Rabu, 02 September 2026
Beranda / Ekonomi / Ekspor Aceh Tumbuh 36,97 Persen, Surplus Perdagangan Justru Menyusut

Ekspor Aceh Tumbuh 36,97 Persen, Surplus Perdagangan Justru Menyusut

Rabu, 02 September 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Ilustrasi perdagangan ekspor komoditi di pelabuhan. Foto: Kontan/Fransiskus Simbolon


DIALEKSIS.COM | Aceh - Nilai ekspor komoditas asal Aceh mencapai US$84,04 juta pada Juli 2026. Meski turun tipis 1,49 persen dibandingkan Juni 2026 yang tercatat US$85,31 juta, nilai ekspor tersebut tumbuh 36,97 persen jika dibandingkan dengan Juli 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan bahan bakar mineral menjadi kelompok komoditas ekspor terbesar pada Juli 2026 dengan nilai US$53,18 juta atau 63,29 persen dari keseluruhan ekspor Aceh.

“Ekspor kelompok tersebut didominasi komoditas batu bara yang menjadi salah satu penyumbang utama nilai perdagangan Aceh,” ujar Agus saat menyampaikan rilis bulanan di Kantor BPS Aceh, Banda Aceh, Selasa (1/9/2026).

Dilihat berdasarkan sektor, pertambangan menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai US$53,24 juta. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kinerja perdagangan luar negeri Aceh masih sangat bergantung pada komoditas tambang, terutama batu bara.

India tetap menjadi pasar utama produk asal Aceh. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$63,05 juta atau sekitar 75,02 persen dari total ekspor Aceh. Komoditas yang dikirim antara lain batu bara, minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), serta berbagai produk kimia.

Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan nilai ekspor US$10,18 juta, terutama berupa kopi dan rempah-rempah. Thailand menempati urutan ketiga dengan nilai US$3,13 juta melalui komoditas batu bara, olahan daging dan ikan, serta kopi dan rempah-rempah.


Ekspor Naik, Impor Tumbuh Lebih Cepat

Kenaikan ekspor secara tahunan belum mampu memperlebar surplus perdagangan Aceh. Pasalnya, nilai impor pada Juli 2026 melonjak 214,46 persen dibandingkan Juni 2026, dari US$26,04 juta menjadi US$81,89 juta.

Jika dibandingkan dengan Juli 2025, impor Aceh juga meningkat sekitar 56,82 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, nilai impor tercatat US$52,22 juta.

Impor Aceh pada Juli 2026 didominasi bahan bakar mineral berupa gas propana dan butana senilai US$56,88 juta atau sekitar 69,46 persen dari total impor. Selanjutnya terdapat pupuk senilai US$14,62 juta, mesin atau pesawat mekanik US$6,78 juta, serta bahan kimia anorganik US$3,60 juta.

Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$56,88 juta, disusul Rusia sebesar US$11,63 juta dan Tiongkok US$9,77 juta. Impor dari Rusia terutama berupa pupuk, sedangkan dari Tiongkok berupa mesin atau pesawat mekanik dan pupuk.

Dengan nilai ekspor US$84,04 juta dan impor US$81,89 juta, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Juli 2026 masih mencatat surplus US$2,15 juta. Namun, surplus tersebut menyusut sekitar 96,4 persen dibandingkan Juni 2026 yang mencapai US$59,27 juta.


Surplus Turun Dibandingkan Tahun Lalu

Jika dibandingkan secara tahunan, penyusutan surplus perdagangan Aceh terlihat semakin jelas. Pada Juli 2025, ekspor Aceh tercatat US$61,35 juta dan impor US$52,22 juta sehingga menghasilkan surplus US$9,14 juta.

Dengan demikian, meskipun ekspor Juli 2026 bertambah US$22,69 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kenaikan impor mencapai US$29,67 juta. Kondisi tersebut membuat surplus perdagangan Aceh menyusut sekitar 76,5 persen secara tahunan.

Pada Juli 2025, ekspor Aceh juga telah didominasi batu bara dengan nilai US$39,20 juta. India ketika itu menjadi negara tujuan utama dengan nilai US$44,40 juta. Sementara impor terbesar berupa gas senilai US$48,68 juta yang terutama berasal dari Qatar dan Amerika Serikat.

Perbandingan tersebut menunjukkan nilai ekspor batu bara dan pengiriman barang ke India terus meningkat. Namun, struktur perdagangan Aceh belum banyak berubah karena tetap terkonsentrasi pada satu komoditas utama dan satu negara tujuan.

Dari sisi pelabuhan, komoditas asal Aceh yang diekspor melalui pelabuhan di wilayah provinsi ini mencapai US$68,31 juta atau 81,29 persen dari total ekspor. Sisanya, sekitar US$15,73 juta, dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain, terutama Sumatera Utara.

Nilai ekspor melalui pelabuhan Aceh meningkat dibandingkan Juli 2025 yang mencapai US$52,14 juta. Namun, proporsinya terhadap keseluruhan ekspor menurun dari 84,99 persen menjadi 81,29 persen.

Data perdagangan dalam tiga bulan terakhir turut memperlihatkan tingginya fluktuasi neraca perdagangan Aceh. Pada Mei 2026, Aceh mengalami defisit US$51,92 juta setelah impor mencapai US$104,80 juta. Kondisi tersebut berbalik menjadi surplus US$59,27 juta pada Juni, sebelum kembali menyusut menjadi US$2,15 juta pada Juli 2026.

Sebagai perbandingan nasional, ekspor Indonesia pada Juli 2026 tumbuh 6,05 persen secara tahunan, sedangkan impor meningkat 27,02 persen. Secara persentase, pertumbuhan ekspor dan impor Aceh lebih tinggi dibandingkan capaian nasional pada periode yang sama.

Perkembangan tersebut memperlihatkan perdagangan luar negeri Aceh tetap mampu mempertahankan surplus. Namun, lonjakan impor serta besarnya ketergantungan pada batu bara dan pasar India menjadi catatan penting bagi upaya memperkuat dan mendiversifikasi ekspor Aceh pada masa mendatang. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub