Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Mahasiswa Tantang Prabowo Cek Langsung Pengungsi, Ribuan Warga Aceh Masih di Tenda

Mahasiswa Tantang Prabowo Cek Langsung Pengungsi, Ribuan Warga Aceh Masih di Tenda

Senin, 23 Maret 2026 20:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tengku Raja Aulia Habibie. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menyebut tidak ada lagi pengungsi banjir di Aceh yang tinggal di tenda menuai kritik dari kalangan mahasiswa.

Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tengku Raja Aulia Habibie, menilai klaim tersebut tidak sesuai dengan kondisi nyata yang masih terjadi di berbagai wilayah terdampak bencana.

Menurutnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ribuan warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian akibat kerusakan rumah dan belum tersedianya hunian sementara yang memadai.

“Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Jangan menipu masyarakat Aceh dan Indonesia. Ribuan warga hingga hari ini masih tinggal di tenda dan belum mendapatkan tempat tinggal yang layak,” ujar Aulia Habibie kepada media dialeksis.com, Senin (23/3/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis, 19 Maret 2026, masih terdapat sekitar 5.000 hingga 6.000 jiwa yang bertahan di tenda pengungsian. Para pengungsi tersebut tersebar di sejumlah daerah terdampak banjir dan bencana hidrometeorologi, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Timur.

Sebagian besar warga, kata dia, belum dapat kembali ke rumah masing-masing karena kerusakan berat akibat banjir, sementara proses pemulihan dan pembangunan hunian sementara dinilai belum berjalan merata.

Aulia juga menyoroti kondisi masyarakat yang masih mengalami kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari di pengungsian, terutama selama bulan Ramadan.

Keterbatasan fasilitas serta kebutuhan dasar membuat banyak keluarga harus menjalani ibadah puasa dalam kondisi yang jauh dari layak.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Bulan Ramadan yang seharusnya penuh ketenangan justru dijalani dengan keterbatasan. Bahkan saat Idulfitri, masih banyak masyarakat yang belum keluar dari tenda pengungsian,” ujarnya.

Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana masih jauh dari kata selesai. Ia menilai pemerintah terlalu cepat menyampaikan klaim keberhasilan tanpa melihat secara menyeluruh kondisi di lapangan.

“Pemerintah hanya janji-janji. Percepatan pemulihan yang dikatakan selama ini berjalan lambat. Jangan hanya fokus pada pencitraan dan laporan yang belum tentu benar, sementara masyarakat masih menderita,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengkritik cara pemerintah pusat dalam menerima informasi mengenai situasi di daerah terdampak bencana. Ia menilai keputusan dan pernyataan yang disampaikan ke publik kerap hanya berdasarkan laporan administratif.

“Presiden jangan hanya melihat laporan palsu dan angka-angka di atas kertas. Jika pemerintah tidak bisa melihat dan tidak bisa menyampaikan fakta yang sebenarnya, maka biar kami yang akan menunjukkan fakta di lapangan,” tegasnya.

Aulia bahkan menantang Presiden untuk datang langsung ke lokasi pengungsian tanpa protokoler resmi agar dapat melihat kondisi masyarakat secara apa adanya.

“Jika Presiden benar-benar ingin melihat fakta, datanglah tanpa pengawalan, tanpa embel-embel jabatan, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Datanglah sebagai rakyat dan sebagai manusia, agar bisa melihat langsung bagaimana penderitaan masyarakat yang masih tinggal di tenda,” ujarnya

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kondisi masyarakat korban bencana yang hingga kini masih berjuang untuk bangkit.

Menurutnya, perhatian pemerintah seharusnya difokuskan pada percepatan pemulihan, pemerataan distribusi bantuan, serta pembangunan hunian yang layak bagi para korban.

“Jangan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat. Negara harus hadir secara nyata untuk memastikan para korban bisa kembali hidup dengan layak,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI