DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Direktur Karst Aceh, Abdillah Imron Nasution mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan di kawasan karst Mata Ie sejak 2008, ternyata sumber air Mata Ie Aceh Besar sudah mengalami kekeringan sejak 2017.
Perubahan status mata air ini menjadi penanda serius terganggunya sistem bentang alam karst di kawasan tersebut.
“Dulu kita identifikasi Mata Ie sebagai mata air perenial, artinya mengalir sepanjang tahun. Tapi sejak 2017 dia sudah berubah jadi periodik, tergantung musim. Itu tanda ada gangguan besar di sistem karstnya,” ujar Abdillah kepada media dialeksis.com, Kamis (5/2/2026)
Abdillah menjelaskan, tanda-tanda potensi kekeringan sebenarnya sudah terdeteksi hampir dua dekade lalu. Namun laju kerusakan lingkungan membuat dampaknya muncul lebih cepat dari perkiraan.
“Waktu kajian tahun 2008, kami sudah memprediksi suatu saat Mata Ie bisa mengering sepuluh tahun kedepan, Perkiraan kami meleset setahun kami pikir lebih lambat, ternyata 2017 sudah kering duluan,” katanya.
Menurutnya, kekeringan itu bukan peristiwa mendadak, melainkan hasil akumulasi perubahan lingkungan yang berlangsung perlahan di kawasan karst.
“Karst itu sumber daya alam tidak terbarukan. Kalau hutan ditebang masih bisa ditanam kembali. Tapi batu gamping tidak bisa kita tanam ulang. Sekali rusak, ya rusak selamanya,” tegasnya.
Dalam sistem karst, batu gamping berfungsi menyerap dan menyimpan air hujan sebelum mengalirkannya secara perlahan melalui mata air. Fungsi ini sangat bergantung pada kondisi batuan dan tutupan vegetasi.
“Kalau batu gamping dihancurkan atau diambil, potensinya menyimpan air ikut hilang. Vegetasi juga penting untuk menjaga suhu mikro dan membantu proses peresapan air,” jelas Abdillah.
Ia menambahkan, pembukaan lahan yang tidak terkendali membuat suhu kawasan meningkat. Kondisi ini mempercepat penguapan dan mengurangi air yang sempat meresap ke bawah tanah.
“Ketika kawasan karst rusak, iklim mikronya meningkat, jadi lebih panas. Air perkolasi berkurang, sumber air pun menyusut," ujarnya.
Sebagai upaya pemulihan, Abdillah merekomendasikan penanaman pohon di lereng dengan kemiringan di atas 25 derajat. Namun ia menegaskan jenis tanaman harus diperhatikan.
“Kami anjurkan pohon buah, jangan pohon yang akarnya bisa merusak batu gamping seperti beringin,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga semak-semak alami. “Semak itu sering dianggap tidak berguna, padahal dia membantu menahan air dan memperlambat aliran permukaan supaya air sempat meresap," tutupnya.[nh]