Selasa, 16 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Pasar Asia Menguat Usai AS-Iran Sepakat Akhiri Konflik, Harga Minyak Turun Tajam

Pasar Asia Menguat Usai AS-Iran Sepakat Akhiri Konflik, Harga Minyak Turun Tajam

Senin, 15 Juni 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Seorang pria berjalan di depan papan kutipan elektronik yang menampilkan harga saham Nikkei 225 di Bursa Saham Tokyo di Tokyo, Jepang, pada 15 Juni 2026 [Foto: Kazuhiro Nogi/AFP]


DIALEKSIS.COM | Dunia - Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik menguat pada perdagangan Senin (15/6/2026) setelah muncul kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 5,5%, sementara Kospi Korea Selatan menguat hingga 5,7%. Indeks Taiex Taiwan naik 2,7% dan ASX200 Australia bertambah sekitar 1,5%.

Di Hong Kong, Indeks Hang Seng sempat menguat sekitar 1% sebelum memangkas sebagian kenaikannya menjelang siang hari.

Sentimen positif juga terlihat di pasar Amerika Serikat. Kontrak berjangka yang terkait dengan indeks S&P 500 naik sekitar 1%, sedangkan kontrak Nasdaq Composite menguat 1,8%.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent turun sekitar 4,5% ke bawah US$ 83,40 per barel. Penurunan ini dipicu harapan bahwa pasokan energi global akan kembali normal setelah tercapainya kesepakatan.

Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, mengatakan pasar sebelumnya sudah merespons sinyal dari Presiden AS Donald Trump bahwa kesepakatan damai hampir tercapai. Namun, konfirmasi resmi membuat optimisme investor semakin menguat.

Menurutnya, turunnya harga minyak juga dapat mengurangi tekanan inflasi global dan memberi ruang bagi bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Kesepakatan tersebut juga dikabarkan membuka peluang normalisasi pelayaran di Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir terganggu akibat konflik. Gangguan di jalur pelayaran strategis itu sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia dan mendorong kenaikan harga minyak.

Meski demikian, sejumlah pelaku industri pelayaran menilai proses pemulihan distribusi energi dan logistik global tidak akan berlangsung cepat. Mereka memperkirakan diperlukan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari satu tahun untuk mengembalikan kondisi operasional ke tingkat normal. [Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI