguhkan suplemen vitamin lainnya. "Minumlah, agar tubuhmu tak dihanggap penyakitan."

Rahimah duduk di sampingnya. Wajah Rahimah begitu muda. Matanya teduh dengan bulu alisnya seperti kepakan sayap elang. Di bawah hidung Karimah mancung menyembur dua ulas limo bibirnya yang ranum, ditambah barisan giginya yang putih tersusun rapi menjadikan Halimah begitu indah dipandang. Dan, semua itu milik Karim.

Delapan tahun rumah tangga mereka sebenarnya tidak hidup susah, jika pun tak tergolong mewah. Walau mereka pernah tinggal di kontrakan sempit beratap seng bocor. Saat hujan turun, Rahimah tertawa sambil memindahkan ember ke sana-sini menadah air.

“Kita seperti tinggal di bawah pancuran langit,” candanya suatu kali.

Dan Karim ikut tertawa.

Rahimah tak pernah banyak menuntut.

Ketika Karim hanya mampu membeli ikan asin, perempuan itu memasaknya seolah hidangan mahal. Bahkan sering kali diam-diam Rahimah mengaku kenyang agar Karim bisa makan lebih banyak.

Di halaman memori berikutnya, Rahimah berubah lebih sensitif.

Sedangkan Karim yang hari-hari sebagai pekerja lapangan, menjadikannya berperangai kasar. Meski sebenarnya Karimah tahu bahwa hati lelakinya itu masuk golongan mulia, terkadang melebihi lembut sutera. Namun tetap tak terelakkan, di antara kasih dan sayang penuh balutan cinta, kesalahpahaman tumbuh perlahan.

Dan fitnah itu akhirnya datang seperti minyak menyiram bara, api pun menyala-nyala.

Rumah kecil yang dulu penuh tawa berubah dipenuhi isak tangis.

Sampai sore itu tiba.

Sore yang tak pernah bisa dilupakan Karim sepanjang hidupnya.

Rahimah menangis di ujung telepon.

“Kalau memang aku hanya menjadi beban hidupmu, lepaskan aku…”

Sejak saat itu sunyi mendekapnya, selama tiga puluh tahun lamanya Karim dalam nestapa.

Di tengah mengamati isi paket satu per satu dengan sederet kenangan memasung jiwa Karim terkejut mendadak membaca pesan di ponselnya. Sebuah pesan panjang dari Karimah yang sejak tiga puluh tahun memblokirnya. "Tidak ada rumah yang paling aku rindukan selain rumah kecil kita dulu, Karim.

Aku rindu suara batukmu setiap subuh.

Aku rindu caramu mengajariku hidup, aku rindu ceramah-ceramahmu, aku rindu omelan-protesmu terhadap caraku bergaya, bergaul dan beebicara.

Aku bahkan rindu pertengkaran-petengkaran kecil kita, tapi aku sangat menyesali perpisahan ini."

Teks panjang itu mulai buram terkena tetesan air mata Karim.

"Delapan tahun bersamamu adalah rumah paling utuh yang pernah aku miliki.

Maaf karena aku terlalu cepat menyerah waktu itu."

Karim mengurut dadanya. Tak sanggup membendung airmata.

Tubuh tuanya gemetar.

Pada bagian paling bawah terdapat tulisan yang jauh lebih kecil: "aku sakit keras sekarang.

Jika paket ini sampai kepadamu, mungkin aku sudah tak sempat lagi pulang.

Maafkan aku, kau memang bukan suamiku. Tapi, kau adalah buku yang selalu kubaca di sepanjang hidupku. Dan, suamiku setelahmu telah lama meninggal. Aku membesarkan anak-anak semua, mereka kini telah berumahtangga."

Malam mulai turun.

Angin masuk dari celah dinding kayu membawa dingin yang panjang.

Karim duduk sendiri di bangku tua. Di luar hujan mulai membasahi, seiring malam yang kian memburam.

Lelaki tua itu mulai sesak tak lama kemudian rubuh dengan posisinya terbujur dan akhirnya terdiam sambil memeluk kantung paket putih yang datang di ujung senja. Kali ini Karim yang pergi seraya membawa mati kenangan dalam dekapannya untuk selamanya. [**]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI