Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Sekutu Teluk Cemas, Bayang-Bayang Perang AS-Iran Kian Nyata

Sekutu Teluk Cemas, Bayang-Bayang Perang AS-Iran Kian Nyata

Kamis, 26 Februari 2026 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi. Kapal paramiliter Iran di Selat Hormuz. Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto


DIALEKSIS.COM | Internasional - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian memuncak. Di tengah sinyal kuat persiapan militer Washington, negara-negara Arab sekutu AS justru dilanda kecemasan. Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer AS khawatir akan menjadi sasaran empuk jika konflik benar-benar meletus.

Laporan yang dikutip dari Responsible Statecraft menyebutkan sedikitnya 108 pesawat tanker udara berada di atau menuju wilayah Komando Pusat AS (CENTCOM) di Timur Tengah dan sekitarnya. Skala mobilisasi ini dinilai tidak lazim dan menunjukkan kemungkinan operasi militer yang bukan sekadar serangan terbatas.

Sejumlah analis menilai, bila serangan dilancarkan, operasi tersebut berpotensi berlangsung lebih lama dan lebih luas dibanding serangan sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran. Di sisi lain, tekanan politik domestik di Washington dinilai menyulitkan Presiden Donald Trump untuk mundur tanpa kehilangan muka.

Sejak Januari, Arab Saudi, Qatar, dan Oman bersama Turki serta Mesir dilaporkan aktif melakukan diplomasi guna mencegah Washington dan Teheran jatuh ke jurang perang terbuka.

Langkah ini bukan bentuk simpati terhadap Teheran, melainkan kalkulasi realistis. Negara-negara tersebut menyadari, jika perang pecah, mereka akan berada di garis depan serangan balasan Iran. Risiko bukan hanya serangan militer langsung, tetapi juga kekacauan regional yang sulit dikendalikan.

Serangan Iran pada Juni 2025 terhadap Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar meski tanpa korban jiwa masih membekas dalam ingatan para pemimpin Teluk. Iran telah berulang kali menegaskan bahwa pangkalan militer AS di kawasan adalah target sah dalam situasi perang.

Bagi negara-negara Teluk, ancaman bersifat multidimensi. Pertama, ancaman fisik terhadap infrastruktur vital, terutama fasilitas minyak. Serangan terhadap instalasi energi Arab Saudi pada 2019 menjadi bukti kemampuan Iran dalam melumpuhkan fasilitas strategis.

Kedua, risiko ekonomi. Negara-negara Teluk tengah gencar melakukan diversifikasi ekonomi dan menarik investasi global. Bayang-bayang perang regional akan membuat modal asing hengkang dan premi asuransi melonjak tajam.

Ketiga, potensi gangguan di Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran telah memberi sinyal bahwa opsi pemblokiran atau gangguan selektif terhadap kapal tanker tetap terbuka jika perang terjadi. Dampaknya, harga minyak global bisa melonjak dan memicu inflasi luas.

Bagi Irak, ancaman tidak kalah serius. Negara itu masih berupaya memulihkan stabilitas pasca invasi AS tahun 2003. Konflik AS-Iran di wilayahnya berpotensi memicu gejolak politik dan sosial baru, terutama jika kelompok-kelompok bersenjata pro-Teheran mengambil langkah konfrontatif terhadap pasukan Amerika.

Di saat yang sama, Teheran juga berkepentingan menjaga Irak tetap stabil sebagai mitra dagang dan jalur ekonomi penting di tengah tekanan internasional.

Ironisnya, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa serangan militer justru dapat mendorong Iran meninggalkan doktrin nuklir sipilnya dan mempertimbangkan opsi persenjataan. Jika itu terjadi, negara-negara Teluk terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—akan menghadapi dilema keamanan baru yang bisa memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman, secara terbuka dilaporkan menolak penggunaan wilayah udara Saudi untuk menyerang Iran. Sikap serupa disampaikan pejabat tinggi Uni Emirat Arab yang mendorong solusi diplomatik jangka panjang antara Washington dan Teheran.

Terlepas dari meningkatnya pengerahan militer, sekutu-sekutu AS di Teluk pada dasarnya tidak mendukung perang. Mereka justru aktif melobi agar ruang diplomasi diperluas sebelum situasi berubah menjadi konflik terbuka yang sulit dikendalikan.

Para pemimpin kawasan menilai, keruntuhan negara di Iran akan membawa dampak yang jauh lebih dahsyat dibanding konflik di Irak, Suriah, atau Yaman baik dalam bentuk migrasi massal, radikalisme, maupun ketidakstabilan berkepanjangan.

Di tengah situasi yang kian tegang, pilihan antara diplomasi atau konfrontasi kini berada di tangan Washington dan Teheran. Bagi negara-negara Teluk, satu hal yang pasti: perang bukanlah opsi yang mereka harapkan, melainkan skenario terburuk yang berusaha keras mereka cegah.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI