Kamis, 02 Juli 2026
Beranda / Data / Empat Tahun Memimpin, Prof Ishak Hasan Bawa UTU Transformasi Kampus Berkelas

Empat Tahun Memimpin, Prof Ishak Hasan Bawa UTU Transformasi Kampus Berkelas

Kamis, 02 Juli 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Prof. Dr. Ishak Hasan, M.Si. sebagai Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) periode 2022 - 2026. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh - Masa kepemimpinan Prof. Dr. Ishak Hasan, M.Si. sebagai Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) periode 2022 - 2026 meninggalkan sejumlah capaian penting bagi kampus negeri di wilayah Barat Selatan Aceh. Hasil penelusuran riset digital Dialeksis dari dokumen capaian, laman resmi UTU, data pemeringkatan, dan sumber regulasi menunjukkan UTU mengalami penguatan pada aspek akademik, tata kelola, akreditasi, prestasi institusi, sarana prasarana, hingga perluasan jejaring kerja sama nasional dan internasional.

Momentum akhir masa jabatan Prof. Ishak Hasan juga bertepatan dengan transisi kepemimpinan UTU. Pada 30 Juni 2026, Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd. resmi dilantik sebagai Rektor UTU periode 2026 - 2030. Dalam prosesi itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menyampaikan apresiasi kepada Prof. Ishak Hasan atas dedikasi dan pengabdiannya bagi kemajuan UTU selama periode 2022 - 2026.

Salah satu capaian paling menonjol adalah ekspansi program studi. Pada awal periode 2022, UTU memiliki 20 program studi pada enam fakultas. Dalam tiga tahun terakhir, UTU menambah 13 program studi baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 33 program studi pada 2025, termasuk lima program magister dan satu program profesi. UTU menyebut penambahan ini sebagai bagian dari kebijakan memperluas akses pendidikan tinggi bermutu bagi masyarakat Aceh Barat Selatan dan masyarakat luas.

Ekspansi akademik itu menyasar kebutuhan masa depan dunia kerja dan industri. Dalam dokumen capaian yang dihimpun Dialeksis, penambahan prodi tersebar di Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, FISIP, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Kesehatan, serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Beberapa di antaranya mencakup Peternakan, Biosains Hewan, Bisnis Digital, Teknologi Informasi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Sains Keolahragaan, Magister Pertanian, Magister Ekonomi Pembangunan, Magister Sosiologi, Magister Perikanan, serta Program Profesi Insinyur.

Pada saat yang sama, UTU juga memperkuat tata kelola kelembagaan. Pemerintah menerbitkan Permendikbudristek Nomor 38 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Teuku Umar. Regulasi yang berlaku sejak 7 Agustus 2024 itu mengatur kedudukan, tugas, fungsi, susunan organisasi, tata kerja, jabatan, pengangkatan, pemberhentian, serta perubahan organisasi dan tata kerja UTU.

Perubahan OTK tersebut ikut mengubah nomenklatur sejumlah unsur organisasi. Fakultas Ekonomi menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Kesehatan Masyarakat menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan, serta terjadi penguatan struktur pada bidang wakil rektor, biro, lembaga penjaminan mutu, dan unit penunjang akademik. Dalam konteks kampus yang sedang bertumbuh, perubahan ini menjadi fondasi penting untuk menata birokrasi akademik agar lebih adaptif terhadap kebutuhan layanan pendidikan tinggi.

Dari sisi mutu, UTU mempertahankan Akreditasi Perguruan Tinggi dengan predikat Baik Sekali. Dokumen capaian mencatat empat program studi meraih akreditasi Unggul, yaitu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kelautan, Ilmu Administrasi Negara, dan Ilmu Komunikasi. Selain itu, terdapat 11 prodi berakreditasi Baik Sekali, 11 prodi berakreditasi Baik, dua prodi berakreditasi B, dan lima prodi dengan akreditasi pertama.

Salah satu capaian mutu yang terkonfirmasi secara terbuka adalah Prodi Kesehatan Masyarakat UTU yang memperoleh akreditasi Unggul pada 2024. Rektor UTU Prof. Ishak Hasan saat itu menyebut capaian tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil perencanaan matang dan kerja keras seluruh tim.

Di bidang tata kelola kinerja, tren Laporan SAKIP UTU juga menunjukkan perbaikan. Dokumen capaian mencatat predikat SAKIP UTU bergerak dari C pada 2022, naik menjadi BB pada 2023, kemudian mencapai A pada 2024 dan 2025. Perbaikan ini memperlihatkan adanya penguatan akuntabilitas kinerja institusi dalam masa kepemimpinan Prof. Ishak Hasan.

Prestasi institusi UTU turut menguat pada level nasional. Pada Anugerah Diktisaintek 2025, UTU meraih lima penghargaan, termasuk Gold Winner untuk capaian Indikator Kinerja Utama atau IKU, Bronze Winner Pelaporan PDDikti Terbaik, serta dua Bronze Winner pada kategori kerja sama dengan pemerintah/LSM dan kerja sama dengan industri. Penghargaan itu diterima langsung oleh Prof. Ishak Hasan di Jakarta pada 19 Desember 2025.

Setahun sebelumnya, UTU juga mencatatkan enam penghargaan dalam Anugerah Diktisaintek 2024. Prof. Ishak Hasan menyebut penghargaan tersebut sebagai motivasi untuk terus meningkatkan tata kelola kelembagaan, memperbanyak inovasi, dan melahirkan program yang berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Capaian lain yang menonjol adalah masuknya UTU dalam Klaster Utama bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Prof. Ishak Hasan menyampaikan bahwa kenaikan klaster tersebut merupakan hasil kontribusi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tim LPPM-PMP dalam meningkatkan kinerja penelitian dan pengabdian.

Pada aspek keberlanjutan kampus, UTU juga mencatat prestasi signifikan. UI GreenMetric World University Rankings 2025 menempatkan Universitas Teuku Umar pada peringkat 113 dunia, peringkat 21 Indonesia, dan peringkat 55 Asia. Capaian ini memperkuat citra UTU sebagai salah satu kampus hijau berkelanjutan yang menonjol di Aceh.

Di luar prestasi akademik dan tata kelola, pembangunan sarana prasarana menjadi bagian penting dalam periode 2022 - 2026. Dokumen capaian mencatat sejumlah fasilitas yang beroperasi atau dibangun, antara lain Gedung Kuliah Terintegrasi sektor C, Pusat Edukasi Tsunami Aceh hibah Pemerintah Jepang, laboratorium Teaching Industry Pakan Ikan bantuan PT Mifa Bersaudara, laboratorium kultur jaringan, revitalisasi university farm, fasilitas olahraga, gym, PAUD, ruang dosen, sekretariat UKM, pos keamanan, hingga rusunawa mahasiswi.

Pada Juni 2026, jumlah mahasiswa aktif UTU tercatat sebanyak 9.137 orang. Angka ini menunjukkan UTU semakin berperan sebagai pusat pendidikan tinggi negeri bagi kawasan Barat Selatan Aceh, sekaligus menjadi penopang peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah yang selama ini membutuhkan pemerataan akses pendidikan tinggi.

Jejak kepemimpinan Prof. Ishak Hasan juga terlihat dari penguatan kerja sama. Pada level nasional, UTU menandatangani MoU dengan Universitas Gadjah Mada pada 12 Juli 2024. Ruang lingkupnya meliputi pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, MBKM, pengembangan SDM, serta peluang kerja sama lain yang disepakati kedua pihak.

Pada level internasional, UTU memperluas jaringan ke Australia, Thailand, Malaysia, hingga Rusia. UTU menandatangani MoU dengan Southern Cross University Australia untuk penguatan akademik, riset, community service, serta isu agro-marine dan lingkungan. Kerja sama tersebut juga membuka peluang pertukaran mahasiswa dan dosen, riset bersama, publikasi ilmiah, dan penawaran beasiswa.

UTU juga menjalin kerja sama dengan Prince of Songkla University Thailand pada 3 Oktober 2024 untuk penguatan akademik dan riset internasional, terutama merespons isu ESG dan SDGs. Prof. Ishak Hasan menyebut kerja sama itu penting bagi program internasionalisasi UTU dan visi kampus sebagai referensi bidang agro-marine industry.

Selain Asia Tenggara dan Australia, UTU membuka jejaring ke Rusia melalui kerja sama dengan Kazan State Power Engineering University. MoU tersebut mencakup pengembangan proyek penelitian bersama, kegiatan pendidikan dan ilmiah, pertukaran akademik, pertukaran mahasiswa, publikasi, serta pengembangan program pendidikan bersama.

Rangkaian capaian tersebut menunjukkan bahwa Prof. Ishak Hasan memimpin UTU dalam fase konsolidasi dan ekspansi. Kampus yang lahir dari kebutuhan pendidikan tinggi masyarakat Barat Selatan Aceh itu tidak hanya menambah jumlah program studi, tetapi juga memperbaiki struktur kelembagaan, memperkuat mutu akademik, membangun fasilitas, memperluas jejaring, dan meningkatkan posisi dalam pemeringkatan nasional maupun internasional.

Meski demikian, tantangan UTU ke depan tetap besar. Penambahan program studi menuntut kesiapan dosen, laboran, ruang belajar, fasilitas praktikum, sistem administrasi, serta pembiayaan yang berkelanjutan. Kerja sama yang telah ditandatangani juga perlu terus diturunkan menjadi program nyata, seperti riset kolaboratif, mobilitas mahasiswa dan dosen, publikasi bersama, hilirisasi inovasi, dan dampak langsung bagi masyarakat Aceh.

Dengan modal capaian periode 2022 - 2026, UTU memasuki fase baru di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Nyak Amir. Warisan utama Prof. Ishak Hasan bukan semata daftar penghargaan, melainkan fondasi kelembagaan yang lebih luas, tata kelola yang lebih tertata, dan arah kampus yang semakin jelas sebagai lokomotif pendidikan, riset, dan inovasi berbasis agro - marine di kawasan Barat Selatan Aceh.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes