Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Banjir Bandang Ubah Wajah DAS Peusangan, Pola Hidup Gajah Sumatera Ikut Terganggu

Banjir Bandang Ubah Wajah DAS Peusangan, Pola Hidup Gajah Sumatera Ikut Terganggu

Senin, 23 Februari 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Foto: Antara/Rahmat Fajri


DIALEKSIS.COM | Bener Meriah - Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tak hanya merusak bentang alam. Dampaknya turut mengubah ekosistem habitat gajah sumatera di kawasan tersebut.

Aliran Sungai Peusangan kini melebar hingga sekitar 200 meter di sejumlah titik. Longsor yang terjadi pada akhir November 2025 membentuk tebing-tebing baru di sepanjang bantaran sungai, menghilangkan sejumlah titik yang sebelumnya menjadi lokasi pakan dan sumber air bagi gajah.

Penjaga gajah jinak di Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan, Wahdi, mengakui perubahan lanskap itu berpengaruh langsung terhadap aktivitas harian gajah binaan mereka.

“Kalau kondisi setelah bencana itu memang ada sedikit perubahan, karena gajah-gajah jinak ini kita cari makannya, dan ada beberapa tempat yang memang tempatnya sudah hilang, sudah kena longsor,” kata Wahdi, Senin (23/2/2026).

Menurut dia, lokasi yang biasa digunakan untuk memberi minum juga tak lagi bisa diakses. “Tempat yang biasanya kami kasih minum sudah jadi semacam tebing, jadi kami tidak bisa turun lagi ke situ,” ujarnya.

Gajah dikenal memiliki ingatan spasial yang kuat. Mereka cenderung setia pada jalur jelajah dan sumber pakan yang sama secara turun-temurun. Perubahan mendadak pada ekosistem otomatis mengganggu pola kebiasaan kawanan, baik gajah jinak maupun liar.

Saat ini, CRU DAS Peusangan merawat tiga ekor gajah sumatera jinak dengan usia rata-rata 35 tahun. Perawatan dilakukan secara intensif, mulai dari memandikan dua kali sehari hingga melatih mereka berjalan mengikuti pola ekosistem alaminya.

Wahdi menjelaskan, latihan rutin juga dilakukan untuk memastikan kondisi fisik tetap terjaga. “Ada latihan angkat kaki, lalu pemeliharaan seperti membuka mulut supaya kami bisa cek kondisi giginya, apakah bermasalah atau tidak,” katanya.

Dampak bencana tak hanya dirasakan gajah binaan. Kawanan gajah liar di sekitar DAS Peusangan juga terdampak. Pelebaran sungai membuat mereka kerap kesulitan menyeberang, sehingga berpotensi mengubah jalur migrasi alami dan meningkatkan risiko konflik dengan manusia.

Di tengah situasi tersebut, komitmen konservasi kembali disuarakan pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan dukungan terhadap upaya pelestarian gajah sumatera yang populasinya kian terancam.

Pemerintah bahkan menghibahkan lahan seluas 20 ribu hektare kepada World Wildlife Fund (WWF) untuk memperkuat langkah konservasi, termasuk memitigasi konflik satwa liar di Aceh.

Namun di DAS Peusangan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kerja konservasi bukan sekadar soal komitmen dan luasan lahan. Perubahan bentang alam akibat bencana menjadi tantangan baru yang menuntut adaptasi cepat, demi menjaga keberlanjutan habitat gajah sumatera di jantung hutan Aceh.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI