Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / BPMA Imbau Warga Aceh Tak Panic Buying BBM Selama Ramadan hingga Idulfitri

BPMA Imbau Warga Aceh Tak Panic Buying BBM Selama Ramadan hingga Idulfitri

Sabtu, 07 Maret 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal, mengimbau masyarakat di Provinsi Aceh agar tidak khawatir terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) selama bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Ia memastikan pasokan energi yang dikelola dan disalurkan melalui sistem distribusi nasional tetap berada dalam kondisi aman dan siap memenuhi kebutuhan masyarakat.

BPMA bersama para pemangku kepentingan di sektor energi, termasuk Pertamina, terus melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan pasokan di wilayah Aceh.

“Pasokan energi untuk masyarakat Aceh dalam kondisi aman dan siap memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri. Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan,” kata Nasri Djalal kepada media dialeksis.com, Sabtu (7/3/2026).

Selain menjaga ketersediaan pasokan, pihak terkait juga melakukan mitigasi untuk memastikan ketahanan energi tetap terjaga selama periode peningkatan konsumsi masyarakat pada Ramadan dan Idulfitri.

“Berbagai langkah antisipasi telah kami lakukan, mulai dari build up stock, penguatan sarana distribusi, hingga koordinasi aktif dengan berbagai pihak terkait. Kami memastikan ketersediaan pasokan BBM dan LPG bagi masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu melakukan panic buying karena stok energi terus dipantau dan dijaga agar tetap tersedia di seluruh wilayah operasional.

Nasri juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan energi secara bijak, efisien, dan sesuai kebutuhan. Ia menegaskan bahwa pembelian energi secara berlebihan justru berpotensi mengganggu sistem distribusi yang telah diatur secara terukur.

“Masyarakat tidak perlu membeli secara berlebihan. Stok energi dijaga tetap aman dengan pola distribusi yang terencana,” katanya.

Selain itu, ia turut mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan penimbunan BBM maupun LPG. Tindakan tersebut melanggar ketentuan yang berlaku dan dapat dikenai sanksi hukum.

“Penimbunan energi tidak dibenarkan dan memiliki konsekuensi hukum. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban distribusi energi,” tambahnya.

Sementara itu, secara nasional pemerintah juga memastikan bahwa ketersediaan energi berada dalam kondisi aman. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya telah memberikan klarifikasi terkait isu stok BBM yang disebut hanya tersisa 20 hari akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Bahlil menjelaskan bahwa kapasitas penyimpanan minyak di Indonesia sejak lama memang berada pada kisaran 25 hari. Namun, kondisi tersebut masih berada di atas standar minimal ketersediaan nasional.

“Standar minimal ketersediaan kita itu di atas 20 hari. Saat ini stok minyak kita sekitar 23 hari, sehingga masih dalam kondisi aman. Jadi tidak perlu ada panic buying, suplai tetap lancar,” ujar Bahlil.

Ia juga menjelaskan bahwa minyak yang diimpor Indonesia dari kawasan Timur Tengah sebagian besar berupa minyak mentah, bukan minyak jadi. Porsinya berkisar antara 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan.

Meski demikian, pemerintah memastikan sistem pasokan energi nasional tetap berjalan normal dan tidak mengganggu distribusi BBM kepada masyarakat. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI