DIALEKSIS.COM | Jakarta - Israel telah membunuh tiga jurnalis dalam gelombang serangan terbarunya di Lebanon, termasuk di lingkungan sipil di Beirut, Lembah Bekaa, daerah lainnya, serta Jalur Gaza yang dilanda perang.
Menurut media lokal, serangan udara Israel yang terpisah di Lebanon pada hari Rabu kemarin menewaskan Ghada Dayekh, presenter di stasiun radio Sawt al-Farah, dan Suzan Khalil, reporter untuk saluran televisi al-Manar serta stasiun radio al-Nour yang berafiliasi dengan Hizbullah.
Pembunuhan ini terjadi kurang dari dua minggu setelah sebelumnya, Israel juga membunuh tiga jurnalis terkemuka dengan serangan pesawat tak berawak di Lebanon selatan pada 28 Maret lalu.
Media Lebanon melaporkan, saat itu sebuah pesawat tak berawak Israel menembakkan setidaknya empat rudal ke sebuah sedan saat melaju di sepanjang jalan di pinggiran kota Jezzine, menewaskan ketiga orang di dalamnya.
Sumber keamanan mengidentifikasi para korban itu adalah Ali Shuaib, Mohammed Fatouni, dan Fatima Fatouni, koresponden untuk saluran televisi al-Manar dan al-Mayadeen.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun mengecam keras tindakan agresi Israel, dan bersumpah bahwa pemerintah Beirut akan menjajaki semua saluran internasional untuk menghentikan serangan berulang oleh rezim pendudukan Israel di wilayah Lebanon.
Pada hari Rabu juga, Mohammed Samir Washah, seorang koresponden untuk jaringan berita televisi al-Jazeera Mubasher yang berbasis di Qatar, juga dibunuh Israel dengan pesawat tak berawak saat koresponden itu mengendarai mobilnya di Kota Gaza.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengutuk pembunuhan para jurnalis akibat serangan Israel di Gaza dan Lebanon dalam satu hari, dan menyerukan tindakan internasional serta pertanggungjawaban yang mendesak.
"Ini bukan tragedi terisolasi, Ini mencerminkan kegagalan sistematis untuk menegakkan perlindungan paling mendasar yang seharusnya diberikan kepada jurnalis sipil berdasarkan hukum internasional," kata Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, dalam sebuah pernyataan.
Ia menambahkan bahwa tanpa pertanggungjawaban, serangan-serangan ini akan terus meningkat.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya pemboman Israel di seluruh Lebanon meskipun ada gencatan senjata antara AS dan Iran, gencatan senjata yang dimaksudkan untuk menghentikan permusuhan regional.
Menurut CPJ, perang di Gaza telah menjadi konflik paling mematikan bagi jurnalis yang pernah tercatat, dengan setidaknya 260 orang tewas sejak Oktober 2023.
Sejumlah jurnalis juga tewas di Lebanon dalam beberapa pekan terakhir menyusul serangan militer secara tiba-tiba dalam skala besar dan tanpa provokasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel kepada Iran pada 28 Februari 2026. [Times Indonesia]