Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Mentan Amran Tegaskan Harga Daging dan Ayam Harus di Bawah HET

Mentan Amran Tegaskan Harga Daging dan Ayam Harus di Bawah HET

Kamis, 05 Maret 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan stok daging sapi, ayam, dan telur dalam kondisi aman serta meminta penindakan terhadap pihak yang menahan pasokan sehingga memicu kenaikan harga. [Foto: dok. Kementan]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan stok daging sapi, ayam, dan telur dalam kondisi aman serta meminta penindakan terhadap pihak yang menahan pasokan sehingga memicu kenaikan harga.

Penegasan tersebut disampaikan Mentan Amran menyusul laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait masih ditemukannya kenaikan harga.

Mentan Amran mengatakan, berdasarkan hasil pengecekan, tidak ada kendala pasokan dari sisi Kementerian Pertanian. Seluruh rekomendasi pemasukan sapi dan daging telah diterbitkan sejak Desember atas arahannya langsung, sehingga tidak ada alasan bagi harga untuk melonjak.

“Rekomendasi sudah keluar semua. Di Kementerian Pertanian tanpa embel-embel, itu perintah saya sejak Desember. Kebutuhan sapi dan daging sapi sudah kita penuhi dan stok aman,” ujarnya pada Rabu (4/3/2026) di Kantor Bapanas Jakarta.

Ia mengungkapkan, indikasi kenaikan harga justru ditemukan di tingkat perantara di mana pasokan diduga tertahan. “Semua harus mengeluarkan dagingnya, jangan sampai naik. Begitu kita cek, ini di middleman yang tidak benar,” kata Amran. 

Ia meminta Satgas Pangan, Ditkrimsus, hingga jajaran Kepolisian di seluruh Indonesia untuk melakukan pengawasan dan penindakan tegas apabila ditemukan praktik penahanan stok atau permainan harga, termasuk penyegelan apabila terbukti melanggar ketentuan.

Pemerintah juga menargetkan seluruh komoditas strategis tetap berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), dengan memastikan pasokan dari hulu mengalir lancar ke pasar dan tidak ada ruang bagi spekulasi yang dapat merugikan masyarakat. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI