Jum`at, 12 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Solar Sulit Didapat, Harga Bahan Pokok di Banda Aceh Naik

Solar Sulit Didapat, Harga Bahan Pokok di Banda Aceh Naik

Kamis, 11 Juni 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Suasana di Pasar Al-Mahirah, Lamdingin, Banda Aceh, Kamis, 11 Juni 2026. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada pergerakan harga sejumlah komoditas pokok di Kota Banda Aceh. 

Meski sebagian besar bahan pangan masih terpantau stabil, beberapa kebutuhan utama masyarakat seperti minyak goreng curah dan gula pasir mengalami kenaikan harga di pasar tradisional.

Pantauan di Pasar Al-Mahirah, Lamdingin, Banda Aceh, Kamis (11/6/2026), menunjukkan bahwa harga sejumlah komoditas pangan masih berada pada level yang relatif terkendali. 

Pada kelompok minyak goreng dan gula, minyak goreng curah dijual antara Rp18 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram, sedangkan minyak goreng kemasan premium sekitar Rp24 ribu per liter. Harga Minyakita berada di kisaran Rp17 ribu per liter, sementara gula pasir dijual sekitar Rp19 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

Kenaikan cukup terasa pada sejumlah bumbu dapur dan sayuran. Tomat kini mencapai Rp25 ribu per kilogram, naik tajam dari harga normal sekitar Rp12 ribu. Bawang merah dijual sekitar Rp44 ribu per kilogram, bawang putih Rp37 ribu per kilogram, cabai merah keriting Rp38 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram, dan cabai rawit merah sekitar Rp48 ribu per kilogram.

Untuk komoditas protein hewani, daging sapi murni dijual sekitar Rp158 ribu per kilogram, daging ayam ras Rp34 ribu per kilogram, dan telur ayam ras Rp27 ribu per kilogram, yang saat ini cenderung mengalami penurunan harga. Sementara itu, ikan tongkol berada di kisaran Rp41 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang di Pasar Al-Mahirah, Zainal, mengatakan kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari terganggunya distribusi barang yang dipengaruhi oleh kelangkaan solar di sejumlah daerah.

“Kalau untuk sebagian besar bahan pokok masih stabil, tidak ada kenaikan yang terlalu mencolok. Tapi minyak goreng dan gula pasir memang sudah naik. Salah satu penyebabnya karena distribusi barang tidak lancar, apalagi sekarang solar juga susah didapat,” kata Zainal saat ditemui di Pasar Al-Mahirah, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, para distributor dan pengangkut barang mulai menghadapi kendala operasional akibat sulitnya memperoleh solar. Kondisi tersebut secara tidak langsung berdampak pada biaya transportasi dan kelancaran pasokan barang ke pasar.

“Barang yang masuk ke pasar sebagian besar diangkut menggunakan kendaraan yang membutuhkan solar. Ketika solar langka, pengiriman jadi terlambat dan biaya angkut juga bisa bertambah. Itu yang kemudian berpengaruh pada harga jual,” ujarnya.

Meski demikian, Zainal menilai kondisi saat ini belum terlalu mengkhawatirkan karena kenaikan harga masih terjadi pada beberapa komoditas tertentu. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk memastikan distribusi BBM kembali normal agar tidak memicu kenaikan harga yang lebih luas.

“Kalau persoalan distribusi ini tidak cepat diatasi, dikhawatirkan nanti komoditas lain juga ikut naik. Saat ini masyarakat masih bisa membeli karena sebagian besar harga masih stabil, tapi tetap perlu diantisipasi,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, penurunan harga juga terjadi pada komoditas telur ayam. Harga telur tercatat lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya, sehingga sedikit membantu menjaga daya beli masyarakat yang tengah menghadapi tekanan kenaikan pada beberapa kebutuhan lainnya.

“Harapan kami tentu distribusi kembali lancar dan solar mudah didapat. Kalau pasokan aman, harga juga bisa tetap stabil sehingga pedagang dan pembeli sama-sama tidak dirugikan,” tutup Zainal. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI