DIALEKSIS.COM | Jakarta - Ribuan penumpang kapal pesiar dan awak kapal dilaporkan terdampar di kawasan Teluk setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu pembekuan aktivitas pelayaran di sejumlah jalur utama.
Organisasi Maritim Internasional atau International Maritime Organization (IMO), badan pelayaran di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyebut sekitar 20.000 pelaut dan 15.000 penumpang kapal pesiar terjebak di wilayah tersebut. Konflik yang meningkat membuat banyak perusahaan pelayaran menghentikan sementara perjalanan mereka.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menyatakan situasi tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi, tetapi juga menimbulkan persoalan kemanusiaan.
“Di luar dampak ekonomi dari serangan yang mengkhawatirkan ini, ini adalah masalah kemanusiaan. Tidak ada serangan terhadap pelaut yang tidak bersalah yang dapat dibenarkan,” kata Dominguez dalam keterangannya, Kamis, 5 Maret 2026. Ia juga meminta perusahaan pelayaran meningkatkan kewaspadaan ketika beroperasi di wilayah yang terdampak konflik.
Gangguan pelayaran ini menjadi bagian dari dampak luas perang di Timur Tengah yang juga memukul sektor pariwisata. Lembaga pemantau Global Forecasting memperkirakan jumlah kedatangan wisatawan ke kawasan itu pada 2026 dapat turun hingga sekitar seperempat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain wisatawan, awak kapal juga menghadapi risiko keselamatan. Pada Kamis, dua awak kapal asal India dilaporkan tewas setelah sebuah kapal tanker minyak berbendera Palau bernama Skylight diserang di Teluk Oman. Kedua korban diketahui bernama Ashish Kumar dan Dalip Singh.
Sejumlah kapal yang terdampak konflik diperkirakan akan melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang kini hampir sepenuhnya ditutup oleh Iran sejak perang dimulai. Sekitar 23.000 awak kapal India dilaporkan masih berada di sekitar kawasan tersebut.
Data lalu lintas maritim menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz turun tajam. Lalu lintas laut dilaporkan anjlok hingga sekitar 80 persen pada akhir pekan lalu, sementara transit kapal tanker minyak melalui selat tersebut turun sekitar 90 persen dibandingkan pekan sebelumnya.