Rabu, 02 September 2026
Beranda / Pemerintahan / Dari Bantuan Modal hingga Pemulihan Trauma, Kementerian Ekraf Gerakkan Aceh Pascabencana

Dari Bantuan Modal hingga Pemulihan Trauma, Kementerian Ekraf Gerakkan Aceh Pascabencana

Rabu, 02 September 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Foto: Humas Kemenekraf


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemulihan Aceh setelah bencana hidrometeorologi tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah, jalan, jembatan, dan fasilitas publik. Di balik kerusakan fisik, terdapat usaha masyarakat yang terhenti, pasar yang melemah, kreativitas yang kehilangan ruang, serta anak-anak yang menyimpan trauma akibat bencana.

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) mengambil peran pada sisi tersebut. Sejak fase tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi, kementerian menjalankan rangkaian program yang menyentuh kebutuhan ekonomi sekaligus pemulihan psikososial masyarakat.

Bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak 18 November 2025 berdampak terhadap 18 kabupaten/kota di Aceh. Berdasarkan laporan Posko Tanggap Darurat per 3 Desember 2025, sekitar 1,59 juta jiwa terdampak, sementara ratusan orang dilaporkan meninggal dunia dan hilang. Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak terberat.

Kementerian Ekraf mulai bergerak sejak fase darurat melalui program Ekraf Peduli. Bantuan makanan dan pakaian disalurkan kepada masyarakat terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Aceh, bantuan antara lain menyasar Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Tamiang.

Solidaritas juga dibangun dengan melibatkan pelaku industri kreatif. Kementerian Ekraf memfasilitasi dua konser amal bertajuk “100 Musisi Heal Sumatera” pada 7 dan 16 Desember 2025. Konser kedua mencatat pengumpulan donasi mencapai Rp17,09 miliar untuk membantu masyarakat terdampak bencana di tiga provinsi di Sumatera.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pelaku ekonomi kreatif tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat. Musisi, seniman, komunitas, dan pekerja kreatif dihimpun menjadi kekuatan solidaritas untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Pada 30 Januari 2026, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau sejumlah lokasi terdampak di Aceh Tamiang. Rombongan mendatangi SMP Negeri 1 Karang Baru, RSUD Muda Sedia, posko pengungsian, serta hunian sementara modular.

Kunjungan itu tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Kementerian Ekraf yang tergabung dalam Satuan Tugas Pascabencana Bidang Pemulihan Ekonomi bersama Kementerian UMKM menyusun program pemulihan selama enam bulan.

Program tersebut mencakup Sinema Rakyat, permainan edukatif, pelatihan konten digital, literasi bisnis, pendampingan pembiayaan, hingga fasilitasi akses Kredit Usaha Rakyat.

Pendekatan itu kemudian diterjemahkan menjadi program yang lebih menyentuh kebutuhan pelaku usaha. Pada 6 Maret 2026, Kementerian Ekraf bersama Bank Syariah Indonesia menggelar literasi bisnis bagi 50 pelaku ekonomi kreatif di Aceh Tamiang.

Peserta dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan, manajemen usaha, akses pasar, pendampingan, dan pembiayaan. Dalam kegiatan tersebut turut disalurkan bantuan modal usaha senilai total Rp125 juta serta paket kebutuhan pokok kepada para peserta.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Aceh Tamiang, Muhammad Farij, menyebut Kementerian Ekraf telah memberikan perhatian sejak sebelum dan setelah bencana. Dukungan tersebut antara lain berupa peralatan bagi pelaku kuliner, pendampingan, motivasi, dan bantuan permodalan.

Pendampingan kembali diperkuat pada 27 Agustus 2026. Sebanyak 50 pelaku ekonomi kreatif mengikuti kegiatan literasi bisnis lanjutan dan memperoleh bantuan modal usaha dengan nilai keseluruhan Rp50 juta.

BSI juga menawarkan skema keringanan pembiayaan bagi pelaku usaha terdampak. Tingkat imbal hasil ditetapkan nol persen hingga Desember 2026, kemudian tiga persen sepanjang 2027, sebelum kembali pada ketentuan normal pada tahun berikutnya.

“Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali infrastruktur, tetapi juga menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Teuku Riefky.

Intervensi berupa modal, relaksasi pembiayaan, dan literasi bisnis menjadi penting karena banyak pelaku usaha kehilangan peralatan, bahan baku, tempat produksi, serta pelanggan. Bantuan tunai menjadi stimulus awal, sementara pendampingan dibutuhkan agar usaha yang kembali berjalan mampu bertahan dalam jangka panjang.


Warga Menjadi Pencerita

Pemulihan juga menyasar fotografer, videografer, dan kreator konten lokal melalui program “Cerita Pulih: Pelatihan Fotografi dan Storytelling”. Kegiatan yang berlangsung di Karang Baru, Aceh Tamiang, pada 27 Agustus 2026 itu diikuti 70 peserta.

Mereka mendapatkan pelatihan fotografi, penulisan naratif, dan storytelling, termasuk cara memasarkan karya melalui platform fotografi stok, media sosial, dan kanal digital.

Karya peserta selanjutnya dihimpun menjadi buku dokumentasi proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh Tamiang. Dokumentasi tersebut tidak hanya menjadi arsip perjalanan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi kreator lokal.

Direktur Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekraf, Iman Santosa, menekankan bahwa masyarakat terdampak harus mendapat posisi penting dalam mendokumentasikan proses kebangkitan daerahnya.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya menjadi objek dari sebuah cerita. Kami ingin masyarakat menjadi pencerita, pencipta, dan pelaku utama dari proses pemulihan itu sendiri,” ujarnya.

Program tersebut memperlihatkan dimensi lain pemulihan. Pengalaman menghadapi bencana tidak hanya disimpan sebagai trauma, tetapi dapat diolah menjadi pengetahuan, dokumentasi, karya kreatif, dan peluang pendapatan.


Lumpur Bencana Menjadi Karya Seni

Perhatian Kementerian Ekraf tidak hanya tertuju pada pemulihan usaha dan peningkatan kapasitas para kreator. Kondisi psikososial anak-anak yang menghadapi pengalaman traumatis akibat banjir bandang turut menjadi sasaran program.

Melalui Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekraf menggelar program pemulihan trauma berbasis seni rupa bertajuk “Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Asosiasi dan Anak-Anak” di Aceh Tamiang pada 27“29 Agustus 2026.

Program intensif selama tiga hari itu melibatkan 100 anak terdampak bencana, terdiri atas 50 siswa sekolah dasar dan 50 siswa sekolah menengah pertama. Mereka didampingi mentor profesional, seniman lokal, dan psikolog klinis.

Direktur Kuliner Kementerian Ekraf, Romi Astuti, yang hadir mewakili Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, mengatakan pembangunan kembali infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pemulihan jiwa anak-anak.

“Setelah bencana, yang perlu dipulihkan bukan hanya bangunan, tetapi juga jiwa dan senyum anak-anak kita,” kata Romi.

Menurutnya, seni menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan ketakutan, harapan, dan mimpi yang mungkin sulit mereka sampaikan melalui percakapan biasa.

Selama kegiatan, para peserta diajak menghasilkan karya bertema “Bangkit” dan “Harapan Baru”. Tema itu dipilih untuk membantu anak-anak mengenali emosi, membangun kembali rasa percaya diri, serta menumbuhkan optimisme setelah menghadapi bencana.

Hal menarik dalam kegiatan tersebut adalah penggunaan pigmen alami yang berasal dari lumpur dan debu sisa bencana sebagai medium melukis. Material yang sebelumnya menjadi penanda kehancuran diolah menjadi warna dan karya seni.

Pendekatan tersebut menjadi simbol perubahan pengalaman traumatis menjadi kekuatan untuk bangkit. Lumpur dan debu tidak lagi hanya mengingatkan anak-anak pada banjir bandang, tetapi menjadi bagian dari proses melahirkan karya, harapan, dan cerita baru.

Kegiatan ini menerapkan metode observe, connect, invite, guide, dan reflect yang dikembangkan Kids Biennale Indonesia. Metode tersebut tidak menjadikan keindahan hasil lukisan sebagai tujuan utama, tetapi lebih menekankan proses anak dalam mengamati, berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, dan merefleksikan pengalamannya.

Pendiri Kids Biennale Indonesia, Agatha Anggira Paramita Putri atau Gie Sanjaya, mengatakan seni digunakan sebagai jembatan untuk membantu pemulihan jiwa anak-anak.

“Fokus utama kami adalah pada proses dan pengalaman anak, bukan sekadar hasil akhir,” ujar Gie.

Kementerian Ekraf juga melibatkan psikolog klinis Yulfa Islaini untuk melakukan asesmen psikologis terhadap peserta. Anak-anak dibekali teknik sederhana untuk mengenali dan mengatur emosi ketika merasa cemas atau kembali teringat pada bencana.

Hasil asesmen akan disusun menjadi laporan yang dapat digunakan sebagai panduan pemulihan lanjutan bagi orang tua dan guru. Dengan demikian, pendampingan tidak berhenti setelah kegiatan melukis, tetapi dapat diteruskan di lingkungan keluarga dan sekolah.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang, Yusriati, mengapresiasi intervensi psikososial tersebut. Menurutnya, kegiatan itu bukan sekadar pelatihan melukis, melainkan upaya menumbuhkan optimisme dan melatih ketangguhan anak-anak pascabencana.

Karya yang dihasilkan peserta juga tidak berhenti sebagai koleksi kegiatan. Sejumlah lukisan akan dikurasi dan dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif, seperti art print, tas, dan cenderamata.

Karya anak-anak turut dirangkai menjadi instalasi umbul-umbul kolektif yang direncanakan dipamerkan di Aceh Tamiang sebelum dibawa ke pameran tingkat nasional di Jakarta.

Program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam.

Kegiatan pada Agustus menjadi kelanjutan program “Melukis Bersama Anak Terdampak Bencana” yang sebelumnya digelar Kementerian Ekraf di Aceh Tamiang pada 7 Mei 2026. Program tahap awal itu diikuti 50 pelajar SD dan SMP dengan mengusung tema “Harapan Baru”.

Keberlanjutan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan psikososial anak tidak dilakukan melalui satu kegiatan. Prosesnya dibangun secara bertahap dengan melibatkan pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas seni, mentor, dan tenaga profesional.


Disiapkan hingga 2028

Komitmen pemulihan juga dimasukkan dalam perencanaan anggaran jangka menengah. Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Teuku Riefky menyebut pagu rehabilitasi dan rekonstruksi Kementerian Ekraf untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai Rp77,5 miliar pada 2026.

Anggarannya direncanakan meningkat menjadi Rp88,4 miliar pada 2027 dan Rp132,7 miliar pada 2028. Dana tersebut tidak dikhususkan seluruhnya untuk Aceh, tetapi dibagi untuk program pemulihan di tiga provinsi terdampak.

Programnya diarahkan pada penguatan kriya, batik lokal, sulam, anyaman, desain kemasan, kuliner, menjahit, seni, konten digital, dan kewirausahaan.

Rangkaian tersebut menggambarkan model pemulihan yang lebih menyeluruh. Kementerian Ekraf bergerak mulai dari membangun solidaritas pada masa darurat, memberikan stimulus modal, membuka keringanan pembiayaan, meningkatkan kemampuan pelaku usaha, memperkuat kapasitas kreator, hingga membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak.

Tantangan selanjutnya adalah memastikan pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan. Dampak program perlu diukur melalui jumlah usaha yang kembali berproduksi, peningkatan pendapatan, perluasan pasar, lapangan kerja yang dipertahankan, serta perkembangan psikososial anak-anak.

Dengan pendampingan berkelanjutan, ekonomi kreatif dapat menjadi jembatan dari fase bertahan menuju kemandirian. Pemulihan Aceh pun tidak hanya ditandai dengan berdirinya kembali bangunan yang rusak, tetapi juga oleh hidupnya usaha, kreativitas, keberanian, dan harapan masyarakat.

Dari tangan anak-anak Aceh Tamiang, lumpur sisa bencana bahkan telah berubah menjadi warna, karya, dan simbol masa depan yang baru. [•]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub