Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Jepang Resmi Kerahkan Rudal 1.000 Km, Bisa Jangkau China

Jepang Resmi Kerahkan Rudal 1.000 Km, Bisa Jangkau China

Selasa, 31 Maret 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Peluncur rudal darat-ke-kapal Tipe-12 ditampilkan di Kamp Kengun di prefektur Kumamoto, Jepang barat, pada 17 Maret 2026. [Foto: Kyodo News via AP]


DIALEKSIS.COM | Tokyo - Jepang resmi memasuki babak baru dalam kebijakan pertahanannya. Untuk pertama kalinya, negara tersebut mengerahkan rudal jarak jauh sebagai bagian dari strategi memperkuat kemampuan ofensif di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Pemerintah Jepang pada Selasa (31/3/2026) mengonfirmasi bahwa rudal darat-ke-kapal Tipe-12 versi terbaru telah mulai dioperasikan di Kamp Kengun, Prefektur Kumamoto. Sistem senjata ini dikembangkan oleh Mitsubishi Heavy Industries dan menjadi simbol peningkatan signifikan dalam kekuatan militer Jepang.

Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menegaskan bahwa pengerahan ini merupakan langkah penting di tengah situasi keamanan yang semakin kompleks sejak era pascaperang. Menurutnya, Jepang membutuhkan kemampuan yang lebih kuat untuk mencegah ancaman sekaligus merespons secara cepat jika terjadi eskalasi.

Rudal Tipe-12 yang telah ditingkatkan kini memiliki jangkauan hingga 1.000 kilometer, melonjak drastis dibandingkan versi sebelumnya yang hanya sekitar 200 kilometer. Dengan kemampuan ini, rudal tersebut berpotensi menjangkau wilayah daratan China, sesuatu yang sebelumnya berada di luar jangkauan sistem pertahanan Jepang.

Langkah ini menandai pergeseran besar dari prinsip pertahanan Jepang yang selama puluhan tahun berfokus pada pertahanan diri. Kini, Jepang mulai mengembangkan kemampuan “serangan balasan”, yakni kapasitas untuk menghantam pangkalan musuh dari jarak jauh sebagai bagian dari strategi pencegahan.

Namun, pengerahan tersebut tidak lepas dari penolakan. Sejumlah warga menggelar aksi protes di sekitar Kamp Kengun karena khawatir wilayah mereka menjadi target serangan jika konflik pecah.

Pada hari yang sama, Jepang juga mengerahkan kendaraan luncur hipersonik di Kamp Fuji, Prefektur Shizuoka. Sistem ini dirancang untuk memperkuat pertahanan pulau-pulau terpencil Jepang yang berada di garis depan potensi konflik regional.

Ke depan, Jepang berencana memperluas pengerahan sistem persenjataan ini ke berbagai wilayah, termasuk Hokkaido di utara dan Miyazaki di selatan, dengan target penyelesaian pada 2028.

Tidak hanya itu, Jepang juga akan menambah kekuatan dengan mengoperasikan rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat di kapal perusak JS Chokai mulai akhir tahun ini.

Langkah agresif ini tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran Tokyo terhadap aktivitas militer China di kawasan. Jepang menilai Beijing sebagai ancaman utama, terutama setelah terdeteksinya dua kapal induk China yang beroperasi bersamaan di dekat wilayah terpencil Jepang pada pertengahan tahun lalu.

Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi, pemerintah Jepang juga telah menyetujui anggaran pertahanan rekor lebih dari 9 triliun yen untuk tahun fiskal terbaru. Dana tersebut difokuskan untuk memperkuat kemampuan serangan balasan, termasuk pengembangan rudal jelajah dan sistem tanpa awak.

Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Tokyo menyatakan bahwa potensi aksi militer China terhadap Taiwan dapat memicu respons militer dari Jepang, memperjelas perubahan arah kebijakan keamanan negara tersebut yang kini semakin proaktif. [my/AP]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI