Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Imlek 2577, Warga Tionghoa Rayakan Kesederhanaan dan Doa Korban Bencana Aceh

Imlek 2577, Warga Tionghoa Rayakan Kesederhanaan dan Doa Korban Bencana Aceh

Selasa, 17 Februari 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Umat Katolik keturunan Tionghoa di Banda Aceh berkumpul untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Gereja Katolik Hati Kudus Banda Aceh, Selasa (17/2/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Umat Katolik keturunan Tionghoa di Banda Aceh berkumpul untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Gereja Katolik Hati Kudus Banda Aceh, Selasa (17/2/2026).

Dengan penuh kesederhanaan, mereka seraya memanjatkan doa khusus bagi masyarakat Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi.

Tidak ada kemeriahan berlebihan dalam perayaan tahun ini. Umat memilih merayakan Imlek dengan refleksi spiritual dan kebersamaan yang hening, sebagai bentuk empati terhadap saudara-saudara mereka yang masih berjuang menghadapi dampak bencana.

Salah seorang warga keturunan Tionghoa di Banda Aceh, Kevin Leonardi, mengatakan bahwa Imlek bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga momentum spiritual untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama.

“Imlek bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga momentum spiritual. Kami memanjatkan doa bukan hanya untuk kebahagiaan pribadi dan keluarga, tetapi juga untuk keselamatan seluruh masyarakat Aceh, khususnya mereka yang sedang menghadapi musibah,” ujar Kevin kepada media dialeksis.com, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, kesederhanaan dalam perayaan tahun ini justru memperdalam makna Imlek sebagai waktu untuk merenung, bersyukur, dan mempererat solidaritas sosial.

“Kami ingin berbagi rasa dan menunjukkan bahwa kami juga bagian dari masyarakat Aceh. Doa kami panjatkan agar semua yang terdampak bencana diberikan kekuatan, keselamatan, dan segera bangkit kembali,” tambahnya.

Dalam misa yang berlangsung khusyuk, umat secara khusus memanjatkan doa bagi para korban bencana, para pemimpin, serta bagi kerukunan antarumat beragama di Aceh.

Keheningan doa dan suasana penuh pengharapan menjadi simbol solidaritas lintas komunitas yang hidup dalam harmoni.

Imam Katolik, RP. Budi Alen Agustinus Yosua Ratag, OCD, yang akrab disapa P. Budi, menegaskan bahwa perayaan Imlek tahun ini memang disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat Aceh.

“Kami ingin tetap merayakan dengan penuh makna, tetapi juga menunjukkan solidaritas kepada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah. Ini adalah wujud kepedulian dan cinta kasih kepada sesama,” ujarnya.

Ia menambahkan, doa yang dipanjatkan dalam perayaan Imlek tahun ini tidak hanya ditujukan bagi komunitas Tionghoa, tetapi bagi seluruh masyarakat Aceh agar diberikan kekuatan dan harapan baru.

“Kami berharap Tahun Baru Imlek ini membawa kedamaian, harapan baru, dan kebaikan bagi semua, khususnya bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI