DIALEKSIS.COM | Data - Illiza Sa’aduddin Djamal, yang akrab disapa Bunda Illiza, menjadi salah satu figur perempuan berpengaruh dalam dinamika politik Aceh modern. Kehadirannya tidak hanya dipandang sebagai simbol representasi gender, tetapi juga sebagai pemimpin yang konsisten menunjukkan kekuatan elektoral di berbagai arena politik.
Salah satu bukti nyata popularitas dan daya tarik pemilih Illiza tercermin dari pencapaiannya di kancah legislatif nasional. Hasil penelusuran dialeksis.com, Ia pernah menjabat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2019-2024 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh I.
Dalam Pemilu Legislatif 2024, Illiza meraih 111.389 suara, menjadikannya salah satu calon legislatif dengan suara signifikan di dapil tersebut. Meskipun pada akhirnya kursinya tidak berlanjut karena Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tidak lolos ambang batas parlemen nasional, perolehan suara pribadi ini tetap mencerminkan basis dukungan yang kuat di tingkat akar rumput.
Kekuatan elektoral itu kembali terlihat dalam Pemilihan Wali Kota Banda Aceh 2024, pasangan yang dipimpinnya bersama Afdhal Khalilullah memenangkan kontestasi dengan perolehan 44.982 suara atau sekitar 41,2 persen dari total suara sah. Kemenangan ini bukan hanya sekadar angka, tetapi bukti nyata bahwa Illiza memiliki basis dukungan yang luas di ibu kota Provinsi Aceh, termasuk dukungan lintas kelompok demografis, dari perempuan, profesional, hingga komunitas keagamaan dan pemilih tradisional.
Sebagai tokoh politik perempuan, Illiza mematahkan berbagai stereotip politik di Aceh, sebuah provinsi dengan tradisi politik yang kuat dan kompetitif. Keberhasilannya memperlihatkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai partisipan, tetapi juga mampu unggul secara elektoral dan memimpin pemerintahan. Capaian ini sekaligus membuka ruang representasi yang lebih luas bagi perempuan di ranah publik Aceh, dan mendorong model kepemimpinan yang inklusif.
Selain itu, latar belakang kultural dan sosial Illiza menambah kekuatan legitimasi politiknya. Ia merupakan cucu dari ulama dan berasal dari keluarga yang aktif di kancah politik dan organisasi masyarakat, sebuah modal sosial yang besar di tengah masyarakat Aceh yang religius dan menghormati nilai-nilai kepemimpinan tradisional. Pengaruh tokoh agama, baik secara simbolik maupun jaringan sosial, menjadi bagian dari daya tarik politik yang tidak mudah digantikan oleh figur lain. Hal ini juga selaras dengan nafas Demokrat sebagai Partai Nasionalis-Religius.
Hubungan Illiza dengan Partai Demokrat juga memiliki jejak historis. Chemistry politik antara Illiza dan Demokrat telah terbangun sejak ia mendampingi almarhum Mawardi Nurdin (mantan Ketua DPD Partai Demokrat Aceh) sebagai Wakil Wali Kota Banda Aceh periode 2007-2012, lalu terpilih kembali periode ke-2 tahun 2012-2017. Akhirnya Pak Mawardi meninggal dunia pada tahun 2014, dan Illiza melanjutkan memimpin Kota Banda Aceh.
Jejak historis ini menunjukkan bahwa Illiza tidak hanya memiliki basis elektoral sendiri, tetapi juga memahami kultur, jaringan, dan strategi partai Demokrat dari dalam. Bagi Demokrat, ini merupakan aset strategis untuk memperluas pangsa politik di Aceh, terutama di masa di mana partai memerlukan figur yang bisa menyatukan dukungan dan mendorong pemilih baru.
Dengan kombinasi legitimasi kultural, rekam jejak elektoral yang terukur, kedekatan historis dengan Demokrat, serta kapasitasnya sebagai pemimpin perempuan yang kredibel, Illiza Sa’aduddin Djamal berpotensi menjadi motor penggerak kebangkitan Partai Demokrat di Aceh, memperkuat basis, dan membuka peluang untuk kemenangan yang lebih luas di tingkat nasional maupun lokal. [red]