Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / BMKG Deteksi 18 Titik Panas di Aceh, Waspadai Karhutla dan Cuaca Ekstrem

BMKG Deteksi 18 Titik Panas di Aceh, Waspadai Karhutla dan Cuaca Ekstrem

Sabtu, 11 April 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi petugas BMKG mengamati layar komputer yang menampilkan informasi cuaca, meteorologi dan geofisika. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh kembali mendeteksi belasan titik panas (hotspot) di wilayah Aceh. Temuan ini berdasarkan hasil pemantauan sensor MODIS dari Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, serta NOAA20/VIIRS pada 9 April 2026 mulai pukul 00.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Aceh, Anang Arianto, dalam laporan resmi yang diterima, Jumat (10/4/2026), menyebutkan bahwa keberadaan hotspot tersebut perlu menjadi perhatian serius masyarakat dan pemerintah daerah.

“Ada 18 titik panas yang terdeteksi dalam 24 jam terakhir. Sebagian besar berada di wilayah Aceh Tamiang, dengan 14 titik di Kecamatan Sekerak dan Karang Baru. Sementara dua titik lainnya masing-masing terpantau di Kabupaten Gayo Lues dan Kota Lhokseumawe,” ujar Anang.

Ia menjelaskan, tingkat kepercayaan hotspot dibagi dalam tiga kategori, yakni zona hijau (rendah), zona kuning (sedang/siaga), dan zona merah (tinggi). Jika hotspot telah berada pada zona merah, maka indikasinya kuat sebagai titik api yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi umumnya sudah mengarah pada titik api. Ini yang harus diwaspadai karena berpotensi menimbulkan kebakaran,” jelasnya.

Selain potensi karhutla, BMKG Aceh juga mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Aceh pada 10 April 2026 pukul 21.14 WIB hingga 00.35 WIB. Dalam periode tersebut, sebagian besar wilayah Aceh berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang.

Wilayah yang berada dalam kategori peringatan dini tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota, termasuk Aceh Besar, Pidie, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Timur, Gayo Lues, hingga Aceh Selatan. Bahkan, kondisi ini diperkirakan dapat meluas ke sejumlah daerah lainnya.

BMKG mengingatkan bahwa kombinasi antara kondisi cuaca ekstrem dan kemunculan hotspot dapat meningkatkan risiko bencana, baik kebakaran lahan maupun dampak hidrometeorologi seperti banjir dan pohon tumbang.


Memasuki musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.


“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Hindari penggunaan api secara sembarangan, termasuk membuang puntung rokok dan membakar sampah,” tegas Anang.


BMKG juga meminta pemerintah daerah untuk memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla dan cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara bersamaan.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI