DIALEKSIS.COM | Subulussalam - Sejumlah sopir lintas Barat Selatan (Barsela) Aceh menyatakan keberatan atas kondisi jalan rusak di kawasan Gunung Kedabuhan, Desa Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Mereka bahkan berencana melakukan aksi massa jika tidak ada perbaikan dalam waktu dekat.
Zulkarnaen, yang akrab disapa Ketua Zol, menyebut para sopir sudah terlalu lama bersabar menghadapi kondisi infrastruktur yang rusak di jalur tersebut.
“Hampir 10 unit mobil sudah kejadian. Dari pihak Ombudsman Aceh, cuma disuruh foto-foto. Seperti tidak ada arti. Pihak wali kota setempat juga tidak ada turun,” kata Zol saat dihubungi media dialeksis.com, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, kecelakaan terbaru kembali terjadi pekan lalu. Sebuah truk bermuatan berat dilaporkan patah as saat menanjak di titik paling curam Gunung Kedabuhan sebelum akhirnya terperosok.
“Kondisi tanjakan sudah tidak mendukung lagi,” ujarnya.
Zol menilai topografi jalan yang ekstrem diperparah oleh kerusakan infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki. Aspal yang terkelupas, permukaan jalan tidak rata, serta minimnya pengaman di sisi jurang membuat kendaraan berat kehilangan traksi saat mendaki.
“Kita ini nasib driver cuma mengharap kepada manusia. Kalau tidak ada tindakan nyata, kami mau bagaimana lagi?” keluhnya.
Ia mengungkapkan, para sopir bahkan sempat berinisiatif melakukan penimbunan secara swadaya untuk mengurangi risiko kecelakaan. Namun rencana itu urung dilakukan karena khawatir menyalahi aturan.
“Kami mau angkut tanah dan timbun sendiri, cuma takut nanti dibilang salah. Tapi kalau dibiarkan begini, tiap bulan ada saja yang celaka,” tambahnya.
Sementara itu, Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh telah memulai investigasi terkait dugaan kelalaian dalam penanganan kerusakan jalan di kawasan tersebut.
Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Aceh, Dian Rubianty, menyatakan timnya sudah turun ke lapangan untuk meninjau langsung titik rawan kecelakaan di Gunung Kedabuhan.
“Data sedang kami kumpulkan dan segera dilakukan klarifikasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN),” ujarnya.
Gunung Kedabuhan dikenal sebagai salah satu titik paling rawan di jalur Barsela yang menghubungkan Aceh dengan Sumatera Utara. Jalur ini menjadi urat nadi distribusi logistik, termasuk hasil perkebunan dan bahan bangunan.
“Kami ini bawa muatan berat. Kalau rem panas atau as patah di tengah tanjakan seperti itu, tidak ada ruang untuk selamat,” kata Zol.
Ia menegaskan, jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret dari pemerintah maupun instansi teknis untuk memperbaiki jalan, para sopir akan menggalang aksi bersama sebagai bentuk protes.
“Jangan sampai tunggu korban jiwa lagi baru serius. Kami cuma minta jalan yang layak dan aman,” tutupnya. [nh]