Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Menavigasi Era Kompetisi: Risiko Global & Masa Depan Pekerjaan

Menavigasi Era Kompetisi: Risiko Global & Masa Depan Pekerjaan

Sabtu, 14 Februari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Dekan FEB USK Prof Faisal bersama Rektor Universitas Andalas Dr Efa Yonnedi. Foto: doc pribadi/Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, memberikan kuliah umum bertajuk Menavigasi Era Kompetisi: Risiko Global & Masa Depan Pekerjaan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Jumat (13/2/2026).

Dalam paparannya, Efa menyoroti hubungan erat antara dinamika geopolitik, perubahan iklim, percepatan teknologi, serta implikasinya terhadap praktik akuntansi dan masa depan dunia kerja. 

Ia menegaskan bahwa organisasi dan profesional akuntansi saat ini berada di tengah situasi “polikrisis” yang menuntut agility atau kelincahan strategis dalam merespons perubahan global.



Menurut Efa, terdapat empat perubahan struktural utama yang tengah membentuk ulang peta risiko global, yakni pergeseran geostrategis (geostrategic shifts), bifurkasi demografis, dampak perubahan iklim, dan percepatan teknologi. 

"Kombinasi faktor-faktor tersebut, katanya, menciptakan tantangan baru dalam tata kelola perusahaan, pengukuran risiko, hingga penyajian laporan keuangan yang andal di tengah ketidakpastian," ujarnya. 

Dalam pemaparannya mengenai risiko jangka pendek dan panjang, Efa mengingatkan meningkatnya ancaman konfrontasi geoekonomi, misinformasi dan disinformasi, konflik bersenjata, serta peristiwa cuaca ekstrem. Seluruh faktor itu berpotensi menimbulkan kerentanan material bagi entitas bisnis. Karena itu, ia menekankan pentingnya akuntan dan regulator mempertimbangkan faktor eksternal tersebut dalam penyusunan asumsi, estimasi, serta pengungkapan dalam laporan keuangan.

Salah satu sorotan utama dalam kuliah umum tersebut adalah paradoks teknologi. Di satu sisi, perkembangan teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI) membuka peluang produktivitas dan nilai ekonomi yang signifikan. Namun di sisi lain, teknologi juga memperluas spektrum risiko, mulai dari keamanan siber hingga ancaman disinformasi.



“Teknologi tidak lagi cukup dipandang sebagai alat, tetapi sebagai mitra kolaborasi manusia, agen, dan robot yang harus diorkestrasikan secara etis dan akuntabel,” ungkapnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Efa merekomendasikan penguatan kompetensi hibrida bagi lulusan dan profesional, antara lain kefasihan AI (AI fluency), keamanan siber, analisis data, serta keterampilan yang mendukung transisi hijau. Di samping itu, ia menekankan pentingnya “keunggulan manusia” seperti kepemimpinan transformasional, kecerdasan emosional, komunikasi, dan adaptabilitas sebagai nilai pembeda yang tidak tergantikan oleh otomasi.

Kuliah umum ini ditutup dengan ajakan kolaboratif kepada institusi pendidikan tinggi, regulator, dan pelaku usaha untuk membangun kapasitas adaptif. Ia mendorong pendekatan berkelanjutan melalui proses learn, apply, hingga unlearn dan relearn sebagai strategi kolektif menghadapi ketidakpastian global.

Kegiatan yang berlangsung interaktif tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab, memperlihatkan antusiasme sivitas akademika terhadap isu geopolitik, perubahan iklim, dan transformasi profesi akuntansi di era disrupsi global.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI