Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / BPS Catat Produksi Padi dan Jagung Aceh Turun Sepanjang 2025

BPS Catat Produksi Padi dan Jagung Aceh Turun Sepanjang 2025

Rabu, 04 Februari 2026 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Hamparan sawah di Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Produksi dua komoditas pangan utama di Aceh, padi dan jagung, mengalami penurunan sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat penyusutan terjadi baik pada luas panen maupun total produksi dibandingkan tahun sebelumnya.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Provinsi Aceh, Tasdik Ilhamudin, mengatakan data tersebut diperoleh dari hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) yang memantau kondisi pertanaman padi dan jagung secara berkala.

“Sepanjang Januari hingga Desember 2025, realisasi luas panen padi di Aceh mencapai 283,18 ribu hektare. Angka ini turun 18,01 ribu hektare atau 5,98 persen dibandingkan 2024,” kata Tasdik kepada media dialeksis.com, Rabu (4/2/2026).

Meski luas panen menyusut, pola musim panen tidak banyak berubah. Puncak panen padi tetap terjadi pada Maret, sama seperti tahun sebelumnya.

“Puncak panen padi 2025 masih terjadi pada Maret. Ini menunjukkan pola tanam utama petani relatif tetap, meski capaian luas panennya menurun,” ujarnya.

Penurunan luas panen berdampak langsung pada produksi. Sepanjang 2025, produksi padi di Aceh tercatat sekitar 1,62 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), turun 2,70 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 1,66 juta ton GKG.

Produksi tertinggi terjadi pada Maret 2025 sebesar 294,61 ribu ton GKG, sejalan dengan puncak panen. Sebaliknya, produksi terendah terjadi pada Juli, hanya sekitar 12,08 ribu ton GKG.

Tasdik menjelaskan, jika produksi padi tersebut dikonversi menjadi beras untuk konsumsi penduduk, total produksi beras Aceh sepanjang 2025 setara dengan 930,49 ribu ton.

“Jumlah itu turun sekitar 25,79 ribu ton dibandingkan produksi beras 2024. Produksi beras tertinggi juga terjadi pada Maret 2025, yakni 169,72 ribu ton, sedangkan terendah pada Juli hanya 6,96 ribu ton,” jelasnya.

Menurutnya, fluktuasi produksi bulanan sangat dipengaruhi pola musim tanam, ketersediaan air, serta kondisi cuaca selama masa pertumbuhan tanaman.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas jagung. BPS mencatat total luas panen jagung pipilan sepanjang 2025 mencapai 8,46 ribu hektare, turun 1,63 ribu hektare atau 16,20 persen dibandingkan 2024.

Menariknya, pola panen jagung mengalami pergeseran waktu. Jika pada 2024 puncak panen terjadi pada Januari, maka pada 2025 puncaknya bergeser ke pertengahan tahun.

“Pada 2025, puncak panen jagung terjadi pada Juni dengan luas panen sekitar 991 hektare. Namun angka ini tetap lebih rendah sekitar 318 hektare dibanding puncak panen Januari 2024,” kata Tasdik.

Dari sisi produksi, jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen sepanjang 2025 tercatat sebesar 63,23 ribu ton, turun 7,45 ribu ton atau 10,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Setelah dikonversi menjadi jagung pipilan kering kadar air 14 persen, produksi jagung Aceh pada 2025 mencapai sekitar 46,74 ribu ton, juga turun 10,54 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 52,25 ribu ton.

Tasdik menegaskan, penurunan produksi padi dan jagung ini perlu menjadi perhatian serius semua pihak, karena kedua komoditas tersebut merupakan tulang punggung ketahanan pangan daerah.

“Padi adalah sumber utama beras masyarakat, sementara jagung juga penting baik untuk konsumsi maupun pakan ternak. Karena itu, perkembangan luas panen dan produksi harus terus dipantau,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI